Semiotika Melankolia Marja

Novel karya Ayu Utami yang berjudul Manjali dan Cakrabirawa (2010) merupakan roman misteri dalam seri novel Bilangan Fu. Kompleksitas kisah dalam Bilangan Fu melibatkan kisah Marja Manjali bersama kedua pemuda yang saling bersahabat, Sandi Yuda dan Parang Jati. Sejarah kelam Indonesia, unsur spiritualitas, dan rasionalitas melebur dalam romantisme penuh misteri. Kisah pada Bilangan Fu (2008) menyisakan tanya atas relasi makna ketiganya dan berlanjut lewat kesederhanaan kisah Manjali dan Cakrabirawa. Namun, kesederhanaan tersebut justru menciptakan multi-makna, yang muncul dari balik bayang-bayang kisah berupa kumpulan kebetulan. Kisah Manjali dan Cakrabirawa menunjukkan bahwa setiap kebetulan adalah garis interpretasi bagi penanda-penanda dalam ruang kata Ayu Utami.

Ketika kita mulai membuka lembaran awal Rahasia—bagian pertama dalam novel—, ada keintiman rahasia yang dihadirkan oleh tokoh perempuannya, Marja. Tatapan matanya dengan Parang Jati menyiratkan sebuah hasrat yang tidak dapat tersampaikan. Relasi persahabatan antara Marja dan Yuda (sebagai sepasang kekasih) dengan Parang Jati menutupi pemaknaan pertemuan mata tersebut. Konflik dalam diri Marja berkecamuk karena ia sendiri pada akhirnya terjebak dalam ketidakmengertian atas perasaan yang ia alami. Marja terhenti pada status melankolia yang membawanya pada petualangan memaknai namanya, Manjali.

Persoalan melankolia dalam budaya patriarkal seringkali menjebak perempuan pada kondisi tidak berdaya dan depresi. Depresi ini oleh Julia Kristeva[1] (1941— ) dikatakan sebagai penghambat keluarnya perempuan dari kebungkaman bahasa (Kristeva 1989: 12). Apabila terus dibiarkan, maka perempuan dalam kondisi melankolia akan merasa bahwa kesedihan adalah “takdir” yang harus dialami perempuan. Pergeseran rasa sedih menuju depresi inilah yang mematikan pemaknaan perempuan. Mereka menjadi subordinat yang tidak diperhatikan. Kondisi Marja memungkinkannya berada dalam kondisi acuh—sebagai konsekuensi melankolis—tetapi Marja memiliki penopang-penopang pemaknaan yang terus mengganggu kesadarannya.

Semiotik melankolia Marja membutuhkan kolektivitas tanda yang beragam. Keberadaan tokoh-tokoh lain dalam novel menentukan garis intertekstualitas[2] Marja. Marja adalah tanda cair yang bergerak mengumpulkan tanda lain berdasarkan pengalaman pengetahuannya. Tanpa keterkaitan tanda pengetahuan, maka Marja hanya akan menjadi titik yang tidak bergerak dan terbelenggu secara melankolis. Inilah kekuatan bahasa feminin Ayu, yang menghadirkan konflik ambigu Marja dalam usaha menemukan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan, bukan sebagai kepasrahan, melainkan sebagai bagian dari proses pembebasan kesadaran.

Tanda I: Kebetulan

“Anda percaya ada kebetulan di dunia ini, mademoiselle?” (hal.17)

Jacques Cherer, seorang arkeolog Prancis, memulai dengan sebuah pertanyaan untuk Marja. “Kebetulan” merupakan alasan mudah untuk menjelaskan segala kejadian yang ada tanpa perlu membatasi pola pikir seseorang. Secara tidak langsung Jacques telah melemparkan pertanyaan yang akan menguji garis pemikiran tiap tokoh, apakah ia akan berangkat dari keyakinan atas mitos hidupnya atau justru mempertanyakan dalam ruang rasionalitas.

