Ada Apa dengan Payudara?

Seringkah kalian memperhatikan lingkungan sekitar anda dan mendapati banyak kejadian yang berkaitan dengan payudara? Seperti, teman-teman anda yang perempuan merasa minder jika ingin berpakaian ketat karena bermasalah dengan ukuran payudara yang besar. Atau para lelaki yang tiba-tiba terdiam saat sedang ngobrol hanya karena ada perempuan berpayudara besar lewat. Mending kalau hanya dilihat, seringkali sampai melotot atau menyiuli si perempuan itu. Beberapa orang kemudian menganggap hal ini wajar, “toh biasa untuk laki-laki, lagipula kan salah si perempuannya dong pakai baju kok ketat-ketat”. Anggapan-anggapan ini yang sering tercetus.

Saya sendiri pernah mengalami pelecehan semacam ini. Dan ketika saya menegur orang tersebut, saya malah mendapat jawaban “ini kan mata saya, suka-suka saya dong!”. Dan dengan amat senang hati saya pun menjawab, “ini tubuh saya, dan cara mas sangat tidak sopan.” Sebelum payung saya jatuh kekepalanya. Kebanyakan perempuan yanga mengalami pelecehan semacam ini cenderung hanya diam, melotot dan mengomel sendiri. Yang berani melawan pun malah terkesan “ih norak banget sih..” Padahal perempuan pun memiliki kebebasan untuk berbicara, terutama apabila itu menyangkut tubuhnya. Sayangnya, pola pikir dalam masyarakat telah terbentuk, bahwa perempuan itu memang harus menjaga diri (termasuk berpakaian ‘sopan’) dan akhirnya tertanam rasa takut untuk melawan.

Efek-efek psikologis ini memang terbentuk sejak kecil, dalam keluarga, lalu sekolah, lingkungan pertemanan hingga lingkungan kerja mendukung terbentuknya pola pikir yang sangat melecehkan perempuan.  Posisi perempuan dalam rumah selalu ‘kalah’ dengan posisi ayah (simbol lelaki terkuat dirumah). Anak perempuan dan anak laki-laki akan mengalami perkembangan pola pikir yang berbeda. Adanya ketidakmengertian bahasa yang digunakan oleh ayah (bahasa ayah) yang kemudian membuat perempuan berkembang dengan rasa kecewa, tidak mengerti dan kecenderungan untuk takut melawan sistem yang ada. Dan ini akan terbawa hingga ia dewasa. Timbulah kecemburuan akan penis (meminjam istilah Freud : penis envy), sebagai simbol kekuasan patriarkhi. Kecemburuan akan penis ini sering disalahartikan bahwa perempuan iri karena tidak punya penis. Perempuan hanya memiliki klitoris yang diibaratkan sebagai penis kecil. Padahal bukan masalah punya penis atau tidak, yang dicemburui adalah posisi si pemilik penis (patriarkhi) yang dapat menguasai segala aspek kehidupan. Kebanggaan akan penis ini semakin menguat, dan membentuk stigma bahwa memang polapikir patriarkhi ini selalu yang menonjol, aktif, dan kecenderungannya destruktif.

Perempuan karena dianggap hanya menunggu (dalam segala artian) kemudian dikatakan sebagai pihak yang pasif, tidak memiliki tempat sedikitpun dalam segala aspek, kalau pun toh ada hanya sekedar kamuflase memenuhi kuota gender balance, padahal dalam prakteknya tetap terjadi banyak pelecehan dalam segala aspek.  Dengan segala kebanggaannya itu, laki-laki kemudian merasa memiliki hak mutlak atas segala keputusan termasuk bagaimana mereka mengatur tubuh perempuan.

