Mempermasalahkan Keperawanan

Pergerakan perempuan gelombang pertama diwarnai pula dengan sumbangan pemikiran dari kalangan feminisme radikal. Kekhasan mereka adalah fokus yang mereka angkat berkisar dari persoalan tubuh dan seksualitas. Menurut para feminis radikal ini, persoalan mengenai penindasan terhadap perempuan ini berawal dari penindasan terhadap tubuh dan seksualitas perempuan. Ketika perempuan tidak lagi memiliki hak atas tubuhnya, maka ia pun kesulitan untuk mendapatkan akses pada hal-hal lainnya. Hal ini dikarenakan, tubuh merupakan simbol nyata keberadaan individu. Ketika tubuh perempuan diatur oleh laki-laki maupun masyarakat, maka keberadaan perempuan tidak lagi mendapat pengakuan. Akibat dari pengaturan ini, banyak hal-hal yang berkaitan seksualitas perempuan yang juga diatur. Seksualitas bagi perempuan tidak layak untuk dibahas, karena dianggap tabu. Berbeda dengan laki-laki yang semakin bangga dengan penisnya, maka perempuan justru semakin terepresi karena ia tidak dapat mengenal vaginanya. Ketidakpahaman perempuan akan tubuh dan seksualitasnya inilah yang membuat perempuan kemudian bergantung pada pemahaman yang diberikan oleh pihak lain diluar dirinya, dalam hal ini masyarakat patriarkal.

Permasalahan yang berawal dari tubuh ini ternyata berkembang luas. Bagi kaum feminis radikal, penindasan tubuh ini tidak mendapatkan perhatian dari masyarakat karena dianggap bahwa tubuh dan seksualitas merupakan masalah dalam lingkup privat. Oleh sebab itu, tidak ada perlindungan dan jaminan yang dapat diberikan. Hukum hanya menjamin kegiatan individu pada ruang publik, sedangkan pada kenyataannya banyak pula kegiatan dalam ruang privat yang justru merupakan efek dari pengaturan pada ruang publik. Muncul pendobrakan dari feminisme radikal yang menginginkan sebuah jaminan bagi tubuh perempuan. Bagi mereka permasalahan yang selama ini berada dalam ruang privat, juga merupakan bagian dari ruang publik (the personal is political). Perjuangan mereka dimulai dari memperjuangkan isu-isu kesehatan, hal yang terdekat dengan tubuh perempuan. Perempuan memiliki kesulitan mengenal reproduksinya, karena persoalan kesehatan perempuan saja diatur oleh laki-laki. Kebijakan-kebijakan yang dihasilkan sangat bias dan akibatnya perempuan tidak memiliki hak untuk mendapatkan jaminan terhadap kesehatannya. Lebih lanjut lagi, para feminis radikal pun mempelopori adanya hak bagi perempuan untuk memilih dalam hal aborsi. Pada dasarnya yang diinginkan oleh para feminis radikal adalah hak bagi setiap perempuan untuk memilih apa yang terbaik bagi tubuhnya, dari kacamata perempuan itu sendiri.