Marja adalah titik keluguan yang tergugah atas pertanyaan “kebetulan” ini. Parang Jati memberi petunjuk awal dalam pencarian Marja, “Jika itu terjadi (kebetulan yang terjadi terlalu banyak), seorang ilmuwan akan mencari pola-pola. Dan seorang beriman akan mencari rencana Tuhan.” (hal. 19). Ciri khas oposisi biner tampak dalam jawaban Parang Jati. Ia seakan-akan telah memisahkan hanya pada dua kategori: ilmuwan atau orang beriman. Persoalannya adalah apakah kemudian Marja berhenti dan menerima pemaknaan tersebut, atau bergerak menemukan jawabannya sendiri.

Tanda yang hadir dalam kehidupan Marja sebenarnya adalah rangkaian kisah yang terjadi begitu saja tanpa ia ketahui sebelumnya. Apabila Marja belum mendapatkan pertanyaan dari Jacques, maka mata Marja akan melihatnya sebagai serangkaian kejadian biasa. Namun, ketika makna “kebetulan” tersebut melebur dalam kesadaran Marja, ia kemudian mencoba mengaitkan setiap kejadian yang ia lihat sebagai bagian dari pencarian jawaban. Seperti ketika terjadi perampokan artefak setelah serah terima dengan pegawai dinas kepurbakalaan, sebelum kejadian itu diketahui Marja dan Parang Jati. Sepanjang perjalanan pulang Marja melihat sebuah sepeda motor yang ngebut dan juga mobil yang diam karena bannya berada di cerukan. Pada saat ia melihat dua kejadian tersebut, ia belum berprasangka apapun, karena konteks tanda yang hadir masih samar. Kedua tanda tersebut berubah makna setelah mereka mengetahui perampokan tersebut dan juga setelah Yuda membuka rahasia “kejahatan” yang ia lakukan bersama Musa Wanara.

Tiap kisah dalam novel ini adalah “kebetulan” yang memerlukan penopang makna sehingga tidak sekadar potongan-potongan kisah belaka. Marja dan tanda atas kebetulan ini merupakan proses awal yang terkuak dalam tabir narasi Ayu. Marja tidak membiarkan dirinya pasrah pada kondisi kesadaran yang dihadirkan begitu saja. Ia menelusuri jejak kejadian yang telah ia alami untuk dimaknai ulang. “Kebetulan” adalah pemicu terhadap usaha interteks yang dilakukan oleh Marja. Ayu kemudian memainkan kondisi psikologis Marja yang penuh tanya sekaligus penuh penerimaan untuk keluar dari stereotip pasrah yang biasanya terlekat pada perempuan.

Tanda II: Ambiguitas Marja

Pembebasan kognitif sejalan dengan pembebasan hasrat. Ketika Marja di tanda I telah menemukan pemicu interteksnya, maka perjalanan kedua adalah memaknai ulang ambiguitas yang tampak pada dirinya. Ayu Utami seringkali menempatkan tokoh perempuannya pada konflik keraguan. Ambiguitas penokohan perempuan ini merupakan bagian dari bentuk bahasa feminin Ayu. Dalam pemahaman patriarkal, perempuan distereotipkan sebagai individu yang pasrah. Simone de Beauvoir (1908—1986) menggambarkan kondisi pasrah ini sebagai bentuk ambigu pada perempuan. Dalam The Second Sex (1989) ia menegaskan konsep ambigu[3] sebagai konsekuensi feminin—pasrah (11). Pada dasarnya perempuan memiliki keinginan sendiri tetapi harus memunafikkan keinginan tersebut berdasarkan gambaran masyarakat. Perempuan kemudian “bertopeng” untuk menutupi hasrat hidupnya.