Tindakan-tindakan pelecehan terhadap tubuh dan pemikiran perempuan kemudian semakin menjadi-jadi. Hingga akhirnya dianggap sebagai hal yang wajar. Hal yang wajar bagaimana? Kenapa ketika payudara yang menonjol, menjadi masalah dan dijadikan objek seksual, sedangkan penis tidak menjadi hal yang sama. Perempuan yang membicarakan hal-hal seksual dianggap sebagai perempuan liar, dan dikategorikan sebagai perempuan tidak baik-baik. Padahal antara payudara dan penis, tidak ada bedanya, keduanya merupakan bagian dari tubuh manusia. Laki-laki pun sebenarnya juga memiliki payudara (disebut dengan dada) yang kebetulan kadar hormonnya berbeda. Toh bila ada laki-laki yang payudaranya rada menonjol justru menjadi bahan ledekan teman-temannya.

Ada masalah apa sih sebenarnya laki-laki dengan payudara? Bukankah seharusnya hal itu yang dipertanyakan? Payudara yang selalu jadi objek seksual sebenarnya merupakan anugerah bagi kehidupan. Tanpa perlu bantuan apapun, ketika perempuan telah melahirkan dan harus menyusui, secara otomatis akan muncul air susu dari payudara perempuan. Bukankah justru yang harus dibanggakan adalah payudara? Kenapa justru laki-laki menganggapnya sebagai bagian dari objek seksual mereka? Ada banyak teori yang mengatakan, terutama dari para feminis psikoanalisa, bahwa sebenarnya laki-laki itu justru terlalu kagum dan cemburu akan keagungan dari payudara. Tetapi karena ego yang tidak mau mengakui ada hal yang dapat melebihi mereka, mereka membuat keadaan menjadi berbalik, termasuk melecehkan payudara perempuan. Kecenderungan pola pikir yang selalu ingin mendominasi, membuat laki-laki menutupi kelemahan mereka dengan memakai kodrat pada perempuan yang mereka buat kodisi bahwa perempuan memang lemah. Saat haid, perempuan dianggap kotor, lemah dan tidak dapat bekerja sebanyak laki-laki. Karena payudara, perempuan dianggap tidak dapat bergerak seleluasa laki-laki. Saat hamil, perempuan dianggap tidak sekuat laki-laki. Saat menyusui, dianggap merepotkan.

Coba kita balikkan keadaan. Perempuan haid, tidak semua merasa sakit (mengalami PMS). Ada yang tetap dapat beraktifitas seperti biasa. Payudara, bukan sebagai penghalang gerak, buktinya ada laki-laki yang geraknya juga terhambat karena masalah fisik, entah sakit atau kelebihan berat badan. Perempuan hamil, bukankah justru menunjukkan betapa kuatnya perempuan mampu membawa janin selama 9 bulan. Menyusui, memberikan nutrisi kepada anaknya. Dan itu semua datangnya dari tubuh perempuan. Hebat sekali kan tubuh perempuan?

Harus disadari oleh si perempuan sendiri, karena untuk berani mengubah pola pikir patriarkhi yang telah mengakar, tentunya akan lebih mudah ketika diawali dari satu, menular yang lain dan yang lain dan yang lain sehingga perubahan akan mudah tercapai. Ya, sedikit meniru cara kerja mlm mungkin, hanya saja produk yang ditawarkan adalah ‘bagaimana menghargai tubuh perempuan, tidak sebagai objek, tetapi juga sebagai tubuh manusia yang memberikan kontribusi bagi kehidupan.’ Para perempuan harus mulai menghargai tubuhnya sendiri, buatlah pilihan-pilihan hidup yang merupakan pilihan kita sebagai manusia yang sadar. Jangan membuat diri terbatasi oleh aturan-aturan yang sangat membatasi diri, sehingga membentuk pola pikir dan perilaku penakut. Coba dengan menghargai bagian-bagian tubuhnya sebagai kesatuan utuh diri, termasuk payudara. Jangan malah membuat jalan bongkok dan selalu minder bila pakaian yang dikenakan membentuk badan. Kepercayaan diri yang muncul justru akan memperkuat keotentikan diri. Dan tentu saja, semakin banyak orang yang terdekonstruksi pikirannya mengenai hal ini, tindak pelecehan seksual akan semakin mudah diredusir. Pada akhirnya harus kita sadari bersama, bahwa tubuh perempuan bukanlah objek semata, tetapi juga merupakan bagian dari alam semesta yang juga memiliki peranannya dalam kehidupan. Cheers..🙂

