Surat Imajiner Kartini untuk Kristeva

Dear Julia Kristeva,

Bagaimana kabar Paris? Apakah tetap diwarnai kerlap-kerlip lampu yang meromantisir suasana malam hari? Tentu menyenangkan sekali bisa berjalan-jalan memandangi menara Eiffel sambil memikirkan banyak pemikiran filosofis. Aku teringat cerita kawan kita De Beauvoir yang selalu membuatku iri pada suasana café di sepanjang sungai Seine. Segelas wine dan pembicaraan mengenai filsafat yang revolusioner. Aku hanya dapat membayangkan lewat surat-surat kalian. Betapa indahnya bila di Jakarta pun terbangun suasana yang seromantis Paris.

Kabarku sendiri kurang baik saat ini. Aku terkena imbas penyakit epistemik yang sedang melanda banyak kaum pemikir di Indonesia. Memang belum sampai menyerang pemikiranku, tetapi saat ini aku mengalami gangguan psikologis dari virus tersebut. Virus ini melebihi AIDS, karena aku sudah keliling ke berbagai dokter dan terapis, tetapi mereka menyerah. Kata mereka, penyakitku ini sudah akut. Mungkin kamu bingung, penyakit apa sih ini? Kamu sudah pernah memprediksinya. Ketika ruang perempuan berbenturan dengan aturan patriarkal, maka logika yang bermain adalah logika spermatikon. Efeknya, arogansi semata. Para pemikir yang terjangkit sudah menyakiti pemikiran mereka dengan batasan struktural yang menutup diri dari perubahan. Dan inilah akibatnya, aku melemah karena terus disuntikkan virus-virus kemunafikan tersebut.

Aku sebenarnya mulai merasa takut kehilangan otentisitas diriku. Aku terabjeksi karena virus pemikiran tersebut. Alasanku menuliskan surat ini sesegera mungkin, supaya kamu segera mengirimkan bantuan pemikiran yang menyembuhkan gangguan ini. Aku teringat bentuk revolusi yang kau tawarkan dulu. Bagaimana kita membentuk jaringan kuat untuk keluar dari ruang tahanan patriarkal lewat pemberontakan dari dalam diri kita sendiri. Aku sepakat denganmu, bahwa penyelesaian dari dalam akan menjadi kunci bagi perubahan di luar diri.

Aku kecewa dengan kondisi saat ini di Indonesia. Kuperhatikan sudah terlalu banyak orang mengaku sebagai pejuang dan pemikir. Tetapi hanya sebatas label! Itulah gejala-gejala awal dari penyakit ini. Dimulai dari menamakan diri, dan kemudian melupakan yang lain. Seringkali aku melamun dan menggerutu, “revolusi terlupakan, revolusi terlupakan, revolusi terlupakan…”. Setiap malam terulang lewat mimpi buruk yang kemudian mengurangi kualitas serta kuantitas tidurku. Julia, sudah terlalu banyak lobang dalam perjuangan ini.

Para perempuan berlomba-lomba mengklaim diri mereka sebagai pemikir dan aktivis tanpa mengingat lagi dasar perjuangan yang ada. Setiap perayaan mengatasnamakan hari perempuan selalu diwarnai euforia semata, dan kembali lagi, terlupakan setelahnya. Mereka lupa bahwa hari perempuan, hari anti kekerasan terhadap perempuan, hari ibu, dan hari-hari lainnya muncul atas dasar memori kolektif yang kelam. Itulah perjuangan sahabatku! Aku menangisi kepergian makna dari revolusi perempuan. Saat ini, perjuangan telah didominasi “atas nama vagina!”, tetapi dengan aroma ejakulasi sperma. Ideologiku tergoyahkan.

Ribuan sinyal S.O.S telah kukirimkan, tetapi rasanya tetap aku tidak didengarkan. Aku adalah satu dari beberapa perempuan yang menyadari ada lobang yang digali, dan ingin kembali pada akar perjuangannya. Aku ingin mengingatkan bahwa jatuhnya ribuan korban atas perjuangan di awal, harus dibayar dengan sebuah revolusi pemikiran perempuan. Berbeda dengan revolusi yang selalu menuntut darah, aku terinspirasi pemaknaan ruang semiotikmu, bahwa revolusi perempuan tidak meminta darah. Yang dibutuhkan dalam revolusi ini adalah pemberontakan ruang bagi perempuan untuk berpikir, menulis, dan bertindak!

Semua harus berdasarkan keseharian pengalaman perempuan karena perbedaan pengalaman tersebutlah yang menjadi kekuatan dalam melawan ide kekuasaan patriarkal. Aku yakin, bila kondisi hanya berdasarkan nama ini terus berlanjut, maka perjuangan kita pun hanyalah atribut semata yang akan semakin dirancukan oleh jaring laba-laba patriarkal. Mengerikan sekali kan Julia? Dan seakan-akan apa yang pernah kita perbincangkan mengenai waktu bagi perempuan berpikir revolusioner dan penuh pemaknaan menjadi sia-sia. Dibunuh secara keji oleh arogansi tersebut. Dan aku tidak menginginkan kondisi ini. Aku hanya ingin menemukan vaksin bagi virus penyakit arogansi epistemik ini, agar satu sama lain kembali terbuka untuk kembali melawan musuh yang sama.

Aku hanya berpatokan kembali pada ajakanmu untuk membagi pemaknaan masing-masing lewat tulisan. Teman kita, Cixous selalu mengkritikku, “tulislah! Jangan hanya kau bicarakan. Siapa yang akan mendengar? Tintamu adalah senjatamu!” Rasanya aku malu pernah terpuruk dalam gelap yang berkepanjangan. Semangatmu dan kawan-kawan di Paris lainnya menjadi lentera untuk pendaran penaku. Saat ini aku berharap kamu mau membantuku mengumpulkan benang-benang pemikiran yang ada, untuk menjerat dan membunuh laba-laba patriarkal. Intertekstualitas katamu, ribuan kepakan kupu-kupu kataku. Kepakan dashyat yang akan menyalurkan ribuan hasrat perjuangan revolusi perempuan. Kamu pun akan setuju, bahwa revolusi ini tidak hanya milik vagina, ini adalah milik manusia!

Sahabatku Julia, betapa aku mencintai tinta ini. Rasanya aku sudah mendapatkan formulasi awal vaksin tersebut, lewat tinta. Tinta ini akan membunuh segala arogansi yang menjalar bagai kanker dalam sistem pemikiran kita, Tinta ini akan menyebarkan penguat pemikiran, karena telah tergabung berbagai pemaknaan dari individu lain. Aku harap tintaku ini menjadi pemicu tinta-tinta lain untuk mencintai revolusi tanpa darah. Hanya kebebasan menuliskan tubuh, menuliskan diri, menghancurkan menara gading patriarki.

Terimakasih sahabatku, atas ide-ide revolusionermu. Revolusi dari dalam diri ini tentu akan menggelitik lingkungan kita, sebelum kita menghantam dengan ribuan tinta penuh cinta akan kesetaraan. Mungkin lampu di jakarta tidak seromantis paris malam hari, tetapi aku percaya, pendaran tinta pemikiran dan pemaknaan kita akan menerangi gelap yang ingin menyelimuti kita. Jarak terlewati, waktu kita lampaui demi penantian akan revolusi!

Julia, sampaikan salamku untuk Paris,
Salut,

Kartini

Leave a comment

No comments yet.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s