Problem lain yang muncul adalah mengenai keperawanan. Keperawanan bagi kebanyakan negara, salah satunya Indonesia, merupakan hal yang sangat tabu untuk dibahas dan juga merupakan ‘kadar pengukur kemuliaan’ perempuan. Perempuan yang sudah tidak perawan sebelum menikah resmi akan dianggap sebagai perempuan tidak baik-baik. Akibatnya, stigma yang menempel adalah, perempuan tidak boleh aktif secara seksual sebelum ia menikah. Ada perbedaan proses seksual antara perempuan dengan laki-laki. Laki-laki sejak kecil tidak dilarang untuk mengenal penisnya. Mereka bahkan bangga dengan keberadaan penis mereka, karena identik dengan punya ayah mereka sebagai si penguasa. Tak hanya kesadaran akan penis, laki-laki pun tidak mendapat kecaman ketika mereka mulai merasakan rangsangan seksual. Masturbasi pun dianggap sebagai hal yang wajar. Pada perempuan, sejak kecil mereka tidak boleh menyentuh vagina mereka. Akibatnya, vagina perempuan semakin tersingkirkan dan tidak dikenali. Perempuan juga harus dapat menahan hasrat seksual yang ada, karena apabila perempuan sampai melakukan kegiatan-kegiatan seksual, ada kekhawatiran keperawanannya akan ‘hilang’. Makna mengenai keperawanan itu sendiri sebenarnya harus dipertanyakan. Ketika dikatakan bahwa penentu perempuan masih perawan atau tidak adalah dari selaput daranya, stigma ‘liar karena melakukan hubungan seks diluar nikah’ yang melekat pada perempuan tidak perawan bisa jadi bias. Robeknya selaput dara tidak hanya melalui hubungan seks atau masturbasi. Bisa jadi perempuan itu pernah jatuh atau mengalami kecelakaan yang merobek secara tidak sengaja selaput daranya. Pemahaman semacam inilah yang kurang dimengerti di masyarakat. Mereka mengukur perawan tidaknya seorang istri dari ‘darah’ pada malam pertama tanpa mau memperhatikan bahwa perempuan punya aspek berbeda dalam memperlakukan tubuhnya. Ada pengalaman yang tidak mau didengar oleh masyarakat patriarkal mengenai tubuh perempuan.

Keperawanan menjadi langkah awal bagi masyarakat patriarkal untuk memiliki perempuan. Semakin banyak usaha yang dilakukan mengatasnamakan ‘perlindungan dan jaminan’ terhadap perempuan. Padahal secara tidak langsung mereka ingin mengatakan, perempuan adalah aset masyarakat sehingga segala sesuatu yang berkaitan dengan perempuan harus menjadi perhatian publik untuk diatur. Muncullah tindakan-tindakan lain yang mengekang perempuan. Demi menjaga bentukan perempuan baik-baik, maka dibuatlah aturan-aturan terhadap cara berpakaian. Alasannya terdengar ‘baik’, agar tidak terjadi pelecehan seksual. Seharusnya bukan perempuannya yang diatur, melainkan pikiran laki-lakilah yang seharusnya diatur. Dibalik problem seperti keperawanan dan persoalan seksual, terdapat motif patriarki untuk melanggengkan kekuasaan mereka. Sehingga ketika kita menggunakan kacamata feminisme radikal, kita akan melihat bahwa sebenarnya yang dipermasalahkan bukan sekedar keperawanan itu, tetapi dibalik ketidakberdayaan perempuan akan tubuhnya, perempuan akan semakin mudah diatur. Oleh sebab itu, perempuan harus berani untuk berbicara atas nama tubuhnya. Ada permainan politik patriarkal yang ingin membungkam perempuan, maka perempuan pun harus berani mengangkat politik tubuhnya, demi segala aksesnya sebagai bagian dari masyarakat.

Sayangnya keekstriman feminisme radikal cenderung bias. Beberapa pendapat bahkan menganjurkan agar perempuan tetap pada lingkungan perempuan. Laki-laki tidak lagi diperlukan. Padahal dalam relasi di masyarakat, kita tidak hanya berinteraksi dengan perempuan, tetapi juga dengan laki-laki. Kecenderungan menjadi lesbian pun dianggap tidak apa-apa karena relasi antar perempuan dianggap merupakan relasi terbaik. Ketika pasangan lesbian ini tidak memiliki pemahaman mengenai perspektif feminis, akan tetap ada bentuk dominasi, bahkan lebih menyedihkan karena justru dilakukan oleh perempuan lain. Seharusny disadari bahwa penindasan bukan lagi akiba jenis kelamin. Ada hal yang lebih inti, yakni penindasan dalam tataran pemikiran. Perempuan pun bisa berpola pikir patriarki, sehingga yang dibongkar seharusnya cara berpikir masyarakat, bukan sekedar mempertahankan sisterhood.

1 Comment

  1. yuuk!!kenapa sih kudu keperawanan aja yang dibahas???gantian dunkzt!perjaka jg penting kaleee!


Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s