6 Comments

  1. yang jadi masalah sebenarnya apakah : payudaranya? atau pakaian yang menutupinya?

    kita contohkan saja masyarakat di pedalaman papua [yang masih ‘primitif’ tentunya] apakah mereka pernah bermasalah, dengan ketidak-pakai-bra-an mereka?
    jika ini masalahnya?pakaikan mereka busana.

    apakah bukan karena kita sudah terbiasa untuk memakai penutup, sehingga jika kita tidak mengenakannya, akan menjadi sesuatu yang tidak sesuai dengan norma masyarakat?
    jika ini masalahnya? biasakan kembali untuk hidup seperti dahulu kala, saat belum ada pakaian.
    [hehehe]

    *tulisannya kok gk ada jeda? kayak mbaca buku sambil lari-lari hehehe

  2. tubuh wanita itu seperti harta berharga….tak terkecuali payudara…

    cuman perbedaannya :

    jika seorang wanita membawa harta berharga di tempat umum.., sebisa mungkin dia akan menjaganya agar jangan sampai menarik perhatian para pencopet/penjambret…

    namun jika menyangkut tubuhnya…, kebanyakan dari mereka teledor untuk menjaganya agar terhindar dari pandangan para “pencopet/penjambret”…

    apa mungkin karena menurut mereka harga sepasang payudara jauh lebih rendah dari harga sebutir berlian berukuran sebesar bola tenis ?

    saran saya untuk para wanita….. : buatlah para “pencopet/penjambret” merasa kecewa karena “harta berharga” yang kalian bawa tidak dapat mereka “nikmati” disebabkan kalian melindunginya seolah-olah kalian sedang membawa sebuah barang berharga di tempat keramaian…

    hanya itu salah satu cara termudah untuk menjaga “barang berharga” anda agar tidak “kecopetan”

    tubuh wanita itu jauh lebih mulia dari tubuh laki-laki….., tapi saat wanita itu tidak dapat menjaga kemuliaan tubuhnya…., jangan heran jika tiba-tiba tubuh laki-laki bisa berada diatas tubuh wanita🙂

    sorry…, jika kalimat terakhir sedikit nyeleneh… cuman sekedar menginformasikan saja jika ada pikiran laki-laki yang tidak terpikirkan oleh wanita…

  3. Mas jack sapapun anda..thx atas pendapatnya..
    pada dasarnya saya adalah orang postmodern yang berani menerima segala transfer pengetahuan…
    tapi pada diskusi kali ini saya akan berada di titik radikal yang mengatakan bahwa transfer pengetahuan dari anda justru saya khawatirkan akan mendiskreditkan saya.
    untuk informasi, ketika anda mengatakan bahwa tubuh perempuan, payudara, adalah perhiasan, berarti anda menganggap bahwa perempuan hanya properti.
    pengangkatan perempuan hanya kamuflase karena pada akhirnya perempuan tidak punya hak atas tubuhnya. munafik kan?

    oleh karena itu saya menulis permasalahan ini untuk menunjukkan bahwa perempuan dan tubuhnya tidak dapat diatur oleh siapapun. saya kembalikan pertanyaan anda…kenapa bukan si PENCOPET itu yang diperbaiki pikirannya..justru perkosaan dan pelecehan seksual terjadi bukan karena PAYUDARA PEREMPUAN..tetapi karena ada laki-laki seperti anda yang merasa bahwa laki-laki yang mengatur tubuh milik perempuan…

    cheers..

