Mengubah Paradigma Masyarakat yang Bias Gender

Kita menyadari bahwa masyarakat tempat kita berinteraksi mengalami ketimpangan. Sejak zaman dulu yang berperan dalam masyarakat adalah laki-laki. Perempuan hanya diberi tempat di ranah domestik dan tidak mendapat akses ke ruang publik. Akibatnya, ideologi patriarkal semakin absah dalam masyarakat dan mengakar dalam segala bidang, baik dalam ekonomi, politik, hukum, budaya, maupun ilmu pengetahuan. Semakin bertambah zaman, semakin sulit pula perempuan memasuki wilayah-wilayah tersebut. Pada saat perempuan menyadari bahwa mereka bagian dari peradaban, budaya patriarkal ini pun semakin berusaha untuk menutup kesempatan bagi perempuan di ruang publik. Caranya dengan melegalkan bahasa patriarkal dalam segala hal, terutama lewat ilmu pengetahuan dan jalur pendidikan.

J.J. Rousseau, seorang filsuf Prancis, adalah salah satu tokoh yang mengabsahkan patriarki terutama dalam konsep pendidikan. Ia menerbitkan novel berjudul Emile yang membedakan pendidikan antara perempuan dan laki-laki[1]. Dalam novelnya ini, Rousseau ingin menunjukkan bahwa perempuan tidak mungkin berada dalam lingkup akademis yang logis dan kritis. Sebaliknya, untuk dapat mengikuti kehidupan laki-laki, perempuan haruslah mendapatkan pendidikan yang membekali mereka sebagai calon istri yang baik. Alasan di balik pembedaan pendidikan ini adalah, perempuan memiliki sifat emosional yang lebih kompleks dibandingkan laki-laki. Pendidikan tersebut misalnya mengenai musik, sastra, dan keterampilan rumah. Dengan belajar hal-hal yang semacam itu, perempuan diharapkan mampu mengimbangi pola hidup laki-laki yang penuh dengan pemikiran. Pendidikan untuk laki-laki sendiri mencakupi bidang politik, hukum, filsafat, ekonomi, dan pendidikan formal lainnya. Jelas novel ini sangat misoginis karena menunjukkan bahwa perempuan takkan mampu mengikuti pola pendidikan laki-laki. Perempuan tidak dianggap sebagai manusia, ia dianggap sebagai submanusia. Akibat dari novel ini adalah, dalam masyarakat, semakin diyakini bahwa memang pendidikan untuk perempuan harus dibedakan dari pendidikan laki-laki. Perempuan hanya pantas dididik sebagai calon ibu rumah tangga yang baik, untuk mengimbangi suaminya nanti.

Muncullah kritik dari seorang feminis bernama Mary Wollstonescraft dalam bukunya Vindication of The Rights of Women (1789). Jika dikatakan bahwa perempuan harus dapat mengimbangi laki-laki dalam kehidupan, perempuan pun haruslah mengerti bidang-bidang yang dipelajari juga oleh laki-laki. Bagaimana mungkin perempuan dikatakan mengimbangi kalau ia tidak mengerti sama sekali pembicaraan yang dilakukan oleh laki-laki. Justru perempuan akan semakin mengalami penekanan karena ketidakpahamannya itu. Kondisi yang akan terjadi adalah, ketika suami pulang dari bekerja, lalu ia mengeluh mengenai keadaan di tempatnya bekerja termasuk mengenai isu yang sedang terjadi di masyarakat, si istri hanya dapat menjadi pendengar. Istri tidak akan berani memberikan pendapatnya karena tidak memiliki pengetahuan sama sekali. Walaupun ia berpendapat, suami tidak akan menanggapi karena menganggap bahwa istrinya tidak mengetahui apa yang sedang terjadi. Istri pun mengalami subordinasi. Oleh karena itu, Wollstonescraft mengkritik pembedaan pendidikan oleh Rousseau dan mengatakan bahwa, sebagai manusia, perempuan pun berhak mendapatkan pendidikan yang sama dengan laki-laki agar dapat berpartisipasi dalam ruang publik.

Permasalahan pun berkembang, apakah benar untuk mencapai kesetaraan antara perempuan dan laki-laki hanya lewat kesempatan pendidikan yang sama untuk semua?  Kita andaikan kondisi masyarakat tidak mengalami ketimpangan sejak lama dan posisi perempuan dan laki-laki sama. Maka, ada kemungkinan masyarakat tidak mengenal konsep patriarki dan subordinasi terhadap perempuan. Namun, kondisi yang terjadi tidak demikian adanya. Justru karena pola pikir masyarakat, budaya, dan sejarah yang terbentuk sudah mengakar bersama patriarki, sulit bagi perempuan untuk begitu saja mendobrak pusat kekuasaan itu.  Dapat dikatakan bahwa pendidikan untuk semua bukanlah satu-satunya solusi mencapai kesetaraan. Memang pendidikan adalah langkah penting dalam membuka akses yang sama bagi perempuan dan laki-laki. Kita bahkan sudah melihat bahwa pada zaman ini, perempuan pun memiliki kesempatan untuk mencapai pendidikan yang sama tingginya dengan laki-laki. Ternyata bentuk opresi terhadap perempuan tidak mengenal pendidikan. Di semua tingkatan kelas, pendidikan, dan semua sektor kehidupan tetap ada penindasan terhadap perempuan. Tidak dapat disimpulkan begitu saja bahwa ketika perempuan yang berpendidikan tinggi ataupun memiliki kehidupan yang mapan, tidak akan mengalami opresi. Justru usaha masyarakat patriarkal untuk menutup akses bagi perempuan akan semakin kuat. Hal ini terlihat dari segala bentuk stereotipe tentang perempuan yang tetap melekat pada paradigma masyarakat.

