Lepas dari Abjeksi Diri: Memberi Ruang Bagi Hasrat Memaknai Ulang Cinta

Problem klasik yang dialami oleh manusia adalah mempersoalkan cinta. Seorang penulis ternama menuliskan bahwa efek dari halusinasi cinta ini membuat individu yang sedang terbutakan cinta hanya memikirkan ide mengenai kesempurnaan orang yang ia cintai, balasan cinta tersebut, dan bukti-bukti kuat yang menunjukkan rasa cinta dari orang yang ia cintai tersebut[1]. Akibatnya individu yang sedang jatuh cinta tersebut seringkali mengalami delusi-delusi yang cukup mempengaruhi keseluruhan hidupnya. Sayangnya perempuan, yang telah dirugikan oleh peradaban, mendapatkan jatah stigma yang cenderung membuatnya terlihat lemah. Bahkan dalam tulisan Stendhal yang berjudul Cures For Love tetap terdapat stereotipe-stereotipe perempuan yang terkesan lemah dan selalu membuat tindakan-tindakan yang dikatakan bodoh. Nafas-nafas misoginis pun terlihat dalam pola penulisannya. Sehingga demi mempertahankan keagungan maskulin, Stendhal menyatakan bahwa sifat feminim bukanlah sifat yang baik untuk “menyembuhkan diri” dari sakit cinta.

“The Source of feminine pride most worthy of respect is the fear of demeaning oneself in a lover’s eyes by some hasty step or by some action which he might consider unfeminine.”

[Stendhal. 2007: 51]

Kecenderungan misoginis yang dituliskan Stendhal pun terdapat pada banyak karya penulis lainnya. Pendoktrinan stigma semacam inilah yang memperlemah perempuan dalam relasi sosial termasuk dalam memahami cinta. Cinta bagi perempuan menjadi sebuah pengorbanan tanpa kesadaran – dapat dikatakan sebagai kesadaran semu – yang membuat perempuan tidak lagi memiliki dirinya secara utuh. Ketika perempuan memaknai cinta – yang telah dihadirkan – ia akan menunjukkan segala sifat pasif, pasrah, dan menganggap apa yang telah ia lakukan merupakan hal yang benar. Pengorbanan yang berlebihan dianggap wajar dan melupakan bahwa sebagai manusia, ia pun berhak mencari kebahagiaan yang murni tanpa ada tendensi kekerasan terhadapnya.

Rantai kekerasan terhadap perempuan yang terus-menerus mencari celah dalam setiap kehidupan membuat eksistensi perempuan dipertanyakan, apakah benar ia hanya pelengkap manusia lain – laki-laki – atau adakah kesempatan bagi perempuan untuk bebas berproses dalam kehidupannya sebagai manusia? Pilihan-pilihan bagi perempuan cenderung telah dihadirkan tanpa ada kesempatan untuk bebas dipilih. Ibarat dalam labirin, perempuan tak punya kesempatan untuk melihat adanya berbagai pilihan jalan. Seandainya jalan itu banyak pun, perempuan telah diberi tanda panah yang harus diikuti agar tetap mengikuti jalan yang dibentuk oleh budaya patriarkal. Termasuk dalam masalah cinta-mencintai. Hal ini bisa saja merupakan efek berkepanjangan dari peradaban yang merugikan ini. Perempuan cenderung menjatuhkan diri dalam sebuah cinta yang menjadi ‘tuhan’ bagi dirinya. Pengkultusan terhadap perasaan tersebut membuat perempuan semakin terbutakan dan akhirnya memperkuat belenggu dari rantai kekerasan.

Term jatuh cinta kemudian menjadi term yang sangat menjebak bagi perempuan. Jatuh cinta merumitkan kehidupan perempuan karena melibatkan tendensi terhadap pilihan orientasi seksual, hasrat, bahkan kehidupan sosial. Sara Maitland bahkan mengatakan bahwa kita seharusnya bersikap sinis mengenai perasaan yang cukup ajaib ini agar dapat menjustifikasi dengan jelas problem sosial yang paling mendasar : pengaturan kehidupan perempuan[2]. Perempuan yang tidak berani untuk kritis dan sinis terhadap jebakan-jebakan beratasnamakan cinta, akan selalu terlena dalam istana semu yang dibangun oleh pangeran berkuda putih hasil imajinasi mereka.

