Terjebak di “Akademi Goa” Plato

Plato nampaknya sedang mempermainkanku. Ia membiarkan para pemujanya menculik dan merantaiku kembali dalam goa hipokrit yang mereka bangun untuknya. Mereka adalah sekelompok orang pemuja api. Padahal aku telah berhasil melarikan diri keluar dari goa tersebut. Aku sudah sempat terbebas dari rasa takut terhadap gelap di dalam goa. Lucunya, dulu Platolah yang mendorongku untuk membebaskan diri, tetapi kenapa sekarang ia yang membuatku terjebak dalam situasi ini lagi? Keisengan Plato sudah keterlaluan. Ia harus bertanggungjawab atas hal ini.

Aku berteriak di dalam goa, “Plato!” Aku menuntut penjelasan darinya. Muncul bayangan dari balik api, akhirnya ia datang juga. Ternyata aku salah, Plato nampaknya sedang asyik mencicipi wine di luar goa. Seseorang yang mengaku sebagai muridnyalah yang datang menghampiriku. Aku membenci orang ini sebelum aku mendengar penjelasannya. Ia adalah bagian dari hipokrit yang ingin kubunuh. Ia menyeretku ke tengah kerumunan murid-murid Plato yang lain. Mereka menyidangku, memerkosaku, mencabik-cabik tubuhku, menginjak kepalaku, menghancurkan pemikiranku! Kutukan Prometheus berpindah padaku, aku tercabik tapi tubuhku menyatu kembali untuk dicabik lagi, lagi, dan lagi. Mereka tenggelam dalam keriaan pembunuhan diriku.

Cuih! Aku meludahi mereka. “Matikan saja eksistensi diriku……”

Mereka tertawa bahkan sebelum aku menyelesaikan kalimatku. “Kematian hanya akan memudahkanmu lepas dari goa ini. Kamu harus belajar menjadi bagian kami karena kamu lahir di sini. Darahmu adalah bagian dari kami…” dan mereka membumbuinya dengan tawa serta siksaan.

“Tidak! Aku bukan bagian dari kalian. Berani sekali kalian menyamakanku dengan kebodohan kalian? Kalian percaya bahwa terang itu datang alami? Itu hanya percikan api! Lebih baik aku berteman dengan kematian daripada menjadi bagian dari kemunafikan kalian!

Mereka tetap dengan tawa yang mengganggu, “sudah kami katakan padamu berulang kali, kematian hanya akan memudahkanmu. Kami membutuhkan tubuhmu dan karena itulah jiwamu harus dibersihkan.”

Semakin kuat usahaku melarikan diri, semakin kuat pula rantai tersebut mengikatku. Aku bagaikan dimata-matai lewat derit rantai yang kuseret. Aku benar-benar merindukan ketulusan oksigen di luar goa. Aku muak dengan terang yang diagungkan oleh para manusia goa. Mereka menyebut diri mereka “pahlawan terang” karena api yang mereka ciptakan. Cih, terang! Itu hanya kamuflase dari tumpukan kayu yang dibakar. Setiap percikan mengatakan kemanusiaan, kesetaraan, dan kebebasan! Namun, perih abunya menyadarkan bahwa itu hanya omong kosong belaka!

Aku telah menyaksikan keindahan atas kebebasan dan kesetaraan yang hadir di luar goa. Ya, di luar goa! Kelompok luar goa tidak pernah mencabik-cabikku dan memaksaku menerima definisi “terang”. Mereka membiarkanku merasakan sendiri terang tersebut. Tidak ada rantai yang mengikatku. Aku bebas memilih identitasku. Tidak seperti di sini. Semua kejadian ini tidak akan terjadi bila keisengan Plato tidak kumat. Semua ini tidak akan terjadi bila segala bentuk pemujaan yang berlebihan tersebut tidak membuatnya mabuk kepayang.

Aku masih menuntut penjelasan Plato. Sebelum hari terulang lagi dan mereka kembali mencabik-cabik tubuhku atas nama “kebenaran”. Kali ini tidak akan ada Herakles yang menyelamatkanku. Kadang aku berharap ini hanya replika goa yang diciptakan Plato untuk menunjukkanku kenyataan “terang” yang dipercaya manusia goa. Kadang aku berharap para murid di akademia goa ini akan mendengarkanku dan membebaskanku. Kadang aku berharap rantai ini terlepas sendiri sehingga aku dapat melarikan diri. Kadang aku berharap akan ada harapan-harapan lain yang muncul dan menghiburku di saat penyiksaan itu mereka lakukan. Di tengah-tengah penyiksaan dan harapan tersebut, yang dapat kulakukan adalah memaksa kesadaranku¬† bertahan agar tidak ada celah untuk mereka mencuci jiwa dan pemikiranku.

Nampaknya Plato memang sedang memainkan keyakinanku atas terang. Biarlah. Bila aku berhasil keluar dari goa ini, aku akan melemparnya dengan bara dari api unggun di dalam goa dan tertawa. “Lupakan saja Plato segala omong kosongmu! Simpan saja untuk manusia-manusia goa yang memujamu. Yang kubutuhkan bukan “kepalsuan terang” yang hadir dari pemujaan berlebihan. Kalau memang terang itu ada, biar kucari sendiri tanpa bantuanmu. Tapi sampai terang itu kutemukan, biarkan kunikmati gelap ini tanpa kepalsuan terang.”

Leave a comment

No comments yet.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s