Warna-Warni Jakarta

Ketika kita mendengar kata Jakarta, maka yang terlintas pertama adalah sebagai ibukota Indonesia. Kota metropolis yang sangat padat penduduknya ini merupakan kota yang tidak pernah beristirahat dan sarat akan pengharapan. Bagi banyak penduduk daerah, Jakarta adalah “kota impian”. Kota yang penuh dengan tawaran perbaikan kehidupan yang selalu diceritakan dari mulut ke mulut. Proses rekruitmen penduduk Jakarta memang mirip dengan cara kerja MLM. Satu datang, bertahan hidup, memiliki penghasilan lebih – dibandingkan dengan penghasilan di daerahnya, pulang ke kampungnya dengan cerita yang dibumbui secara berlebihan, dan kemudian mengajak orang lain untuk pergi bersamanya, “menantang ibu kota”.

Pola rekruitmen ini tidak hanya dialami oleh beberapa daerah tertentu, melainkan telah menjadi bagian dari “Mimpi Indonesia”, sehingga banyak penduduk daerah yang merasa tantangan hidup baru akan mereka rasakan apabila mereka berhasil bertahan hidup di Jakarta. Mereka yang bertahan kemudian mengembangkan klan keluarga mereka dan menjadikan Jakarta sebagai tempat tinggal utama mereka. Bahkan banyak dari penduduk tersebut yang tidak pernah tahu kota asal orangtua mereka, karena mereka lahir di Jakarta. Asal-usul hanya menjadi cerita turun temurun, yang ada hanya asal sekolah atau komunitas. Suku asal orangtua bisa saja tetap tertempel sebagai sebuah identitas. Namun, kecenderungan identitas yang menonjol justru menunjukkan asal mereka tinggal, sekolah, ataupun komunitas tempat mereka ‘bergaul’. Pertanyaan seperti, “anak mana lo?” merupakan pertanyaan khas terhadap identitas mereka. Maka lihatlah, Jakarta telah menciptakan suku-suku baru khas kota urban.

Pertemuan antar ‘suku’ di Jakarta dapat dibilang cukup unik. Di antara gedung-gedung tinggi yang membelah langit, kafe-kafe yang menjamur di setiap sudut kota, mal-mal yang menjadi satu-satunya hiburan khas kota besar, taman-taman kota yang tertata indah, hingga pelataran jalan dapat menjadi tempat interaksi antar warga ‘sesuku’ ataupun antar ‘suku’. Situasi semacam ini menunjukkan bahwa dalam kehidupan masa kini, yang dibutuhkan bukan lagi sebuah kesamaan, melainkan penonjolan keunikan yang akan mewarnai lingkungan. Bayangkan saja apabila satu daerah – contoh Jakarta – diseragamkan baik secara tradisi maupun pola pikirnya. Tentunya akan menimbulkan sebuah masalah, ketika konsep seragam itu ‘disepakati’ oleh forum mayoritas. Lalu dimana letak suara minoritas? Padahal pengalaman setiap individu tentu akan berbeda satu sama lain. Belum tentu mereka yang besar di daerah A mampu menerima pola hidup di daerah B, demikian pula sebaliknya. Ketika daerah B disepakati sebagai patokan hidup masyarakat, warga daerah A akan merasa terdiskriminasi. Maka satu-satunya pola hidup yang cocok dilakukan di daerah yang multi-‘suku’ adalah pola hidup yang menghargai perbedaan.

Belajar Memadukan Warna

Bukanlah hal yang mudah untuk memulai menerima perbedaan sebagai salah satu landasan penghargaan terhadap individu lain. Menerima orang yang sama dengan diri kita merupakan perkara lain yang sangat mudah diterima. Sebenarnya, menjadi bagian dari masyarakat multi-‘suku’ ini merupakan hal yang susah-susah gampang. Problem awal adalah menghilangkan dulu ego ‘maunya menerima yang sama dengan diri kita’. Kita harus menggunakan logika terbalik untuk melihat posisi kita terhadap orang lain. Bayangkan bila orang lainlah yang mencoba menerima perbedaan kita, apakah kita mau menghilangkan kekhasan yang ada dalam diri? Setelah ego tersebut dihilangkan, maka keunikan-keunikan setiap orang atau kelompok akan tampak sebagai warna-warna baru yang meramaikan sebuah lukisan masyarakat.

Ketika lukisan dalam benak kita sudah diwarnai berbagai macam warna, problem berikutnya adalah menjadikan setiap warna ini harmonis agar lukisan yang dihasilkan indah untuk dinikmati. Pertanyaan yang muncul kemudian, apakah kita hanya boleh memilih warna-warna yang cocok satu sama lain? Lalu bagaimana dengan keberadaan warna lain? Apabila kita hanya memilih warna-warna yang cocok satu sama lain, tentu melanggar kesepakatan dari belajar menerima perbedaan. Maka dibutuhkan kecerdikan untuk meramu berbagai macam warna – cocok tidak cocok – agar tetap indah dalam satu lukisan. Karakteristik yang kuat dari setiap warna harus dipelajari. Warna ungu tentu berbeda dengan warna merah. Ungu yang dominan akan mematikan merah, demikian pula sebaliknya. Tetapi tantangannya adalah menyandingkan keduanya diantara sekian banyak warna yang lain.

