Labirinku..

Namaku Putri. Ya, aku seorang perempuan. Dan aku hidup dalam kotak-kotak labirin. Bukan aku yang membuatnya, bahkan aku tak pernah tahu apa yang menantiku di setiap belokan. Yang aku tahu hanya aku tak boleh mencoba mengintip, kembali pada kotak yang kuinginkan, bahkan aku tak boleh menerobos dan  membuat jalanku sendiri. Setiap belokan-belokan yang membingungkanku akan membawaku kepada kotak istirahat, di mana akan kutemukan tugas yang harus kukerjakan. Entah sejak kapan aku berjalan dalam labirin ini. Tetapi seingatku semenjak aku mulai mengucapkan kata ‘becak’ – bukan ‘bapak’ ataupun ‘ibu’ seperti kebanyakan anak – aku sudah berjalan dalam kurungan ini. Saat itu perjalanan terasa lebih menyenangkan hingga saat ku mulai dapat membaca kalimat ‘Bona tahu bahwa Rong-rong yang mengambil balonnya’, sebuah peta dikirimkan padaku, jalan mana yang harus kutempuh (sekali lagi tanpa ada petunjuk, apa yang akan menantiku). Memberontakkah aku? Tidak. Karena aku terlalu takut. Aku takut bila aku memilih jalan yang lain maka aku takkan pernah sampai pada ujung labirin. Kuikuti perlahan setiap petunjuk, dan setiap tugas yang kudapat malah semakin memuakkanku. Pernah suatu ketika, aku ingin melihat apa yang menantiku dibalik tembok, tetapi aku terkejut karena diatas ada seseorang yang sedang memperhatikan aku. Aku hanya mempercepat langkahku dan tidak berani menengok ke atas kembali. Atau ketika aku ingin memilih jalanku sendiri – setelah nekat mengintip kembali – di mana aku tahu kotak yang akan kucapai akan membuatku tertawa, seutas tali kasat mata menarik tubuhku. Ternyata selama ini aku memang diikat. Aku tak dapat berjalan ke arah yang kumau. Dalam kesendirianku aku menangis, aku tak lagi kuat berjalan. Aku hanya duduk terdiam di sebuah pojok tanpa mau meneruskan perjalanan. Aku muak!

Ketika aku mulai bernafas pada detik ke 536.112.000 aku tak mau lagi diikat. Segala usaha kulakukan demi melepaskan ikatanku. Tetapi semakin keras usahaku, semakin eratlah tali itu mengikat. Aku mulai sesak…usahaku gagal. Tanganku penuh dengan luka, nafasku mulai pelan. Dalam kemuakkanku aku tetap melangkah sesuka hatiku hingga akhirnya kuputuskan untuk menerobos tembok labirin. Aku mengintip tanpa takut memandang kembali orang yang memperhatikanku. Memang tali itu tak pernah berhenti berusaha untuk menahanku, tapi aku kini kuat, dan aku lebih berani melangkah. Bagiku tak ada yang dapat menghalangiku, termasuk tali kasat mata itu! 

Pada mulanya aku mulai dapat tersenyum dalam langkahku. Tetapi ternyata, tugasku semakin sulit. Dalam setiap kotak aku seringkali dihadapkan pada pilihan pahit. Perasaanku lebih sakit daripada dulu. Karena ini pilihanku sendiri, yang kuperjuangkan hingga penuh luka. Perih itu semakin dalam ketika ada sebuah kotak – di mana aku menitipkan suka dukaku – mengusirku tanpa ada penjelasan. Aku hancur, tanpa bisa berkata apapun. Tubuhku melemah dan tali itu semakin kuat menarikku. Aku terseret, dibawa dengan paksa. Tetapi aku sudah tak punya tenaga lagi untuk melawan. Ah! Seandainya bunuh diri mudah kulakukan. Tetapi keberanianku saja tak ada. Akhirnya aku bertahan, sekuat tenaga kembali kulawan tarikan tali itu. Dengan langkah perlahan, aku berhasil berjalan pada belokan pilihanku. Ternyata memang labirin ini menyimpan sejuta misteri. Tak akan pernah kita ketahui dengan pasti apa yang menanti. Bahkan dalam setiap kotak, belum tentu seindah yang kubayangkan. Persoalanku semakin rumit setiap aku memasuki sebuah kotak. Tak hanya masalah dalam kotak yang kuhadapi, tetapi juga kuatnya tarikan tali ini yang selalu menyiksaku. Namaku Putri, ya aku seorang perempuan. Dan aku berjalan dengan penuh luka di setiap tubuhku dan menusuk di setiap relung jiwaku. Tak lagi kuperdulikan sekuat apa tali ini menarikku, tak lagi kuhiraukan tajamnya duri yang menusuk ketika aku menerobos tembok labirin demi kotak yang kumau, tak lagi kutakuti tatapan orang yang mengintaiku – karena pasti akan kutatap kembali – dan tak lagi kusesali setiap pilihanku. Aku akan terus berjalan walau dengan luka, mencari kotak mana lagi yang harus kumasuki… Apapun yang akan terjadi, aku yakin aku mampu mengatasinya. 

Aku akan terus mencari pintu keluarku…entah sampai kapan.

Leave a comment

No comments yet.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s