Menciptakan Kendaraan Imajinatif

Berkhayal adalah kegiatan paling menyenangkan yang dapat kita lakukan. Usaha memitoskan sebuah benda atau kejadian kemudian menjadi langkah selanjutnya untuk melegalkan alasan dibalik asal-usul munculnya suatu hal. Mitos-mitos yang bermunculan, pada mulanya merupakan satu-satunya penjelasan ‘rasional’ akan asal-usul alam semesta. Namun, ketika ilmu pengetahuan berkembang pesat, mitos kembali menjadi mitos murni, yang hanya diceritakan dari mulut ke mulut. Tetapi keajaiban mitos tetap mempengaruhi kehidupan semesta. Simbolisasi terhadap ‘latar belakang’ setiap hal dijadikan landasan bagi perkembangan pola pikir manusia.

Tanpa disadari sebenarnya manusia selalu mencoba mengartikan apapun yang menyentuh kehidupannya. Dimulai dari tanda-tanda yang jelas telah disepakati oleh konvensi sosial seperti lampu merah berarti berhenti ataupun tanda kurung buka pada sms artinya sedih. Dalam ilmu semiotik ini, yang dipelajari adalah sistem tanda seperti: bahasa, kode, sinyal dan lain sebagainya. Pada bidang tertentu, semiotik digunakan sebagai sebuah paradigma (baik dalam pembacaan maupun penciptaan) karena adanya penggunaan tanda, pesan, kode yang mengatur serta orang-orang yang terlibat di dalamnya. Tanda dalam semiotik bukan lagi sekedar tanda semacam “warna lampu lalu lintas” dalam kehidupan sehari-hari, tetapi telah merambah pada arti tanda yang lebih luas.

Semiotics involves the study not only what we refer to as ‘signs’ in everyday speech, but of anything which ‘stands for’ something else.
[Daniel Chandler dalam buku  Semiotics: the basics]

Semiotik sangat memperhatikan mengenai pembentukan makna dan representasinya dalam berbagai bentuk, dan banyak digunakan dalam teks dan media. Sebuah teks dapat diinterpretasikan secara luas, karena bagi semiotik, teks bentuknya bermacam-macam, dapat berbentuk verbal maupun non-verbal ataupun keduanya. Tanda dalam teks merupakan hasil konstruksi dan interpretasi yang melihat berbagai aspek yang berfungsi sebagai media komunikasi.

Just Think Happy Thoughts!
Ketertarikan manusia akan simbol-simbol tersebut sebenarnya merupakan efek dari kesadaran akan keterbatasan dari tubuh yang mereka miliki. Manusia dengan bagian-bagian dari tubuhnya tidak mampu bertindak melebihi apa yang ia miliki. Seperti dalam usaha berpindah tempat, pada mulanya manusia hanya mengandalkan kedua kakinya. Keterbatasan fisik yang dimiliki manusia inilah yang kemudian memicu hormon serotonin untuk menciptakan sebuah simbol pembebasan diri. Keinginan bebas dari belenggu ‘kaki’ ini dilambangkan dengan sayap yang tumbuh dari punggung-punggung yang mendamba sebuah kebahagiaan sejati.

Berangkat dari pernyataan Bertrand Russell dalam bukunya The Conquest of Happiness, yakni mengenai usaha pencarian kebahagiaan yang bersumber dari manusia itu sendiri, maka dapat dikatakan bahwa berkhayal merupakan media yang relevan dalam mempertahankan kebahagiaan seseorang. Penciptaan tokoh bersayap—peri—bukanlah pekerjaan yang main-main belaka. Dalam benak si pengkhayal, terbentuk rangkaian teks yang mengarah pada keinginan untuk lepas dari berbagai pasung kehidupan. Rangkaian pemaknaan yang ditawarkan menjadi berkembang, tak sekedar keinginan kuat untuk lepas dari keterbatasan fisik, melainkan juga sebagai pembangunan kebahagiaan sejati. Peri digambarkan penuh dengan keajaiban. Dengan lincahnya mereka berterbangan dan menyebarkan bubuk ajaib mereka. Dalam kisah Peterpan, bahkan tokoh Tinkerbell—peri yang setia menemani Peterpan—menjadi salah satu tokoh sentral yang mampu ‘membagi’ kemampuan terbangnya asalkan dalam diri tiap individu yang ingin terbang terdapat pikiran-pikiran bahagia.

Sayap dalam kisah para peri bukan lagi sekedar hiasan punggung. Keinginan kuat untuk dapat terbang bebas mewarnai pemaknaan dari munculnya sayap. Kalau kita tarik sayap sebagai sebuah tanda dan menggabungkan dengan simbol kebebasan, maka dengan sangat menyenangkan dapat kita tarik garis interpretasi mengenai sebuah pencarian bebas akan kebahagiaan. Sayap tidak lagi sekedar khayalan yang mempercepat gerak manusia, dengan sedikit bantuan dari bubuk ajaib Tinkerbell, maka dengan bebas manusia bisa mengekspresikan kebahagiaannya.

Belajar Menenun Karpet Ajaib
Permainan makna dalam mengkhayalkan kendaraan ajaib tak sekedar membutuhkan usaha berpikir hal-hal yang menyenangkan. Interteks yang terkait dengan keinginan bebasnya jiwa manusia dari kesengsaraan merupakan benang-benang ajaib yang siap untuk ditenun. Menenun benang-benang ajaib tersebut bukan pekerjaan yang mudah. Selain kita harus berani memilih benang mana yang akan membantu merangkai makna, kita juga harus telaten dalam mengerjaannya. Kita tidak dapat seenaknya memilih benang-benang tersebut, karena kita harus memperhatikan relasi estetis yang terkait satu sama lain. Inilah yang disebut dengan memperhatikan konteks ruang dan waktu antar teks. Kesungguhan hati dalam menenun benang-benang ajaib tersebut akhirnya menghasilkan sebuah karpet ajaib, yang membantu melanjutkan khayalan terbang tinggi jauh ke awan.

