Refleksi Suara yang Tidak Terdengar

“Seorang perempuan berjalan dengan langkah tegap dan yakin akan jalan yang ia tempuh. Tanpa perlu mengenakan identitas khusus, telah tercipta identitasnya dari segala pemikiran yang muncul dalam dirinya. Ia menyebut dirinya sebagai agen perubahan. Orang menyebutnya sebagai seorang FEMINIS. Efek dari penempelan identitas ini membebaninya dengan konsistensi pemikiran dan tindakan. Lebih lanjut lagi, kehidupannya tak lagi berjalan ‘seperti kebanyakan orang” karena ia telah menjadi bagian dari deviansi masyarakat. Kini ibarat para penyihir abad pertengahan yang siap dibakar karena doktrin yang tidak menerima mereka, perempuan ini pun ‘dibakar’ dengan segala stigma yang diberikan oleh mereka yang tidak siap dengan tawaran kejeniusannya. Ia dianggap sebagai penyesat para pemikir. Ajarannya disamakan dengan pengkultusan iblis. Perempuan itu seakan sangat mesra dengan segala kedurjanaan. Maka dengan segala luka yang ada, ia tetap bertahan walau ‘api pembakaran’ itu semakin terasa panas dan mulai menggerogoti diri.”

Walau sekedar penjabaran fiktif, hal semacam inilah yang sering menimpa mereka-mereka yang mengatasnamakan ‘perubahan’ dan melawan segala macam pemikiran mainstream yang berlaku dalam masyarakat. Sama halnya dengan feminisme, yang merupakan salah satu tawaran ideologi perubahan yang mencoba melawan segala bentuk kekerasan dan diskriminasi yang terjadi pada perempuan dan relasinya dalam masyarakat. Pada mulanya feminisme memang lahir sebagai pergerakan perempuan-perempuan yang marah pada keadaan yang sangat tidak adil bagi mereka. Bagaimana kemudian perempuan memiliki hak untuk menikmati pendidikan, hak pilih dalam politik dan berbagai akses lain yang tidak dapat mereka nikmati sebelumnya. Hal ini terwujud karena adanya pergerakan para perempuan yang menyadari bahwa mereka pun berhak untuk hidup di ruang publik. Berkembang kemudian tak sekedar sebagai aksi semata, feminisme justru mulai menunjukkan kekuatannya dari berbagai macam teori yang turut mewarnai pemikiran para intelektual. Hingga akhirnya diakui bahwa Women Studies memiliki kevalidan pengetahuan dalam tataran akademis.

Sekian banyak hasil yang dicapai para feminis ternyata tidak membuat mereka berhenti dan puas begitu saja. Mereka menyadari bahwa zaman tidak pernah statis. Perubahan pasti akan hadir dan mempengaruhi segala macam pemikiran dan kebudayaan. Demikian pula dengan pemikiran perempuan, akan mengalami berbagai macam perubahan sesuai konteks zaman. Definisi feminisme pun berubah, ia bukan lagi hanya menjadi milik pergerakan perempuan, ia telah menjadi bagian dari pemikiran sosial tanpa memandang jenis kelamin untuk terlibat di dalamnya. Dapat dikatakan bahwa feminisme adalah standpoint pemikiran dalam melihat segala macam isu perempuan dimana laki-laki pun seharusnya terlibat sebagai bagian dari relasi sosial masyarakat. Bagaimana mungkin tujuan mulia feminisme dalam memutus rantai kekerasan terhadap perempuan dapat tercapai jika laki-laki yang merupakan bagian dari relasi tidak dilibatkan sama sekali? Hanya akan membuat keadaan semakin tidak harmonis. Oleh sebab itu, isu dalam feminisme berkembang menjadi isu mengenai gender juga, untuk memurnikan terlebih dahulu posisi perempuan dalam masyarakat, bukan mengkodratikan yang sosial.

