“Lipstik” Politik

9 April 2009 akan menjadi catatan sejarah baru bagi Indonesia. Pemilihan yang akan diadakan pada tanggal tersebut akan menentukan arah baru bagi kehidupan politik dan bernegara di Indonesia. Ratusan partai berlomba mendaftar dan memastikan diri menjadi representasi suara rakyat. Pengajuan atas caleg pun menjadi perdebatan yang sangat menarik. Salah satunya isu mengenai keterwakilan perempuan dalam tataran legislatif. Euforia Pemilu 2009 pun memicu semangat banyak perempuan Indonesia untuk membuktikan diri ‘layak’ terlibat dalam kancah perpolitikan tersebut. Hal ini didukung oleh usulan affirmative action yang ‘memaksakan’[1]  kuota 30% bagi perempuan, sehingga dasar awal yang dibutuhkan – yakni kesempatan – telah dimiliki perempuan. Walaupun muncul berbagai persoalan yang cenderung tetap merugikan caleg perempuan, euforia ini telah berhasil memanas-manasi semangat politikus perempuan Indonesia ikut andil dalam pesta pemilihan besar ini. Usaha memanfaatkan secara maksimal kesempatan yang diberikan lewat usulan jatah kuota digunakan oleh para caleg perempuan untuk mengkampanyekan visi, misi, dan program kepada masyarakat.

Keuntungan bagi para caleg perempuan adalah adanya trend  isu yang sedang ramai diangkat, yakni persoalan perempuan. Dari permasalahan TKW, kekerasan dalam rumah tangga, pelecehan seksual, hingga persoalan moral untuk perempuan. Dengan cerdas isu ini dijadikan bagian dari program mereka. “Janji” yang seringkali diberikan oleh caleg-caleg sebelumnya telah banyak diingkari dan mengecewakan banyak warga perempuan. Kecenderungan pola pikir maskulin masih merajalela dalam pembuatan program kerja legislatif, sehingga pada akhirnya terbukti hanya meninggalkan kekecewaan dan rasa tidak percaya. Inilah problema yang harus diselesaikan oleh banyak caleg yang menjanjikan diri sebagai wakil rakyat, bagaimana merebut rasa percaya warga negara – terutama perempuan – dan merealisasikan program yang tentunya akan menjamin hak bernegara setiap warga.

Simulakra Kampanye
Kampanye yang telah berlangsung sampai pemilihan terjadi menunjukkan bahwa setiap caleg perempuan berusaha menarik hati masyarakat semaksimalnya. Mereka menyadari penuh bahwa tidak mudah untuk menimbulkan rasa percaya dalam sekejap. Lewat media banner, poster, iklan di media massa, bahkan media internet mereka lakukan. Iklan yang ditampilkan pun bukan lagi iklan ‘ala caleg’ yang kaku, melainkan sangat luwes mengikuti perkembangan jaman. Tembok yang selama ini cenderung membuat politik seakan jauh dari masyarakat dirubuhkan. Generasi muda pun terlibat penuh dalam perkancahan politik Indonesia. Para caleg telah meleburkan budaya populer dalam kampanye mereka. Bahkan banyak caleg yang meniru cara kampanye Obama, lewat media jaringan sosial yaitu Facebook. Keluwesan kampanye para caleg lewat Facebook ini menunjukkan adanya “hiperrealitas[2]” yang memotong batasan dunia nyata dan dunia maya. Kampanye secara langsung biasanya dilakukan di daerah-daerah, sedangkan untuk menyentuh masyarakat urban, dunia mayalah solusinya.
Iklan kampanye pun harus mengikuti pakem dunia periklanan. Kemasan yang ditawarkan pun harus menarik agar tidak sekedar menjadi spam yang mudah dibuang setelah dilihat. Para caleg pun mulai mengenakan “lipstik” mereka.

