Memanusiakan Perempuan

Sebenarnya apa yang menjadi kriteria untuk disebut sebagai manusia? Sebagai makhluk hidup jelas akan dikelompokkan sesuai fungsi biologisnya seperti bagaimana tubuh memproduksi keringat, bagaimana proses bernafas, kondisi reproduksi, dan proses tubuh lain yang kemudian dapat dibedakan menjadi perempuan atau laki-laki. Namun, keadaan-keadaan tersebut tentu tidak akan dapat membedakan manusia dengan binatang. Ada binatang yang memiliki proses tubuh seperti manusia, maka dari itu manusia dibedakan dari binatang, karena manusia memiliki akal budi. Penggunaan rasiolah yang mengunggulkan manusia dari makhluk hidup lainnya.

Ternyata permasalahan tidak berhenti pada masalah rasio. Ada perbedaan perlakuan yang kemudian dialami oleh salah satu jenis kelamin manusia, yakni perempuan. Perempuan mengalami berbagai macam bentuk penghinaan sebagai manusia, terutama karena ia dianggap sebagai warga kelas dua dan hak-haknya diatur oleh laki-laki. Kondisi ini sudah sangat mengakar dalam masyarakat dan berlangsung dalam waktu yang sangat lama. Inkonsistensi inilah yang dipelihara oleh masyarakat patriarkal, sebagai wujud arogansi mereka. Akibatnya terciptalah kesesatan dalam berpikir yang sudah sangat sulit untuk dicari akar permasalahannya. Satu-satunya cara adalah dengan berani membongkar pola berpikir masyarakat dan mengembalikan konsistensi bahwa perempuan adalah manusia. Hal tersebut dapat dimulai dengan menganalisa premis-premis berikut.

Semua manusia memiliki akal budi dan rasio.

Perempuan adalah manusia.

Perempuan memiliki akal budi dan rasio.”

Ketika masyarakat mengunggulkan rasio sebagai keistimewaan manusia, maka mereka tidak boleh melupakan bahwa perempuan juga memiliki kemampuan berpikir yang sama dengan laki-laki. Oleh karena itu perempuan pun harus merebut kembali haknya untuk disebut sebagai manusia. Banyak faktor yang mempengaruhi posisi perempuan sebagai ‘Yang Lain’ dalam masyarakat. Tradisi dalam budaya merupakan salah-satu penyebabnya. Ada kecenderungan menggunakan bahasa ayah dalam setiap pemaknaan hidup membuat perempuan kesulitan untuk masuk dan mengerti pola kehidupan yang normal berjalan. Ketidakmengertian masyarakat akan pengalaman perempuan juga yang memicu keadaan yang timpang terhadap perempuan.

Perempuan kemudian lebih banyak dijadikan objek penelitian, dan mengatasnamakan ilmu pengetahuan, segala sesuatu yang didapat dari penelitian tentang perempuan ini dijadikan hasil mutlak terhadap perempuan. Baik dari pengaturan tingkah laku, maupun dalam penempatan di masyarakat, semua harus sesuai dengan aturan yang dibentuk dari bahasa patriarkal ini. Sesuai dengan konsistensi perempuan yang memiliki rasio, maka perempuan tidak tinggal diam. Kecenderungan manusia yang haus akan kebenaran membuat perempuan juga mencari kebenaran bagi mereka. Sebagai imbalan atas perjuangan mereka, kebenaran-kebenaran itu pun datang dan mulai mendukung perjuangan perempuan mengambil kembali posisinya sebagai manusia.

Muncullah berbagai pergerakan perempuan yang menginginkan kesetaraan dalam masyarakat. Pertentangan terhadap segala penelitian yang mengobjekkan perempuan menunjukkan sebuah kemajuan dalam ilmu pengetahuan yakni kesempatan bagi perempuan untuk mengembangkan studi perempuan, yakni studi yang dipersembahkan untuk perempuan sebagai penghargaan atas pengalaman yang selama ini tidak pernah diangkat. Sekarang kita coba mengkaitkan premis-premis di awal pembahasan dengan pola penelitian untuk perempuan. Pada bentuk studi atau penelitian tentang perempuan, maka jelas perempuan tidak membutuhkan rasionya, karena ia hanya objek. Si penelitilah, yang biasanya laki-laki, yang akan menggunakan rasio untuk mencapai sebuah hasil pengetahuan. Hasil tersebut kemudian tidak dapat dibantah oleh perempuan tersebut, bahkan ia harus menerima hasil itu sebagai bagian dari dirinya. Lain halnya dengan studi atau penelitian untuk perempuan. Pada bentuk studi semacam ini, perempuan (baik peneliti maupun sumbernya) akan memiliki kesempatan yang sama untuk menggunakan rasionya. Si peneliti tentu akan memikirkan konklusi dari penelitiannya, tetapi perempuan yang menjadi sumber juga harus memikirkan pengalamannya, karena ia akan menyadari bahwa hasil studi tersebut merupakan sumbangan terhadap pengetahuan bagi perempuan lain. Oleh sebab itu perempuan bukan lagi objek, melainkan ia adalah subjek dalam ilmu pengetahuan.

Studi untuk perempuan mewujudkan konsistensi dari perempuan sebagai manusia. Selain membenarkan bahwa perempuan pun berpikir menggunakan rasionya, studi ini juga mengangkat identitas perempuan yang selama ini dikubur oleh masyarakat patriarkal. Masyarakat melupakan identitas terpenting dalam penentuan kehidupan. Yakni keberadaan identitas perempuan. Dalam proses penciptaan kehidupan, tentu tidak dapat lepas dari unsur feminin dan maskulin. Kalau yang selalu diakui hanya identitas laki-laki sebagai simbol maskulinitas, maka secara tidak langsung, keberadaan kita dalam kehidupan tidak dapat diakui. Kesesatan berpikir semacam inilah yang turut menimbulkan disharmonisasi dalam masyarakat. Oleh sebab itu, dengan memulai perjuangan mengembalikan identitas perempuan pada tempatnya (yakni setara dengan identitas laki-laki), alam semesta akan menemukan kembali jalannya yang harmonis.

Leave a comment

No comments yet.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s