Lalu, bentuk pendidikan seperti apakah yang seharusnya dipraktekkan sebagai usaha pencapaian kesetaraan gender?  Jelas pendidikan yang tidak bias gender. Selama ini ilmu pengetahuan telah dikuasai oleh bentuk pengetahuan dan bahasa patriarkal. Akibatnya, pola pemikiran yang terbentuk lebih terfokus pada ilmu pengetahuan yang positivistik, mengarah pada pengobjekan pengetahuan. Ada usaha dikotomis dalam pengetahuan (benar – salah dalam mencari kebenaran). Efek dari pola pengetahuan semacam ini terlihat pada saat individu masuk dalam masyarakat. Segalanya dipandang pada skala ekstrem: benar – salah; hitam – putih; perempuan – laki-laki.  Bahasa pun terdikotomi semacam itu, sehingga dalam membentuk budaya, nilai-nilai dalam masyarakat ataupun hukum yang berlaku tidak memandang manusia sebagai subjek, tetapi lebih melihat manusia sebagai objek untuk dianalisis. Masalah bahasa ini pun semakin rumit ketika perempuan dimasukkan sebagai bagian dari masyarakat. Mengingat para pelaku dalam masyarakat adalah laki-laki, perempuan pun semakin diobjekkan dengan tidak memiliki kesempatan untuk membahasakan pengalamannya. Perempuan dipaksa untuk mengikuti aturan yang sudah ada.

Segala bentuk pengaturan pun dibuat untuk perempuan, termasuk menentukan tubuh dan identitasnya. Karena itu pendidikan yang ramah gender harus diajarkan baik kepada perempuan maupun laki-laki. Pendidikan ini tidak hanya dimulai dari pendidikan formal seperti sekolah, melainkan harus dimulai juga dari pengasuhan di keluarga. Usaha untuk membongkar bahasa ayah (bahasa patriarkal) harus dimulai dari pengenalan identitas ibu. Memakai teori dari Julia Kristeva, yakni mengenai maternity[2], sebagai bagian utama dalam bahasa Kristeva sebagai jembatan antara alam dan budaya. Identitas seorang ibu merupakan hal yang paling penting dalam proses subjek dan kesadarannya. Tubuh ibu menjamin keberlangsungan kehidupan spesies. Ketika seorang ibu kehilangan identitasnya anak tidak akan pernah ada. Identitas anak ini akan muncul justru ketika si ibu sadar akan identitasnya sendiri. Kristeva kemudian mengenalkan istilah abjection, yang merupakan sebuah bentuk penolakan terhadap yang marginal, baik individu maupun kelompok. Karena itulah, teori ini sangat tepat untuk menjelaskan kembali identitas perempuan yang ditolak oleh masyarakat patriarkal.

Ketika identitas perempuan telah diakui, usaha pembongkaran bahasa patriarkal pun dapat dimulai. Berbagai interpretasi terhadap realitas sosial pun dapat dimengerti oleh perempuan karena bahasa masyarakat telah menerima pengalaman perempuan. Adanya kesepakatan semacam inilah yang memudahkan sebuah kurikulum pendidikan yang ramah gender sehingga perempuan dan laki-laki pun akan memiliki akses yang sama dalam menerima pengetahuan. Pada akhirnya, sebuah perombakan paradigma memerlukan kerja sama yang solid dari semua elemennya. Tidak hanya satu pihak, melainkan semua pihak memiliki tanggung jawab yang sama untuk memutuskan rantai kekerasan terhadap perempuan.

Daftar Acuan

Kristeva, Julia. “Stabat Mater”. Feminist Social Thought. Ed. Diana Tietjens Meyer. New York: Routledge, 1997. 300—319.Tong, Rosemarie Putnam. Feminist Thought. Australia: Allen & Unwin, 1998.

[1] Tong, Rosemarie Putnam. Feminist Thought. Australia: Allen & Unwin, 1998. Halaman 13.

[2] Kristeva, Julia. “Stabat Mater”. Feminist Social Thought. Ed. Diana Tietjens Meyer. New York: Routledge, 1997. Halaman 300.

5 Comments

  1. pie, tulisane ketjil sekalee..
    bahasannya lumayan berat, tulisannya susah kebaca; kombinasi yg membuat aku jd kesulitan mau baca😦

  2. maaf…udah usaha..tapi dasarnya gue ga ngerti supaya tulisannya besar gimana..yang ada semua jadi acak2an….

  3. PuuuUUUSSSsssiiiiiiiiiiiiinnnnnnnnnggggggggggg
    fONt-NYee geDHEEee bUUangEET,,,,biKiin maLEZZzzz baCa,,maapHH Yee

  4. duh ya maaf..dibilangin gue ga ngerti gimana ngaturnya..kalo ga suka ya maaf..
    kasih masukan lah jangan cuma bisa kritik..

  5. wah tulisannya bagus…
    berbakat juga jadi penulis…
    emang orang2 pada dirubah pandangannya tentang bias gender


Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s