Permasalahannya adalah apakah “lipstik” yang digunakan ini memang hanya usaha mempercantik semata (sehingga mudah untuk dihapus), atau justru berhasil meninggalkan kesan estetik bagi masyarakat? Lipstik sebagai salah satu alat mempercantik tubuh yang digunakan oleh banyak perempuan berada dalam posisi dualisme. Di satu sisi, ketika si pengguna telah menggunakan dengan tepat, maka akan menimbulkan kesan yang mendalam dalam diri setiap orang yang melihat. Di sisi lain, ketika kesan indah tersebut tidak didapatkan, dengan mudahnya lipstik itu dapat dihapus (dan mungkin dapat diganti dengan lipstik lain). Simulakra kampanye lewat media populer pun dapat mengalami problem yang sama seperti lipstik tersebut. Ramainya iklan kampanye tersebut telah menggugah masyarakat. Ada yang terkesan, ada yang mencemooh, bahkan ada yang sambil lalu, dan melupakan. Inilah tantangan para caleg. Tetapi pertanyaan yang muncul adalah, setelah melewati batasan real dan maya, apakah pada akhirnya kampanye tersebut hanya sekedar pepesan kosong tanpa ada jaminan realisasi di kemudian hari?

Politisasi Ruang Privat Perempuan
Menanggapi pernyataan misoginis[3] para anggota legislatif yang cenderung meragukan kemampuan politik perempuan, seharusnya para caleg perempuan memaksimalkan penggunaan “lipstik” mereka. Kemasan kampanye haruslah mengena pada usaha realisasi penyelesaian problem perempuan di Indonesia. Politik mereka adalah politik kebertubuhan, mengingat adanya perbedaan pengalaman yang dialami. Dunia politik telah terlalu lama dikuasai oleh sistem patriarki yang berdasarkan pengalaman maskulin. Mengutip pernyataan Chantal Mouffe bahwa dibutuhkan kontribusi nyata dari pemikiran perempuan (feminisme) untuk memberikan perubahan dalam dunia demokrasi (79), maka para caleg perempuan tidak dapat sekedar menjadi penghias ruangan legislatif melainkan memperjuangkan hak bagi kaum perempuan. Usaha ini disebutnya sebagai pertarungan warga negara merebut hak kesetaraan.

Politik kebertubuhan yang sangat erat dengan kehidupan perempuan, merupakan dampak dari politisasi ruang privat perempuan. Pejuang politik perempuan Amerika, Alice Paul telah memberikan kontribusi nyata dan menginspirasi banyak perjuangan hak politik perempuan di berbagai negara. Perebutan hak pilih bagi perempuan pada akhirnya harus dikembangkan tak sekedar dapat memilih ataupun dipilih, melainkan juga hak terlibat dalam kehidupan bernegara. Perjuangan ini diperkuat oleh pergerakan feminisme radikal yang menunjukkan bahwa penindasan terhadap perempuan berawal dari penindasan terhadap tubuhnya. Ketika perempuan tidak lagi memiliki hak atas tubuhnya, maka ia pun kesulitan untuk mendapatkan akses pada hal-hal lainnya. Ketidakpahaman perempuan akan tubuhnya inilah yang membuat perempuan kemudian bergantung pada pemahaman yang diberikan oleh pihak lain diluar dirinya, dalam hal ini masyarakat patriarkal.

