Pilihan Eksistensialis Perempuan

Simone de Beauvoir menempatkan tubuh (perempuan) sebagai salah satu tema sentral dalam filsafatnya. Tubuh ini bukan masalah tubuh atau jiwa, melainkan tubuh yang dihidupi secara konkret oleh subjek. Beauvoir menunjukkan bagaimana budaya patriarki membuat perempuan menghidupi tubuhnya secara konkret bukan sebagai suatu kekuatan persepsi yang sudah ada di dalamnya, melainkan sebagai sebuah kekuatan asing yang melawan dirinya sendiri. Konsep gender menurut De Beauvoir disebutkan dalam kalimat: “One is not born, but rather  becomes, a woman” (seseorang tidak dilahirkan sebagai perempuan, tetapi menjadi perempuan). Bukan hanya faktor biologi, sosiologi atau ekonomi saja yang menentukan makna seseorang menjadi perempuan di dalam masyarakat, tetapi juga peradaban secara keseluruhan. Beauvoir mengkritik bahwa budaya patriarki telah menomorduakan perempuan dan nilai-nilai eksistensi perempuan ditentukan secara sepihak oleh laki-laki.

Tubuh sebagai kekuatan persepsi yang artinya sebagai alat kita untuk menangkap dunia, karena itu tubuh memiliki kesadaran. Manusia dengan kesadarannya menyadari dirinya yang bertubuh dengan seluruh kondisi eksistensialnya. Sebagai kekuatan persepsi, maka tubuh kita merupakan penghubung dengan dunia. Persoalan mengenai penindasan perempuan diawali dengan adanya beban reproduksi dalam tubuh perempuan. Perempuan juga mengalami pembatasan ruang gerak karena adanya pandangan bahwa tubuh perempuan adalah milik suami dan masyarakat sehingga tidak pantas melakukan aktivitas di luar rumah seperti layaknya laki-laki. Bidang-bidang seperti ekonomi, politik, sosial, budaya, seni dan bidang-bidang lain dikuasai oleh laki-laki. Perempuan dianggap hanya boleh bekerja di dalam rumah; melayani suami dan memelihara rumah. Selain itu ditekankan juga bahwa perempuan akan menjadi ibu karena hanya mereka yang memiliki rahim dan bisa melahirkan. Perempuan dalam rumah seperti membersihkan debu yang tidak hilang-hilang. Semakin ia berusaha keras untuk menghilangkan debu itu, debu itu tidak dapat dihilangkan karena akan selalu datang. Perjuangannya ini dikatakan de Beauvoir seperti melawan setan. Peminggiran perempuan ini mengakibatkan perempuan tidak memiliki akses ke sumber produksi lain. Perempuan menjadi tidak mandiri dan tidak produktif secara ekonomi sehingga ia tergantung sepenuhnya secara ekonomi pada suaminya. Sebenarnya tidak ada masalah pada pekerjaan domestiknya itu, hanya saja yang kemudian menjadi masalah adalah pekerjaan domestik tidak diberi nilai oleh budaya patriarki. Masyarakat dan negara menganggap rendah ‘pekerjaan’ sebagai ibu. Ini sekaligus sebagai penegasan bahwa perempuan adalah makhluk yang tak berdaya dan tidak produktif.

Perempuan haruslah hidup otentik. Maka upaya untuk mencapai pembebasan tersebut dapat melalui beberapa cara, yakni:
→    hidup otentik.
→    hidup dalam nilai-nilai uang telah ditentukan orang lain.
→    hidup dengan perjuangan untuk terus-menerus menentukan diri secara bebas di hadapan ketidakpastian hidup.
→    Hidup dengan tatanan yang “seolah-olah” sudah dipastikan bagi dirinya.
Di hadapan pilihan-pilihan ini, perempuan harus dapat berpikir dengan kritis dan berani untuk berkata TIDAK terhadap hal-hal yang dianggapnya tidak sesuai dengan nilai yang diyakininya. Oleh karena itu upaya pembebasan tubuh perempuan sangat diperlukan terutama dalam mencapai hidup perempuan yang otentik sesuai dengan eksistensinya sebagai perempuan. Perempuan haruslah menciptakan sendiri cara dan pola hidup.

Membebaskan tubuh perempuan dari nilai-nilai yang tidak dipilihnya bukan berarti mengasingkan perempuan dari keperempuanannya, melainkan agar perempuan dapat mengartikan sendiri makna eksistensinya di dunia dengan tubuhnya sendiri. Keotentikan ini lebih merupakan keberanian bersikap tidak dogmatis terhadap nilai dan keyakinan orang lain ataupun diri sendiri. Keotentikan ini harus diwujudkan pula dalam konteks intersubjektif, bukan karena individu memerlukan masyarakat, tetapi lebih pada dalam masyarakatlah terdapat materi untuk membentuk diri. Semangat persahabatan dan permusuhan di antara manusia, dalam masalah ini tentunya relasi antara perempuan dengan laki-laki, menjadi tantangan bagi perempuan untuk menjadi otentik tanpa harus menekan laki-laki dan perempuan lain. Karena perjuangan kebebasan perempuan bukan berarti perempuan menjadi seperti laki-laki yang menindasnya, bukan sebagai usaha membalas dendam melainkan sebagai perjuangan bagi kemanusiaan. Perempuan tentu lebih mengerti dan tahu arti dari persahabatan, kemurahan hati, kebebasan, ketulusan, serta memberi dan menerima dalam keterbukaan hati, karena perempuan lebih mengeluarkan usaha yang ekstra dalam memperjuangkan kebebasannya.

Leave a comment

No comments yet.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s