  4. hallo uP,

    itu dia masalahnya… sang perempuan terlalu berharap banyak agar para ‘PENCOPET’ untuk memperbaiki pikirannya… sedangkan ‘PENCOPET’ tidak akan disebut sebagai ‘PENCOPET’ jika dia tidak men-‘COPET’

    sebagai laki-laki, yg secara default ter-setting sebagai ‘PENCOPET’, hanya kadarnya tergantung dari kekuatan imannya, saya justru heran dengan pemikiran wanita jaman sekarang yang memasang ‘LELANG’ atas tubuhnya dengan alasan sebagai hak atas tubuhnya

    jika itu alasannya, maka tidak ada bedanya jika ‘PENCOPET’ juga berpendapat bahwa alasannya untuk men-‘COPET’ juga sebagai hak atas tubuhnya, jadi dengan pertanyaan yang sama…. kenapa bukan si wanita itu yang diperbaiki ahlaknya ? baik cara berpakaian maupun cara bersikap…

    karena uP menulis permasalahan ini untuk menunjukkan bahwa perempuan dan tubuhnya tidak dapat diatur oleh siapapun, maka itu juga sama artinya bahwa laki-laki dan tubuhnya tidak dapat diatur oleh siapapun

    jadi jalan tengahnya adalah: perempuan dan laki-laki harus menjaga hak serta kewajibannya dengan cara menjaga ahlak masing-masing, salah satunya adalah bersama-sama menjaga cara berpakaian dan cara bersikap, tak terkecuali…laki-laki maupun wanita

    fair khan…?🙂

    greetings

  5. Menurut saya tubuh perempuan memang mengagumkan, hanya saja cara orang (Laki2) menghargainya sangat bergantung pada kebudayaannya, pendidikan dan kehormatannya.

    Cara mengagumi tubuh perempuan dengan menyiul-nyiulkannya apalagi menyentuhnya adalah cara laki-laki yang tidak terhormat, memiliki budaya yang primitif dan bisa jadi tidak berpendidikan.

    Saya kagum ketika melihat tubuh perempuan yang “indah”, tetapi saya memilih cara yang lebih positif untuk mengaguminya. Dengan tidak membuat perempuan itu malu karena tubuhnya sedang diperhatikan, apalagi dengan menggodanya.

    Jadi, menurut saya tidak ada hubungan yang berarti mengenai bagaimana perempuan itu berbusana, yang lebih berperan adalah bagaimana latar belakang orang yang melihat.

    Namun, mengingat di Jakarta ini banyak laki-laki yang tidak terhormat, tidak berbudaya dan tidak berpendidikan, ada baiknya untuk memperhatikan penampilannya, khususnya dalam berbusana.
    Ketika Anda berada pada resepsi mewa di Hotel misalnya, sah-sah saja anda manggunakan gaun yang “wah”.
    Tetapi ketika anda harus berbelanja di Senen misalnya, toh tidak ada gunannya tubuh anda dikagumi dengan tidak hormat oleh laki-laki yang tidak terhormat.

    Saya tidak menyalahkan siapapun, tetapi ada baiknya tidak menaruh ikan di depan kucing jika kita tidak ingin ikan tersebut dimakan kucing. Kita tidak dapat menyalahkan kucing yang mencuri ikan, karena sampai kapanpun kucing akan mencuri ikan.

  6. okay saya setuju dengan pernyataan anda yang mengatakan bahwa pakaian tidak menjadi patokan.
    tetapi anda justru menggiring pemikiran anda sendiri dengan mengatakan bahwa ” sebagai laki-laki” bla bla bla.. berarti anda tetap menganggap bahwa boleh dong melihat, asal gak ketahuan, tetapi dalam pikiran terdalam ada imajinasi lain? wah berbahaya dong…

    dan lagi pula.. ini bukan analogi mengenai kucing dan ikan. ini adalah bagaimana kita menghargai eksistensi perempuan, tanpa ada batasan.

    btw thx lho..


Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s