Karpet ajaib ini muncul dalam kisah ‘Sultan dan ketiga anaknya’. Clarissa Pinkola Estés—di dalam buku Women Who Run With the Wolves—mengilustrasikan ulang dongeng Timur Tengah mengenai pertanyaan Sultan mengenai benda paling indah di bumi. Ketiga anak Sultan mulai mencari ke pelosok negeri. Anak yang pertama membawakan tongkat ajaib yang mampu melihat keinginan setiap orang. Anak kedua membawakan apel yang mampu menyembuhkan berbagai macam penyakit. Sedangkan anak ketiga membawakan karpet ajaib yang dapat terbang dan dengan mudah membawa pergi orang yang menaikinya, yaitu cukup dengan memikirkan tempat yang dituju. Sultan yang bijak tidak memilih salah satu diantara benda yang dibawa anak-anaknya. Ia justru mengatakan bahwa ketiganya sama penting, karena baginya kemampuan melihat setiap keinginan, kemampuan menyembuhkan, dan kemampuan terbang tidak akan menjadi lebih istimewa dari yang lain. Justru menjadi sangat berharga karena ketiganya terkait satu sama lain.

Dari kisah diatas dapat kita lihat bahwa kemampuan untuk terbang merupakan bagian dari harapan untuk dapat berpergian dengan lebih mudah. Tubuh yang dianggap tidak cukup untuk menjadi media dari pelepasan jiwa kemudian mulai mencari benda-benda lain yang terdekat dengan tubuh manusia. Khayalan terhadap kain yang bisa terbang ini merupakan representasi dari sesuatu yang bisa terlekat dengan tubuh manusia, yang dijadikan sebuah simbol baru dari kebebasan manusia. Interpretasi yang dihasilkan pun semakin beragam. Khayalan terbang tidak lagi terbatas pada tubuh, melainkan telah melibatkan beragam benda terdekat dengan kehidupan manusia.

Terbang Bersama Doraemon
Penciptaan kendaraan imajinatif ini ternyata semakin berkembang. Jika pada mulanya sebuah transportasi imajinatif ini sebatas pada satu benda atau satu kemampuan saja, maka dengan keliaran pikiran, kita mampu menghasilkan sebuah imajinasi yang lebih bebas pula. Jika diawal kita mengkhayalkan sayap yang tumbuh di punggung dan membuat kita mampu terbang, lalu karpet ajaib yang bisa membawa kita kemanapun kita menghendaki dengan seketika, maka kenapa tidak menjadikannya satu paket yang menyajikan berbagai macam pilihan? Dan Doraemonlah jawabannya.

Lewat kantong ajaibnya, kita ditawarkan berbagai macam transportasi yang sangat mempermudah gerak kita. Ada ‘baling-baling bambu’, ‘pintu kemana saja’, ‘mesin waktu’, dan alat-alat ajaib lainnya. Keinginan dari bebasnya jiwa ini bukan diartikan sebagai kematian raga. Justru ia menambah kekayaan makna kehidupan. Kantong ajaib Doraemon inilah yang menjadi pembungkus manis dari sayap dan karpet ajaib yang sudah lebih dulu terbang dalam dunia imaji. Tak pernah terpikirkan bukan? Bahwa dari kantong sekecil itu, mampu memberikan peralatan transportasi yang sangat ajaib dan canggih. Inilah bukti dari kekuatan daya pikir manusia. Hanya dari sebuah tanda ‘kecil’, bisa terbentuk pemaknaan yang besar.

***
Ketidakpuasan manusia akan keterbatasan transportasi yang ada dalam dunia nyata justru memicu kreatifitas—dalam imaji. Hanya saja, proses khayalan ini tidak dapat kita anggap remeh. Karena justru menunjukkan adanya pola-pola menandaan dalam kehidupan. Terbang bukan sekedar bergerak bebas, ia menjadi tanda dari sebuah keinginan kuat untuk mengeksplorasi tanpa batas terhadap dunia. Kendaraan imajinatif yang telah kita ciptakan pada akhirnya akan menjadi alat transportasi yang indah bagi proses pemaknaan kita.

Pemaknaan para pengkhayal memang tidak dimiliki begiu saja oleh mereka. Tetapi dalam hal ini, mereka pun tidak dimatikan. Kristeva—dalam buku Revolution in Poetic Language—mengatakan bahwa si pengarang justru meleburkan pemaknaan mereka menjadi tanda-tanda baru dalam teks. Inilah alasan mengapa kita tidak bisa melepaskan satu teks begitu saja. Tugas dari para pengarang telah selesai, tetapi tugas baru mereka adalah menjamin benang-benang ajaib tersebut tetap tertenun dengan baik.

Hal ini menunjukkan bahwa proses pemaknaan dari khayalan pun tidak akan pernah berakhir. Satu-satunya kematian pemaknaan yang akan dialami oleh khayalan kendaraan ini, adalah ketika si pengkhayal membunuh imajinasinya tersebut. Tetapi pembunuhan tersebut rasanya akan sulit untuk dilakukan. Bukan atas nama moralitas, bukan pula atas nama hukum. Justru karena khayalan ini merupakan kegiatan yang sangat menyenangkan, dan mampu menghasilkan beragam pemaknaan yang menyenangkan pula. Jadi, marilah kita buat pikiran kita bergerak liar. Mengkhayallah! Selama belum bermimpi pun dilarang.

Ikhaputri Widiantini

[Tulisan ini dimuat dalam PendarPena edisi Transportasi]

Leave a comment

No comments yet.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s