Rahasiaku dengan Dewi Bumi

Aku kisahkan ulang untukmu, tentang panas yang pernah melekat pada diri, yang menghancurkan setiap benda yang kupegang, menjadikannya abu karena dendam.

Sekujur tubuh tak diperkenankan mengenal dingin, hanya ada api, yang menghanguskan setiap pijakan, membutakan lewat tatapan,
menyisakan asap.

Tubuhku merindukan dingin,
“panas telah merajai diri” teriaknya.
Aku ingin sekali memanjakan tubuhku dengan segala cara, tetapi sepertinya gunung es pun akan meleleh ketika kupegang.
Perlahan tubuhku mulai menolak panas dan jiwaku menangis, “aku tak mau menguap”.
Maka kudoakan pada yang mulia Dewi bumi, berharap ia pinjamkan angin di malam hari untuk mendinginkan tubuhku.

“Pembebasanmu bukan lewat anginku, Sayang”, Ia menyerah.
“Kamulah yang harus berani membunuh panas itu. Kau tidak lagi memiliki tubuh itu, dan lihat efeknya! Panaslah reaksi yang muncul!”

Dalam keputus-asaan dan keinginan untuk terlepas dari panas, kulukai dengan kasar tubuh penuh api ini- laharnya mengalir deras-membanjiri diriku yang terkulai lemas.

[panas perlahan menghilang – gelap menjelang – aku kehilangan kesadaran]

“Bangunlah, kau telah terbebaskan.” Suara lembut Dewi Bumi membangunkanku, kurasakan lembut pelukan yang Ia berikan. Aku menyatu dengan setiap lekukannya -tanpa batas. Ia menuntunku dan meniupkan angin kehidupan untuk jiwaku.

Aku mulai berkelana dalam gelap, antusiasme ini mendominasi, “aku bebas”.
Satu detik aku adalah ranting pepohonan, detik berikut aku adalah ombak yang berlompatan di lautan.

Aku tidak tampak lagi sebagai wujud yang mutlak. Akulah yang menciptakan setiap bentuk yang kuinginkan. Dan indahnya, tidak ada lagi panas.

Dewi Bumi membiarkanku menikmati nyanyian yang kuciptakan untuknya, aku melebur bersama mereka, waktu bukan lagi batasan, aku menari hingga tak lagi terlihat.

“Cukup”
dan Dewi Bumi pun menarikku, “kamu telah melupakan tubuhmu. Tidakkah kamu lihat bahwa jiwamu merindu sebuah rumah. Akan kubentangkan semesta dan kamu bebas memilih tempat untuk jiwamu.”

Aku teringat akan tubuh yang kutinggalkan penuh luka. Betapa cemburunya dia kutinggalkan sendiri, tidak merasakan indahnya kebebasanku ini.
Maka kupilih kembali wujudku yang lama.
Tanpa panas syaratnya.

“Sulit untuk kupenuhi permintaanmu kali ini. Panas itu tidak akan lepas dari kehidupanmu.”

Aku mulai ragu.

Dewi Bumi mulai tersenyum, “tetapi kujanjikan kali ini, panas itu tidak akan melekat dengan tubuhmu, ia hanya akan mengikuti gerakmu karena nyanyianmulah yang membebaskanmu”

***

Aku kisahkan ulang untukmu, tentang panas yang pernah melekat pada diri, agar kelak kau mengerti mengenai arti luka yang terlanjur membekas pada nadi.

[20042009]

Leave a comment

No comments yet.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s