“Falling carries with it a presupposition of having been in a stable position and at a higher  point than before the fall occurred. Falling is unstable, uncontrolled movement from a higher to a lower place. In this hierarchical culture, up is positive and down is negative. The combined negative elements of Falling and In Love (as meaning captivated) make falling in love equal to falling in a trap. Furthermore, a fall is accidental. It loses as a positive term. – Debbie Alicen

[Kramarae, 1985 : 150]

Perempuan seharusnya tetap mengenal konsep cinta, karena rasa cinta adalah perasaan universal yang melengkapi segala afektivitas manusia. Intensionalitas yang terjadi antar individu karena ketertarikan dan kepedulian dapat dikatakan sebagai proses cinta memasuki kehidupan. Ketertarikan tersebut hadir sebagai salah satu jejak dalam proses pemaknaan. Namun, keadaan akan lebih menguntungkan mereka yang mampu berbahasa sesuai ciptaan peradaban. Laki-laki yang memaksimalkan penggunaan bahasa maskulin[3] akan lebih mudah untuk mengekspresikan dirinya. Sedangkan mereka yang tidak mampu membahasakan bahasa maskulin tersebut hanya akan semakin terpuruk dalam kegilaan akibat tak mampu mengungkapkan apa yang sedang dirasakan. Perempuan bukannya tidak dapat terlibat sama sekali, permasalahan utama adalah adanya penolakan diri secara tidak sadar oleh perempuan itu sendiri. Konsep keterasingan ini terbentuk dari pola pikir yang terus-menerus menyusup dalam kehidupan perempuan.

…as stranger to the stranger within each of us. – Julia Kristeva

[McAfee, 1993: 116]

Orang asing yang kita rasakan adalah diri kita sendiri, dan inilah yang disebut oleh Kristeva sebagai konsep abjeksi. Melalui abjeksi ini Kristeva mendeskripsikan adanya penolakan terhadap identitas perempuan. Karena itulah teori ini sangat tepat untuk menjelaskan kembali identitas perempuan yang ditolak oleh masyarakat patriarki. Fungsi tubuh maternallah yang membuat perempuan selalu merasa ditolak. Perempuan tidak dapat terus-menerus menikmati penderitaan kehidupannya. Ia harus dapat keluar dari abjeksi yang didoktrinkan ideologi patriarki selama ini. Demarkasi subjektifitas terhadap perempuan hanya dapat dibongkar jika perempuan mampu mematikan segala konsep yang ia ‘tuhankan’ dalam pikirannya. Dengan demikian ia akan benar-benar bebas memberi ruang bagi hasrat pemaknaan

What is popular is not always right, what is right is not always popular[4]

Realitas postmodern merupakan realitas yang terdapat dalam teks[5], sehingga untuk dapat mencari konsep dan pemikiran, kita harus menariknya dalam teks yang dapat dibongkar pemaknaannya dan menuliskan ulang dalam teks yang baru[6]. Hanya saja untuk mencapai usaha maksimal membebaskan perempuan, diperlukan juga sebuah pandangan berbeda yang memberikan standar baru diharapkan dapat memulai pertanyaan mengenai perbedaan itu sendiri sehingga konstruksi mapan yang telah ada dapat digoyahkan[7]. Film yang dikategorikan sebagai film pop ternyata dapat menghasilkan sebuah pemaknaan yang mendalam. Salah satunya adalah 10 Things I Hate About You. Salah satu tokohnya, Kat digambarkan sebagai perempuan pembenci kemapanan sosial. Kebenciannya pada tatanan mapan masyarakat datang dari rasa dendam pada popularitas yang justru menyakiti dirinya. Kat, merasa bahwa mengikuti ‘apa yang diinginkan masyarakat pada umumnya’ sebagai bentuk pengikisan identitas diri. Pada mulanya Kat mengalami proses abjeksi semenjak ibunya pergi meninggalkan dia, adik serta ayahnya. Kecenderungan Kat untuk mencari pelarian untuk hidupnya membuat dia pun melakukan apa pun yang sedang menjadi tren saat itu. Namun, yang terjadi adalah ia semakin asing dengan dirinya. Akhirnya ia mengambil keputusan berani untuk melepas segala sesuatu telah membelenggu pikirannya. Ia memilih menjadi ‘orang gila’ ditengah ‘kenormalan’ tatanan masyarakat.

