Kematian Jiwa

Inilah momen penuh kebohongan yang aku jalani dalam fase kehidupan. Setiap kata yang terucap tak pernah murni keluar sesuai dengan apa yang aku rasakan. Aku mampu membohongi perasaan, dengan mengatakan bahwa aku tak memiliki rasa. Omong kosong! Aku benar-benar memiliki rasa itu. Rasa yang selalu ingin aku definisikan dengan satu pilihan kata yang tepat, hanya tak pernah kutemukan. Setiap aku ingin mengucapkannya, selalu ada sekat yang menghalangi mulut ini berbicara. Semakin aku berusaha tuk mengucapkannya, semakin kuat pula sekat itu menyakiti diriku, menyiksa dengan segala usaha hingga merobohkan diri, tenggelam pada lobang hitam tak berbatas.

Ya, aku diambang kematian.

Bukan raga, melainkan jiwa.

Ketidaksanggupanku beralasan. Terlalu rumit bila dijabarkan dengan gamblang. Sebuah cerita baru dalam kehidupanku justru membuatku berpikir ulang. Ingin rasanya waktu ini kukembalikan ke masa dimana momen itu mulai menjerumuskanku. Aku ingin mengubahnya, karena efek samping dari masa itu sangat menyakitkan hari ini. Ketika pikiran itu tercetus, justru aku tak mampu, bahkan untuk memikirkannya kembali. Karena itulah yang ia ucapkan. Terlalu kompleks, bahkan untuk bernafas pun aku tak dapat melepaskan pandangan darinya. Aku ingin dengan mudah mengatakan segala rasa yang ada karena dia, aku ingin membuat ia mengetahuinya. Aku tuliskan lewat permainan huruf dalam setiap tulisanku. Aku nyanyikan dalam penggalan lirik lagu yang mengingatkanku akannya. Aku tangiskan lewat mimpiku yang semakin menyakiti perlahan. Aku bukannya menikmati setiap luka yang ia goreskan. Aku hanya tak mampu membayangkan dengan segera tak lagi dapat berbagi makna dengannya. Aku bertahan dalam perih yang tak terkira. Retakan hati ini semakin melebur dengan airmata. Ia bermuara pada lautan semesta kesedihan yang tak terkira luasnya. Cahaya putih itu mulai memanggilku, memanggil jiwa yang sangat rapuh ini.

Aku bahkan tak berani berkata ‘aku kuat’ karena bisa saja satu luka lagi benar-benar mengirimku pada kematian jiwa. Raga ini tetap mampu hidup, tapi hanya akan ada kehampaan. Setiap langkahku tercekat, karena setiap langkah memicu airmata tuk mengaliri jejak yang tercipta. Airmata ini seharusnya tak boleh keluar. Aku seharusnya tegar, karena kesedihan hanya menghambatku membaca segala tanda semesta dalam pencarian kebahagiaanku. Tapi arus tangis tersebut tak mampu terbendung. Seakan memiliki kehendaknya sendiri, ia menari bebas di permukaan wajahku dan membenamkanku dalam sungai duka. Raga ini berjalan tanpa arah. Jiwa tak lagi ingin menemani. Jiwa terlalu tersakiti, hingga tak ada lagi rasa percaya untuk menemani raga, menikmati tiap waktu yang datang. Waktu? Bagi jiwa waktu tak lagi berupa kuantitas..Ia merindukan kualitas dari waktu, yang mengisahkan warna senja hingga kerlip bintang berpijar. Jiwa terpaku pada angan, membiarkan raga ini tertarik kuat oleh mekanik waktu yang selalu menanti detik selanjutnya. Entah hingga kapan aku akan mampu menahan jiwa ini agar tak benar-benar menghilang. Maka kukatakan aku berada di ambang kematian, karena jiwa ini tak lagi ingin berjalan sealur bersama raga…

[30012008]

Leave a comment

No comments yet.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s