Sayangnya tujuan mulia para feminis ini banyak mendapat tanggapan kurang baik dari mereka yang resisten dan takut menerima perbedaan. Reaksi pertama mereka adalah mengatasnamakan segala macam tradisi yang telah mengakar, yang sarat dengan interpretasi kepentingan, membuat perempuan semakin termarjinalkan. Usaha pertama ini cukup berhasil memukul mundur mereka yang awalnya berteriak mengutuk mereka yang diskriminatif terhadap perempuan. Hanya saja usaha ini tidak berhasil membungkam seluruh pejuang perubahan. Masih banyak yang bertahan walau harus melawan sistem yang semakin kuat dan sarat dengan nilai-nilai patriarkal. Menyadari bahwa para penabur benih perubahan ini tak jua menyerah, maka dimulailah proyek menjatuhkan nama feminisme dan mereka yang telah terlibat agar terlihat sebagai sumber terjadinya segala keburukan moral masyarakat. Stigma mulai ditempelkan kepada para feminis. Bahwa mereka adalah orang-orang bermoral buruk yang hanya akan mengacaukan keseimbangan semesta. Bahwa mereka mengingkari peranan mereka sebagai perempuan yang seharusnya bertugas meneruskan keturunan. Bahwa mereka adalah orang-orang gila yang tak mampu menerima keadaan yang berjalan dalam masyarakat. Usaha ini berimplikasi pada nama feminisme dan kepada para feminis. Ketakutan masyarakat pun membuat feminisme sangat sulit untuk diterima layaknya ideologi lain yang juga berjuang atas nama perubahan. Akibatnya para feminis hanya dianggap sebagai perempuan-perempuan yang histeris dan mengalami delusi sebagai bentuk ketidak puasan hidup mereka.

Perusakan nama ini harus segera dihentikan. Ini merupakan bentuk lain dari kekerasan terhadap perempuan. Justru karena masyarakat patriarkal menyadari bahwa ada kekuatan baru yang sedang tersusun dan memiliki peluang besar untuk mengembalikan mereka-mereka yang tersesat di jalan yang dikatakan “benar”. Kekuatan ini adalah kumpulan suara mereka yang berbicara sebagai perempuan dan menyuarakan segala macam ketidakadilan yang dialaminya. Sistem patriarkal ini tidak ingin ‘tergulingkan’ dan terus ingin melanggengkan kekuasaannya. Karena tidak lagi berhasil membungkam seluruh pejuang lewat serangan luar, maka usaha untuk mengkontaminasi nama feminisme dilakukan. Para feminis memang tidak mundur sama sekali dengan usaha ini, tetapi justru resistensi yang muncul di masyarakat semakin besar dan memperkuat rantai kekerasan baru bagi perempuan.

Suara yang saya tuliskan ini merupakan refleksi banyak suara yang menjerit karena dosa yang dibebankan tanpa ada kesalahan. ‘Hukuman’ itu membuat saya marah akan keadaan yang semakin tidak bersahabat bagi kami yang ingin menawarkan pilihan pemikiran perubahaan. Apakah salah ketika saya menyerukan segala bentuk ketidakadilan yang terjadi pada perempuan? Bahwa segala sesuatu yang telah nampak harmonis ini hanya menyembunyikan segala luka yang tak pernah disembuhkan. Lalu mengapa justru saya dan seluruh agen perubahan yang ingin ‘diselamatkan’ agar tidak lagi tenggelam. Kemarahan itu tidak saya biarkan sebagai elemen negatif dalam kehidupan saya. Justru kemarahan itulah yang membuat saya mampu berkreasi dan semakin berani untuk menyuarakan apa yang selama ini tak ingin didengarkan. Ketika kalian (yang bersandar nyaman pada nilai patriarki) mengatakan bahwa para feminis adalah mereka yang bersahabat dengan iblis, maka saya akan dengan senang hati mengatakan bahwa malaikat yang kalian kenal sebenarnya adalah monster-monster busuk bertopeng manis! Karena kembali pada tujuan mulia feminis yang menginginkan keharmonisan antara perempuan dan laki-laki sebagai bagian dari kemanusiaan. Dan untuk alasan itulah saya bangga tidak kalian selamatkan dari ketenggelaman saya. Karena saya yakin saya tenggelam dalam kebenaran.

(Tulisan ini telah dimuat di Buletin Komunitas Ungu)

Leave a comment

No comments yet.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s