“Could you please be normal just for a second?” – Bianca (adik Kat)

“Define normal…” – Kat

Normal dan kegilaan bukan lagi definisi mutlak, dan bagi Kat apapun perkataan umum tak dapat menggoyahkan kebebasannya. Kat adalah contoh dari perempuan yang telah berhasil mendorong abjeksi yang sempat menguasai diri, sehingga yang menyelimutinya hanya hasrat untuk berekspresi dan memaknai. Kat telah terbebaskan dari segala konsep penuhanan pemikiran. Walau ia memulai dengan kemarahan, ia telah berhasil mengolah rasa marah tersebut menjadi indah dan otentik.

Ketakutan orang sekitar Kat, membuat tingkah lakunya disamakan dengan perempuan gila yang tak mungkin lagi disembuhkan. Kecenderungan Kat yang ekstrem dalam bertindak membuat ia ditakuti oleh laki-laki mana pun. Padahal sang adik, Bianca, merupakan salah satu siswi populer di kalangan laki-laki. Sayangnya peraturan dari ayah Kat dan Bianca menyulitkan pergaulan Bianca. Bianca baru diperbolehkan menjalin hubungan dengan laki-laki apabila sang kakak telah memiliki kekasih. Hal ini menjadi problem krusial bagi Bianca, karena Kat sama sekali tidak perduli. Ia membebaskan dirinya menikmati kehidupan. Para lelaki yang mengetahui peraturan ini mulai mencari cara agar ada lelaki yang mau pergi dengan Kat. Salah satunya bahkan membayar Verona agar mau pergi dengan Kat. Sebuah penyatuan dua individu dalam komitmen hubungan bukan merupakan usaha yang mudah. Verona harus bersusah payah mencari cara untuk menarik perhatian Kat. Ia harus melepaskan konsep maskulinitas yang ia banggakan demi masuk ke sebuah klub yang identik dengan perempuan. Terlihat bahwa keuntungan yang diberikan peradaban pada laki-laki tak selalu membuat mereka mudah mendapatkan apa yang mereka mau.

Usaha Verona terhenti. Pada saat pesta dansa sekolah, modus operandi Verona terbongkar dan menyebabkan Kat benar-benar sakit hati. Ia marah atas permainan Verona. Rasa sakit tersebut bisa saja mengembalikan dia pada posisi abjeksi sehingga ia terasing dari dirinya sendiri, akibat pengkhianatan cinta. Keotentikan diri Kat membuat ia tetap konsisten dan menjadikan rasa kecewa tersebut menjadi salah satu jejak pemaknaan. Kat menyalurkan rasa kecewa dan sakit tersebut lewat sebuah sonet.

“Women must write her self: must write about women and bring women to writing, from which they have been driven away as violently from their own bodies…”

[Cixous, 1983: 279]

Perempuan menjadi asing dalam dunia yang ia hidupi karena faktor-faktor dalam kehidupannya seakan membuat jarak dengannya. Penulisan feminin juga dapat menyentuh berbagai macam aspek yang bebas dengan bahasa yang membebaskan pula. Kata-kata akan mampu mengalir dengan sendirinya  tanpa beban. Hal ini juga akan menjadi sebuah tantangan bagi penulis perempuan dengan gaya perempuan, karena banyak orang dalam masyarakat yang tentunya tidak mau lepas dari aturan yang telah menguntungkan hidup mereka. Kita dapat melihat betapa pentingnya perombakan ‘bahasa’ agar tujuan pembebasan perempuan dapat tercapai.

“I hate the way you talk to me and the way you cut your hair.

I hate the way you drive my car. I hate it when you stare.

I hate your big dumb combat boots and the way you read my mind.

I hate you so much it makes me sick, it even makes me rhyme.

I hate the way you always right. I hate it when you lie.

I hate it when you make me laugh, even worse when you make me cry.

I hate it when you’re not around and the fact that you didn’t call.

But mostly, I hate the way I don’t hate you, not even close, not even a little bit, not even at all.”

[Kat – 10 Things I Hate About You]

Kat memaknai rasa benci menjadi pengungkapan cinta yang ia rasakan pada Verona. Ia memberi ruang bagi pemaknaan yang beragam, sehingga makna tidak dihadirkan begitu saja. Ketika perspektif patriarkal bermain dalam pemaknaan, maka pendikotomian akan terlihat jelas dan mutlak. Sedangkan upaya memaknai dengan hasrat, tidak memutlakan pendikotomian pada titik ekstrim. Definisi antara cinta dan benci menjadi kabur, bahkan dapat menjadi satu kesatuan. Inilah yang dirasakan Kat terhadap Verona. Ia membebaskan perasaannya dengan penuh keberanian. Ia tetap bertahan dalam otentisitasnya, mempertahankan segala konsep cinta yang ia maknai lewat hasratnya.

