Makna yang Tidak Pernah Tunggal

Ingat ketika kecil, seringkali kita dibacakan dongeng-dongeng sebelum tidur, yang selalu menggambarkan yang jahat kalah dengan yang baik. Lalu setelah dibacakan, orangtua kita akan mengatakan “makanya nak, kalo jadi anak tuh yang baik, biar ga dimakan nenek sihir. Nanti kalo kamu jahat, bisa-bisa kamu disamain dengan nenek sihir lho..” Peran jahat selalu identik dengan ibu tiri, nenek sihir. Memang banyak peran jahat lain, tapi lebih banyak digambarkan sebagai perempuan tua yang sangat sirik pada kehidupan putri kecil dan berusaha berkuasa. Akhirnya anak-anak kecil banyak yang takut bila mendengar istilah ibu tiri dan selalu menganggankan menjadi seorang ‘cinderela” atau menjadi pangeran yang baik hati nan tampan. 

Inilah yang kemudian terjadi pada teks Calon Arang. Pembaca memiliki kecenderungan menerima begitu saja pesan moral yang disampaikan dalam cerita tanpa mencoba melihat  adanya permainan tanda yang hadir. Kenapa harus seorang nenek, anda yang menjadi si jahat? Apakah ini menandakan ketika perempuan menjadi tua, menjanda akan mengalami frustasi dan bertindak diluar batas kewajaran? Tentu tidak kan? Bukankah justru banyak juga dalam kehidupan nyata yang masih muda, ataupun berjenis kelamin laki-laki yang merupakan penjahat, pemerkosa dan seharusnya dibasmi? Inilah yang kemudian, bagi filsafat bahasa, menjadi topik yang sangat menarik untuk dibahas. Tanda-tanda yang hadir mulai dibongkar satu-persatu yang dapat saja menghasilkan sebuah onterpretasi baru. Interpretasi ini tidak dapat berhenti begitu saja, karena interpretasi ini akan menghasilkan tanda baru yang dapat dibongkar kembali, berulang-berulang dan berulang.Teori ini bernama semiotik. Semiotik merupakan istilah yang berasal dari kata Yunani yaitu semion yang berarti tanda.

Dalam ilmu semiotik ini, yang dipelajari adalah sistem tanda seperti: bahasa, kode, sinyal dan lain sebagainya. Namun, seringkali ilmu ini diasumsikan dengan ilmu yang mempelajari tanda nonbahasa. Ini dikarenakan bahasa secara umum telah diakui sebagai memiliki keunikannya sendiri dan bersifat otonom yang dipelajari dalam linguistik. Sehingga, dari pengertian ini, kita ketahui bahwa linguistik merupakan semiotik yang khusus mempelajari sistem tanda yaitu bahasa. Semiotik merupakan sebuah teori dan analisis berbagai tanda dan pemaknaan yang tidak hanya sebagai metode kajian (decoding), melainkan juga telah berkembang sebagai metode penciptaan (encoding). Pada bidang tertentu, semiotik digunakan sebagai sebuah paradigma (baik dalam pembacaan maupun penciptaan) karena adanya penggunaan tanda, pesan, kode yang mengatur serta orang-orang yang terlibat di dalamnya.

Tanda dalam semiotik bukan lagi sekedar tanda semacam “warna lampu lalu lintas” dalam kehidupan sehari-hari, tetapi telah merambah pada arti tanda yang lebih luas. Semiotik sangat memperhatikan mengenai pembentukan makna dan representasinya dalam berbagai bentuk, dan banyak digunakan dalam teks dan media. Sebuah teks dapat diinterpretasikan secara luas, karena bagi semiotik, teks bentuknya bermacam-macam, dapat berbentuk verbal maupun non-verbal ataupun keduanya. Tanda dalam teks merupakan hasil konstruksi dan interpretasi yang melihat berbagai aspek yang berfungsi sebagai media komunikasi. Ada banyak tokoh yang membahas semiotik, antara lain Ferdinand de Saussure, Roland Barthes, Umberto Eco, Charles Sanders Peirce, Julia Kristeva dan banyak tokoh lainnya.

Melalui pembongkaran semiotik, kita akan mampu membongkar dongeng-dongeng kecil kita. Kita akan dapat menghilangkan angan menjadi putri yang diselamatkan pangeran, jutru kita dapat saja menjadi pemberontak yang menginginkan setiap pilihan hidupnya sendiri, bukan ditentukan orang lain. Dan dari pembongkaran tersebut, imajinasi kita akan menjadi lebih luas dan mampu menghasilakn interpretasi-interpretasi baru, tidak agi pasrah menerima begitu saja “dogma” yang disampaikan dari setiap cerita. Selain pemaknaan, ternayta masih ada hal yang membuat kita dapat menghasilkan sebuah interpretasi.

Ada banyak hal yang tentu berkaitan dengan kehidupan kita, seperti agama, budaya, pengetahuan maupun teks-teks lain yang pernah kita baca atau dengar dan hal-hal tersebutlah yang akan mempengaruhi kita dalam memaknai sebuah tanda. Selain itu, kita juga harus mampu ‘membaca’ teks tersebut dan mengaitkanya dengan keadaan atau hal-hal yang mempengaruhi munculnya teks tersebut. Intertekstualitas merupakan konsep kunci dari paham poststrukturalisme, yang juga menantang pola pikir strukturalis yang telah tersistem.

Kita tidak sekedar melihat hubungan antara tanda-penanda  (signified-signifier) melainkan kita juga melihat pentingnya melihat adanya dimensi ruang dan waktu dalam menganalisa sebuah teks. Sebuah teks dibuat dalam ruang dan waktu yang konkrit, karenanya harus ada relasi-relasi antara teks satu dengan teks lainnya dalam satu ruang, serta adanya keterkaian teks-teks tersebut dengan teks-teks sebelumnya dalam satu garis waktu. Teks dapat dapat dikatakan tidak otonom, karena tidak memiliki landasan dalam tubuh teks itu sendiri – adanya keterkaitan dengan teks lain.

a horizontal axis connecting the author and reader of a text, and a vertical axis, which connects the text to other text… [Chandler,2002: 195]

Teks merupakan sebuah proses refleksi diri pengarang secara utuh dari pengalaman-pengalaman serta pengetahuan-pengetahuan yang mempengaruhinya. Makna dari sebuah teks ataupun karya terletak pada relasi-relasi yang internal di dalam teks atau karya itu sendiri, bukan pada relasi-relasi eksternal dalam pertandaan, bukan juga ungkapan dari penulis maupun seniman itu sendiri. Intertekstualitas menjelaskan adanya saling ketergantungan satu teks dengan teks-teks sebelumnya. Sebuah teks bukanlah sebuah fenomena kebudayaan yang berdiri sendiri dan bersifat otonom, dalam pengertian, bahwa teks tersebut menjadi ada berdasarkan relasi-relasi pada dirinya sendiri, tanpa dilatarbelakangi oleh sesuatu yang eksternal.

Dapat dikatakan sebagai sebuah permainan dan gabungan-gabungan dari kutipan teks-teks sebelumnya.Karena itu, dalam membaca sebuah teks, kita harus mampu mengaitkan segala tanda yang ada dan dengan teks-teks lain, sehingga pemaknaan tidak lagi tunggal melainkan beragam dan tidak menutup kemungkinan bahwa makna itu akan menjadi tanda baru untuk diinterpretasikan kembali.

1 Comment

  1. Hi! nice site!


Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s