Ayu memainkan konsep tersebut dalam karya-karyanya termasuk dalam penokohan Marja. Ia meramu kelemahan yang hadir dalam stereotip perempuan sebagai satu kekuatan baru. Tokoh utama perempuan tidak harus selalu digambarkan sebagai seorang pahlawan super yang bisa segalanya. Penokohan model tersebut biasa ditemui dalam karya-karya bernafaskan patriarki. Ayu menggunakan bahasanya sendiri dan menjadikan sifat yang biasanya dianggap lemah sebagai kekuatan baru.

Marja adalah seorang gadis berusia sembilan belas tahun yang penuh dengan pencarian makna hidup. Ia adalah subjek sekaligus objek dalam kisah ini. Berbeda dengan penempatan objek pada pola pikir patriarkal, Marja justru merupakan subjek paradoks yang menyadari keinginannya sebagai objek. Satu sisi ia ingin diakui sebagai subjek mandiri, tetapi di sisi lain ia menikmati perlindungan dari tokoh-tokoh lelaki yang mengelilinginya. Marja akan terkesan sebagai tokoh perempuan yang plin-plan apabila kita melepaskan keseluruhan kisah dan tokoh yang ada dalam novel ini. Pemaknaan semiotis yang telah ditegaskan secara interteks justru memberikan nafas berbeda pada Marja.

Marja menikmati keterbungkaman hasrat yang ia rasakan pada Parang Jati. Walaupun ia selalu membandingkan antara Yuda dan Parang Jati, ia mengetahui bahwa setiap sifat bukanlah kemutlakan hal yang baik ataupun hal yang buruk. Proses ambiguitas Marja telah terdekonstruksi. Ia bukanlah perempuan plin-plan yang hanya menurut atas keputusan yang diberikan kepadanya. Marja adalah perempuan yang menunda pemaknaan sekaligus membiarkan tanda-tanda mengalir meresapi pemahamannya. Ambiguitas semacam ini masih sulit dipahami terutama dalam usaha membebaskan hasrat perempuan. Perempuan harus lepas dari belenggu pemaknaan patriarkal dan menyelam dalam lautan pengalamannya sendiri.

Mantra Manjali

Usaha interpretasi tanda akan menghasilkan sebuah makna baru dalam pemahaman kita. Satu buah nama akan memiliki makna berbeda apabila kita menempatkan atau mengucapkannya di tempat yang berbeda. Manjali adalah nama yang tidak bermakna apabila kita tidak menilik sejarah dibalik nama tersebut. Ragam perspektif yang hadir justru menjadi tantangan dalam novel ini. Marja merasakan getaran hasrat yang tidak terdefinisikan semenjak ia mengetahui kesamaan nama belakangnya dengan nama anak Calwanarang, Ratna Manjali.

Marja tiba-tiba terikat dengan segala cerita di balik pencarian situs arkeologi Calwanarang. Kehadiran Jacques pada mulanya dihadirkan sebagai tokoh yang akan menjadi penguat ikatan-ikatan antar tanda yang hadir di ketiga tokoh utama. Namun, seiring pembacaan yang menyeluruh, dapat kita lihat bahwa kehadiran Marjalah yang menentukan pemaknaan atas teka-teki Mantra Bhairawa Cakra. Tanpa Marja, Bu Murni hanyalah seorang nenek pengangkut kayu bakar, yang bersembunyi di tengah hutan tanpa diketahui kisahnya. Bu Murni hanya akan menjadi hantu Banaspati yang meneror kenyamanan atas sejarah kelam.

Proses pemaknaan Marja berkembang, ia tidak hanya gadis polos yang mendengarkan. Ia telah menjadi subjek penuh konflik diri. Marja yang pada mulanya berjarak dengan nama Cakrabirawa telah memiliki interteks makna sehingga ia berani membagi pengetahuannya pada salah seorang pekerja salon yang mengasosiasikan “cakrabirawa” dengan ”cakep banget”. Ia meneruskan interteks atas makna cakrabirawa yang terkait dengan sejarah militerisme, tetapi tetap memberikan jarak mengingat si pekerja salon tentu tidak memerlukan penyampaian penuh. Marja telah menjelma menjadi subjek yang bebas menikmati hasratnya sekaligus menikmati penundaan atas hasratnya. Ia pun berhasil meramu jawaban atas pertanyaan Jacques “Jika kebetulan terjadi terlalu banyak, artinya masing-masing kita memiliki peran.” (hal. 247).

