Mempertanyakan Kepemilikan Tubuh Perempuan

Tulisan ini merupakan tulisan saya yang telah diposting di web Jurnal Perempuan pada tanggal 30 November 2010.

http://www.jurnalperempuan.com/index.php/jpo/comments/mempertanyakan_kepemilikan_tubuh_perempuan/

Indonesia dirundung duka. Tidak hanya duka masyarakat atas kejadian alam yang baru saja terjadi, tetapi juga duka terhadap “malapetaka” atas matinya logika berpikir dalam masyarakat. Pernyataan demi pernyataan dari pemerintah sebagai reaksi atas isu perempuan ibarat letupan lahar “moral” yang membakar “hak warga negara” perempuan. Dimulai dari usulan tes keperawanan untuk siswa sekolah di Jambi hingga hasil survei keperawanan terhadap remaja di Jakarta. Beberapa isu yang justru keluar dari “mulut” instansi pemerintah tersebut mengalami penjelasan sebab-akibat yang tidak logis. Pada akhirnya bukan data yang dihadirkan melainkan asumsi sebagai pembenaran sepihak.

Keterkaitan antara isu keperawanan dengan moralitas bangsa justru semakin membenarkan kepemilikan atas tubuh perempuan. Standar nilai dalam kehidupan sehari-hari muncul tanpa alur logis yang berdasar pada kemanusiaan yang setara.Seakan-akan ayat-ayat dalam UUD’45 serta pasal-pasal dalam Pancasila tidak dibuat untuk perempuan Indonesia. Mereka diangkat, dimuliakan dalam konteks kepemilikan dan harus dilindungi—bagaikan barang berharga. Atas nama perlindungan itulahmaka setiap pernyataan yang muncul atas asumsi “kebobrokan” moralitas dibebankan pada tubuh perempuan.

Legalitas atas beban moral untuk perempuan ditunjukkan melalui publikasi BKKBN mengenai “keperawanan” remaja putri di Jakarta dan beberapa kota lain di Indonesia. Publikasi hasil survei ini merupakan bagian penelitian penyebab penyebaran virus HIV/AIDS. Mereka hanya melakukan survei pada 100 remaja putri di Jakarta dan kemudian melakukan analisa universal untuk satu wilayah. 51 remaja putri yang teridentifikasi tidak perawan lagi tidak dapat mewakili kondisi seluruh remaja putri di Jakarta. Pada dasarnya survei yang telah dilakukan oleh BKKBN tidak efektif untuk memetakan penyebab terjadinya penyebaran virus HIV/AIDS.Bagaimana mungkin kita dapat menyatakan data tersebut sebagai data valid bahwa seks bebas—melalui indikator nonlogis yakni ketidakperawanan—merupakan kontributor penyebaran virus HIV?

Pemerintah pada dasarnya tidak memiliki hak untuk membuat pernyataan berdasarkan asumsi nilai atas tubuh perempuan. Survei-survei seperti yang dilakukan oleh BKKBN justru semakin memperkuat pertanyaan mengenai siapa pemilik atas tubuh perempuan. Nilai atas perawan atau tidak perawan pada akhirnya menjadi sebuah status tidak resmi—yang tidak tertulis dalam KTP—untuk perempuan. Status tak tertulis inilah yang justru mendahului segala identitas lain bagi perempuan untuk beraktivitas dengan “normal” dalam masyarkat. Identitas perempuan termaknai sebelum adanya pilihan dan tindakan.

Kelahiran individu berasal dari rahim perempuan. Selama janin masih berada di dalam rahim, maka ia adalah kesatuan bersama sang ibu. Persoalan identitas baru muncul saat ia dilahirkan. Individu tidak hanya sekali dilahirkan. Administrasi kependudukan mencabut hak kodrati individu dan melempar mereka ke rahim sosial yang normatif. Pada detik itulah identitas individu telah ditetapkan. Julia Kristeva (1941— ) seorang filsuf feminis kelahiran Bulgaria yang telah menetap di Prancis menamakan kondisi ini sebagai kondisi terlemparnya perempuan kembali ke ruang tersembunyi (dari masyarakat). Keterbungkaman perempuan tidak disebabkan ketiadaan daya dari si perempuan, melainkan ketiadaan akses bagi ruang publik untuk memahami suara si perempuan. Ini adalah implikasi dari tercerabutnya hak perempuan dalam ruang publik.

Kondisi yang terjadi di Indonesia yang berkaitan dengan kebertubuhan perempuan pada beberapa saat ini semakin menegaskan bahwa pada dasarnya perempuan hanyalah aksen atas identitas patriarkal. Keterbatasan akses pengetahuan yang dimiliki oleh tiap instansi pemerintah justru memanfaatkan alasan “kambing hitam”. Bahwa tiap bencana alam muncul karena moralitas yang bobrok, bahwa moral yang bobrok datang karena tubuh perempuan tidak dijaga, sehingga pada akhirnya perempuanlah yang harus menanggung beban atas standar moral bangsa. Seandainya keterbatasan akses pengetahuan tersebut ditanggulangi dengan menggunakan rasionalitas akal yang kritis, tentu alasan moral tidak akan muncul sebagai alur sebab-akibat dalam satu kejadian. Sayangnya, logika tidak berbanding lurus ini menjadi tren yang digulirkan oleh para aparat pemerintah.

Pertanyaan atas kepemilikan tubuh perempuan tidak perlu terlontar seandainya pemerintah tidak mengakomodir setiap kegiatan dan pernyataan yang justru bias terhadap perempuan. Kembali kepada hak dasar sebagai manusia, bahwa tubuh perempuan sejak awal adalah milik perempuan itu sendiri, tidak ada seorang pun yang berhak mengatasnamakan dirinya sebagai pemilik tubuh orang lain—termasuk pada perempuan. Upaya untuk mengembalikan tubuh perempuan agar dapat ia miliki sendiri tidak akan dapat dilakukan sepihak. Keterbatasan akses yang dimiliki perempuan hanya dapat dibuka melalui jaminan kebijakan negara agar publik mendengarkan perbedaan yang disuarakan perempuan.

Bila kita menggunakan pola pikir patriarkal dalam melihat persoalan tubuh perempuan, kita akan kembali pada konsep “identitas” yang telah dilabelkan sejak perempuan dilahirkan melalui rahim sosial. Persoalan keperawanan hanyalah pembenaran atas harga tubuh perempuan. Ketika negara menutup akses bagi pola pikir yang dominan terhadap tubuh perempuan, kita tidak perlu lagi terjebak pada konsep perawan atau tidak perawan. Jembatan atas akses suara perempuan otomatis menghentikan keterlemparan kedua seorang individu pada rahim sosial. Pembentukan identitas berawal dari lahirnya lewat rahim kodrati dan berproses selama hidup.

Sehingga akhirnya akan ada suara yang terlontar dengan tegas: “Perempuan berkuasa atas tubuhnya sendiri tanpa kendali siapapun.”

*Penulis adalah Koordinator Riset Yayasan Jurnal Perempuan*

Leave a comment

No comments yet.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s