Ungkapan Hasrat : Ungkapan Cinta

Hasrat yang bermain dalam pembebasan perempuan ternyata membuat perempuan mampu menuliskan beribu kata dan makna bahkan yang tak pernah terpikirkan lewat penulisan maskulin. Elaborasi indah yang dihadirkan melalui tulisan penuh hasrat membuat perempuan tak perlu lagi memaksakan diri untuk berada di tataran simbolik ayah, karena ia dapat tetap bermain dalam tataran penuh permainan tanda. Nafas yang dihembuskan oleh perempuan ketika ia berhasil membebaskan diri dari segala belenggu konsep ‘tuhan’ akan terasa lebih menghidupkan. Dapat dikatakan bahwa ketika perempuan menguasai permainan tanda dalam teks, ia telah mempertahankan identitas otentiknya sebagai perempuan. Rasa cinta tak lagi harus dimaknai sebagai bentuk pengorbanan individu dalam transfer rasa dengan individu lain, melainkan sebagai pemberian makna kehidupan baru. Atas dasar pembebasan hasrat dalam bermain makna, maka teks mengenai cinta ini pun tak dapat dimutlakkan, karena harus tetap bebas menyusup dalam segala celah pemaknaan.

Daftar Bacaan

Conley, Verena Andermatt. 1991. Hélène Cixous: Writing The Feminine, Expanded Edition. University Of Nebraska Press.

Jacobus, Mary. 1979. Catherine Belsey and Jane Moore (ed). The Difference of View, Article from The Feminist Reader. USA: Blackwell Publisher.

Kristeva, Julia. 1989. Language The Unknown, An Initiation Into Linguistics. New York : Columbia.

____________. 1997. Stabat Mater – article from Feminist Social Thought (edited by Diana T. Meyers). London : Routledge.

Kramarae, Cheris dan Paula A. Treichler. 1985. A Feminist Dictionary. England: Pandora Press.

McAfee, Noelle. 1993. Kelly Oliver (ed.). Abject Stangers: Towards an Ethics of Respect, Article from Ethics, Politics, and Difference in Julia Kristeva’s Writing. London: Routledge.

Stendhal. 2007. Cures For Love (extract). England: Penguin Books.

10 Things I Hate About You (DVD)


[1] Stendhal. 2007. Cures For Love (extract). Halaman 8.

[2] Kramarae, Cheris dan Paula A. Treichler. 1985. A Feminist Dictionary. Halaman 150.

[3] Mengutip pernyataan Lacan mengenai terciptanya Language of Father yang hadir dari proses simbolyc order. Lacan membagi ke dalam tiga fase yakni fase pre-oedipal, yaitu fase dimana belum ada kesadaran dalam diri bayi itu. Tahap ini hanya sekedar tahap imajinasi. Lalu fase cermin, dimana si anak mulai meniru gerakan yang dibuat oleh ibunya. Kemudian ketika si anak memiliki idola, dia juga akan meniru idolanya itu. Setelah itu ia akan mulai “berpikir” dan masuk pada fase oedipal. Fase ini mulai “membagi” anak ke dalam kelompoknya. Biasanya lebih mengacu pada anak laki-laki, karena mereka melihat “ayah” sebagai yang mendominasi. Mereka tidak ingin bersitegang dengan si ayah sehingga mereka “memutuskan” untuk mengikuti aturan si ayah dan berlaku seperti si ayah. Pada anak perempuan akan terjadi kesulitan untuk mengikuti karena mereka dianggap tidak dapat mengikuti bahasa si ayah.

[4] Kutipan langsung dari film 10 Things I Hate About You.

[5] Dikutip dari pernyataan Derrida : “There is nothing outside the text”

[6] Teks dalam konteks disini bukan sekedar teks tertulis seperti konsep pada umumnya. Teks postmodern merupakan konsep metafor dimana segala sesuatu tidak ada kebenaran mutlak, sehingga demi sebuah pembongkaran mendetail, kita harus menjadikan segala sesuatu ibarat rangkaian kata-kata yang mampu dianagramkan dan menghasilkan makna baru.

[7] Jacobus, Mary. 1979. The Difference of View, Article from The Feminist Reader. Halaman 49.

Ikhaputri Widiantini

[Tulisan ini dimuat dalam PendarPena edisi Film -edisi 2 tahun I tahun 2007]

Leave a comment

No comments yet.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s