Satu-satunya jalan adalah memahami karakteristik satu sama lain. Dengan mengerti keunikan pengalaman dari individu lain, maka kita akan menyadari bahwa mereka memang berbeda. Seperti mengenali ‘hijau’ yang berasal dari biru dan kuning, ataupun ‘ungu’ yang merupakan campuran biru dan merah. Tidak mungkin kita menyamakan pengalaman orang lain dengan pengalaman kita. Bisa jadi anak daerah Jakarta Selatan sudah terbiasa dengan daerah ‘tongkrongan’ di Kemang dan terbiasa dengan bahasa-bahasa gaul khas ‘anak selatan’. Lain lagi dengan ‘anak utara’ yang terbiasa dengan kerasnya daerah Jakarta Utara sehingga memiliki cara yang berbeda dalam bergaul. Dan inilah keunikan daerah urban seperti Jakarta. Bahkan dengan asal-usul suku yang sama – misalkan jawa tengah – tetapi ketika mereka menjadi ‘anak Jakarta’, mereka akan menempatkan identitas mereka pada pilihan ‘suku’ Jakarta.

Kerumitan dari pluralistik identitas warga Jakarta membuat kita harus belajar melampaui toleransi. Konsep toleransi yang selama ini dianggap sebagai bentuk penghargaan terhadap keberagaman ternyata tidak cukup mengakomodir multi-‘suku’ Jakarta. Sekedar toleransi cenderung membangun pola pikir “menerima perbedaan selama tidak mengganggu satu sama lain”. Akibatnya, masih ada strategi penyeragaman agar tidak terjadi singgungan perbedaan tersebut. Melampaui toleransi berarti kita menerima perbedaan tersebut hadir secara mutlak. ‘Ungu’ jelas berbeda dengan ‘Merah’, dan tidak akan pernah terjadi pertukaran diantara keduanya. Identitas mutlak tersebut disadari penuh oleh setiap individu, bukan sebagai pemicu konflik.

Menyadari bahwa satu sama lain berbeda akan menghasilkan sebuah etika dalam bermasyarakat, yakni etika penghargaan. Penghargaan penuh pada keunikan setiap pengalaman individu sehingga kata beda bukan lagi hal yang luar biasa. Ia menjadi bagian dari kehidupan normal kaum urban. Peleburan perbedaan tersebut mengisyaratkan sebuah cerminan diri dengan berbagai alter ego yang dapat kita lihat dari orang lain. Bukan melihat A pada B (sehingga B seakan-akan adalah A), tetapi bagaimana A melihat B sebagai B – bentuk kepribadian lain dari A. Perspektif semacam itu membuka ruang bagi ‘kemungkinan’, bahwa sangat mungkin A dilihat B sebagai kepribadian lain dari B. Ruang ‘kemungkinan’ inilah basis kuat dari etika penghargaan kaum urban. Dengan demikian setiap warna akan memiliki tempat di dalam lukisan ‘Jakarta’.

***

Menghargai setiap warna terkesan mudah. Bisa saja kita menjawab, “ya, saya tahu ada mereka dan mereka berbeda.” Tugas setiap kita selanjutnya adalah menjadikan jawaban tersebut sebagai bentuk kemengertian kita terhadap kehadiran individu yang jelas berbeda dengan kita. Multi-‘suku’ yang dihadirkan di Jakarta merupakan implikasi dari kesempatan yang dikobarkan dari “mimpi-mimpi’ tersebut. Mimpi itu menciptakan sebuah kota urban dengan ‘suku-suku’ barunya.

Harus ada pelampauan terhadap sekedar bertoleransi. Bagaimana cara kita menghilangkan ego ‘kesamaan’ antar individu dan kemudian mengangkat setiap perbedaan yang hadir akan menghasilkan perspektif etika baru, yang penuh penghargaan terhadap sesama. Melukis sebuah gambar bisa menjadi mudah. Kita bisa saja memilih jalan pintas menggambar apa yang kita suka dengan pilihan-pilihan warna yang kita sukai dan cocok satu sama lain. Namun, melakukan jalan pintas itu berarti meniadakan keberadaan beberadap warna lain.

Berani memadukan semua warna akan membuat kita mengerti keseluruhan proses hidup masyarakat urban. Identitas tidak dihadirkan begitu saja melainkan bagian dari proses kehidupan. Setiap pengalaman akan memperkuat karakteristik warna setiap individu. Maka bukan meleburkan warna yang sekarang kita perlukan, melainkan bagaimana setiap warna dapat hadir sesuai kekhasannya dan mewarnai setiap bagian dari lukisan Jakarta.

Ikhaputri Widiantini

[Tulisan ini dimuat dalam PendarPena edisi Multikulturalisme]

Leave a comment

No comments yet.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s