Terbebas bukan berarti selalu identik dengan berontak (tindakan), melainkan memaksimalkan pemikiran dalam diri sehingga perempuan memahami hasrat yang ia inginkan dalam hidup. Itulah yang telah digambarkan oleh Ayu lewat tokoh Marja. Kemisteriusan perempuan yang pada mulanya identik dengan ketidakjelasan sebagai manusia terdekonstruksi. Identitas yang stabil tidak lagi menjadi pahlawan dalam narasi, justru misteri akan membuka ruang pemaknaan. Marja adalah misteri itu sendiri. Ia telah menciptakan mantranya yang memberikan kekuatan atas kepemilikan subjektifnya. Ibarat Yin-Yang, Marja adalah kesederhanaan sekaligus kerumitan itu sendiri. Ia menjadi nafas yang keluar perlahan atas kepuasan sekaligus tercekat karena misteri yang hadir dalam penundaan, di dalam hasrat pemaknaan.

Daftar Acuan:

De Beauvoir, Simone. (1989). The Second Sex. New York: Vintage.

Kristeva, Julia. (1980). Desire in Language, penerj. Thomas Gora, Alice Jardine, dan Leon S. Roudiez (ed.). New York: Columbia University Press.

____________. (1989). Black Sun: Depression and Melancholia, penerj. Leon S. Roudiez. New York: Columbia University Press.

Utami, Ayu. (2010). Manjali dan Cakrabirawa. Jakarta: KPG.


[1] Julia Kristeva (1941— ) adalah seorang filsuf Perancis kelahiran Bulgaria yang mengembangkan konsep semiotik dalam sebuah revolusi pemaknaan bahasa puitis perempuan. Pemikirannya memperkaya pengetahuan feminisme terutama dalam feminisme postmodern dan psikoanalisa.

[2] Intertekstualitas adalah pertemuan banyak teks yang terkait dengan dimensi ruang dan waktu dalam usaha interpretasi semiotis (Kristeva 1980: 44).

[3] Konsep ambiguitas ini awalnya tercetus dalam karya de Beauvoir yang berjudul The Ethics of Ambiguity yang diterbitkan pada tahun 1946. The Second Sex sendiri muncul pada tahun 1949.

 

[Telah dipresentasikan dalam Musyawarah Buku Festival Salihara ketiga 2010 (kerjasama Komunitas Salihara dengan Kepustakaan Populer Gramedia-KPG) – diskusi novel “Manjali dan Cakrabirawa” karya Ayu Utami pada tanggal 24 September 2010.]

2 Comments

  1. saya tertarik membahasa marja dalam paper feminis saya, menurut kamu, ide feminis paling dominan apa yang terasa kentara sekali dalam novel ini,
    oh yaa, salam kenal sebelumnya yaa.
    :))

    • Hai, salam kenal.. wah, perspektif saya lebih pada etika ambiguitas dari Simone de Beauvoir. Bahwa ada kompleksitas tokoh yang menampilkan sifat yang paradoks. Sifat ini sih muncul karena masih ada pola pikir patriarkal yang mengakar dalam tradisi kehidupan sehari-hari, sekaligus ide mengenai pembongkaran tradisi pengekangan tersebut. Jadi sifat yang selama ini dianggap sebagai “kelemahan” justru dimainkan untuk menjadi “kekuatan”. Ada dekonstruksi stereotip dalam penggambaran tokohnya…🙂


Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s