Tubuh yang pada awalnya menempati ruang privat, pada akhirnya dipolitisasi. Inkonsistensi pola pikir patriarkal pada akhirnya menunjukkan argumen yang tidak kuat, karena politisasi tubuh tersebut (lewat berbagai pengaturan dalam ruang publik), ketika dipermasalahkan oleh banyak aktivis perempuan, hanya akan mendapat jawaban, “itu kan urusan pribadi, jangan dibawa-bawa ke ruang publik”. Problem ini terlihat jelas ketika terjadi kekerasan dalam rumah tangga yang cenderung diselesaikan secara ‘kekeluargaan’ padahal telah memiliki jaminan legal. Padahal bagi kaum feminis sangat jelas terlihat bahwa permasalahan yang selama ini berada dalam ruang privat, juga merupakan bagian dari ruang publik (the personal is political[4]). Universalisasi konsep privat dan publik oleh kaum patriarki (Mouffe 81) sangat kabur batasannya. Hukum hanya menjamin kegiatan individu pada ruang publik, sedangkan pada kenyataannya banyak pula kegiatan dalam ruang privat yang justru merupakan efek dari pengaturan pada ruang publik. Pengalaman perempuan tidak lagi diperhitungkan karena efek dari pengikatan tersebut, hanya dibuka dua ruang yakni ruang publik dan ruang privat (Passerin 57), dan perempuan selalu ditempatkan di ruang privat.

Kesan Estetik “Lipstik” Caleg Perempuan
Menyadari persoalan yang seharusnya diangkat oleh para caleg perempuan adalah mengutamakan kualitas politiknya, maka pengemasan yang dilakukan tidak boleh sampai mudah dihapus begitu saja. Ada asumsi yang harus dilawan, yaitu anggapan remeh terhadap kehadiran perempuan dalam dunia politik. Bukan hal yang mudah untuk melakukan sebuah pendidikan politik secara instan. Kehadiran para anggota legislatif perempuan tidak boleh sekedar karena jenis kelamin, tetapi juga karena kesamaan perasaan dan perjuangan politik. Solidaritas merupakan landasan kuat yang harus dimiliki perempuan. Konsep warga negara yang selama ini dirumuskan oleh pemikiran patriarkal harus didobrak, salah satunya dengan mengembangkan kualitas perempuan. Perempuan yang terjun ke dalam dunia politik tidak boleh dikendalikan aturan patriarkal, karena bukan dengan menjadi laki-laki perempuan diakui, melainkan lewat kualitas perempuan mereka (Mouffe 80). Perbedaan jalur masuk (lewat partai) memang tidak dipungkiri cenderung membangun arogansi atas partai tersebut. Tetapi dengan solidaritas yang kuat dan melupakan segala kepentingan partai, program bagi perempuan yang dijanjikan di awal akan lebih mudah direalisasikan. Ini bukan usaha yang mudah. Ibarat jaring laba-laba, sudah terlalu banyak jaring yang mengikat perempuan. Maka demi perjuangan melawan penindasan perempuan, perlu ada usaha “membunuh” laba-laba tersebut. Satu perempuan bisa dibungkam, tetapi dengan solidaritas akan timbul rasa kebersamaan untuk berjuang. Dengan demikian lipstik sebagai kemasan tersebut walaupun sudah dihapuskan (karena kampanye sudah selesai) tetap akan meninggalkan kesan estetik bagi masyarakat, terutama bagi perempuan.
[1] Konsep ‘memaksakan’ di sini merupakan sindiran terhadap pola piker maskulin yang senderung resisten terhadap keberadaan perempuan dalam ruang legislatif.
[2]Mengutip pernyataan Jean Baudillard yang menunjukkan bahwa masyarakat telah hidup dalam simulakra-simulakra sehingga tidak dapat lagi memisahkan antara yang real dengan yang imajiner.
[3]Pernyataan yang cenderung membenci perempuan dan sangat diskriminatif terhadap perempuan.
[4]Mengutip pernyataan dari Kate Millet, seorang feminist radikal.

Daftar Acuan
Mouffe, Chantal. The Return of The Political. New York : Vesco, 1993.
Passerin, Maurizio (ed.). Public and Private. London: Routledge, 2000.

*Ikhaputri Widiantini (Pengajar Departemen Filsafat FIB UI dan pendiri Komunitas Ungu.)*

**Telah dipresentasikan pada Diskusi Lesehan Kalyanamitra, Jumat 20 Maret 2009**

Leave a comment

No comments yet.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s