Catatan 4 Tahun Komunitas Ungu

Selamat Ulang Tahun Komunitas Ungu

25 November yang lalu Komunitas Ungu merayakan ulang tahunnya yang ke-4. Bila disamakan dengan usia manusia, maka usia 4 tahun ini adalah fase balita yang masih membutuhkan peranan orang tua dalam membantu proses belajarnya. Jacques Lacan, seorang filsuf psikoanalisa dari Prancis bahkan mengkategorikan usia 4 tahun dalam fase cermin yang masih menirukan gerakan idola—dalam hal ini ibunya. Berangkat dari pemahaman sederhana semacam ini maka dapat dimaklumi apabila Komunitas Ungu masih dalam tahapan pencarian untuk menguatkan pondasi dalam lingkungan kampus.

Berbagai macam tantangan yang telah dihadapi Komunitas Ungu dalam 4 tahun terakhir ini. Entah dari luar seperti institusi besar kampus yang kurang berkenan terhadap kehadiran komunitas “liar” yang tidak tercatat secara administratif, hingga problem personal Komunitas Ungu yang mulai kehilangan jejak generasi lanjutnya. Jujur saja justru lebih sulit menyelesaikan problem di dalam karena satu per satu personil yang ada mulai aktif di luar kampus dan melupakan satu hal: mewariskan kepada generasi selanjutnya perjuangan yang telah ditanamkan sejak 25 November 2006.

Cermin dalam fase perkembangan Komunitas Ungu terkubur dalam ide masing-masing pionir 4 tahun kebelakang. Para penerus seakan kehilangan pijakan dan kemudian ikut terdiam bersama dengan aktivitas lain. Ibarat fase keterbungkaman perempuan, Komunitas Ungu dihadapkan pada posisi sulit karena ketiadaan fase yang sempurna sebagai individu. Menurut saya, inilah persoalan berat yang dihadapi komunitas-komunitas pengusung ide perubahan. Bagaimana upaya bertahan di tengah masyarakat yang telah nyaman dalam pola pikir diskriminatif.

Persoalan ini mengingatkan saya pada persoalan yang sensitif mengenai isu perempuan. Satu isu perempuan tidak dapat diletakkan dalam pijakan tersendiri, karena ia ibarat jaring yang terkait satu sama lain membutuhkan solusi yang saling terkait pula. Perjuangan feminisme merupakan perjuangan intersubjektif yang menjadi pondasi solidaritas terutama dalam perang melawan ide dominasi patriarki. Satu komunitas menjadi pion kecil untuk berpijak di satu lingkungan. Komunitas-komunitas tersebut pada akhirnya juga tidak dapat mengacuhkan keberadaan yang lain dalam upaya penguatan pondasi perjuangan. Perbedaan ideologi satu dengan yang lain dapat dijadikan pemicu diskursus yang memperkaya pengetahuan. Ini bukan perjuangan eksklusif. Ini perjuangan milik semua.

Usia 4 tahun untuk Komunitas Ungu kemudian bagi saya menjadi berbeda dengan usia balita. Pengalaman yang telah dialami menjadi rangkaian pengetahuan yang kuat untuk terus berjuang terutama dalam kampus yang semakin lama semakin terbuai dengan politik narsis ala anggota DPR. Isu tidak lagi menjadi fokus perjuangan, hanya sebagai tempelan mencari suara. Komunitas Ungu saat ini ditantang untuk dapat menjadi pengganggu yang terus mempertahankan kekayaan manusia: akal kritis. Kesetaraan bukanlah impian utopis saat kita kembali menggunakan logika dasar kemanusiaan. Pada saat kita dapat bergerak bersama dalam penggunaan logika kesetaraan, maka kita dapat menghayati arti keberagaman bukan untuk dibeda-bedakan. Dan inilah yang telah saya pahami selama 4 tahun bergerak bersama Komunitas Ungu.

Semoga usia 4 tahun ini kembali menjadi moment untuk bergerak kembali dalam upaya membagi ide-ide kesetaraan. Saya mengharapkan para penerus yang tertidur dapat bangkit kembali dan menjadikan Komunitas Ungu sebagai pengganggu kenyamanan tatanan pola pikir, terutama di lingkungan kampus. Ibarat kupu-kupu, maka setahun belakangan ini Komunitas Ungu sedang kembali pada kepompongnya, menyiapkan diri untuk bermetamorfosis. Setahun itu sudah cukup untuk menguatkan sayap yang pernah melemah. Sudah saatnya kita kepakkan ide bersamaan dan menghasilkan badai sebagai perlawanan terhadap dominasi patriarkal.

Salut Komunitas Ungu!

25 November 2010

Leave a comment

No comments yet.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s