Sebuah Ruang untuk Perempuan Menulis

Kebanyakan penulis-penulis ternama adalah laki-laki. Ini merupakan fakta di setiap tempat dan ada dalam setiap perjalanan waktu. Memang saat ini sudah banyak juga penulis-penulis perempuan yang bermunculan, tetapi mereka seringkali dianggap mencari sensasi, bahkan tak jarang karya-karya mereka dipandang sebelah mata terutama mereka (para penulis perempuan) yang berani menuliskan sesuatu yang berbeda dalam masyarakat. Kalaupun toh bermunculan banyak penulis perempuan, nafas perempuan dalam karya-karya sastra (terutama novel) masih belum lega.

Hanya segelintir penulis yang berani mengungkapkan ‘keperempuanan’ mereka dan dengan berani mengenal tubuh mereka sendiri melalui tulisan. Sisanya (yang lebih banyak jumlahnya) memilih membebaskan kreativitas mereka tetap dalam tekanan stigma-stigma masyarakat dan berimajinasi dalam tembok-tembok yang dibangun oleh pendahulu mereka. Mereka tidak menyadari bahwa justru mereka semakin memperkuat dominasi patriarki dalam karya tulis mereka.Lalu muncul pertanyaan, apakah iya memang harus perempuan yang menulis secara perempuan? Apakah laki-laki tetap dibiarkan bebas berkeliaran dengan karya-karya mereka dan menyebarkan ajaran ‘patriarki’ mereka? Kalau hal ini dibiarkan terjadi, maka apa yang diharapkan oleh para penulis perempuan itu tidak akan pernah tercapai.

Bagaimana mungkin mengubah stigma yang telah mengakar dalam masyarakat apabila yang berusaha hanya sebagian kecil dari masyarakat itu? Bukankah akan lebih baik apabila perubahan itu didukung pula oleh seluruh bagian kehidupan masyarakat juga? Baik perempuan maupun laki-laki, apabila cara berpikir mereka, penulisan mereka, masih didominasi oleh kerangka patriarki, maka akan sulit untuk melihat hal-hal dari sisi yang berbeda. Karena itu seharusnya penulis-penulis memakai kerangka baru dalam penulisan mereka itu. Hanya saja untuk dapat mengenal ‘perempuan’, hanya perempuanlah yang dapat menuliskan karena tentu mereka akan mengenal diri mereka sendiri, tubuh mereka sendiri. 

Kenapa Perempuan Tidak dapat Menjadi Seorang Jenius?

Perempuan yang menulis akan mendapat rintangan yang lebih berat, dikarenakan adanya stigma dalam masyarakat mengenai kemampuan perempuan. Perempuan tidak memiliki ruangnya sendiri, padahal hal pertama yang diperlukan untuk dapat menulis adalah memiliki ruangan untuk diri sendiri (ruang yang sangan pribadi), agar dapat berpikir, menulis, membaca ulang, mengkritik sendiri tulisan yang telah dikerjakan tanpa ada yang mengganggu karena telah dibiarkan sendiri. Bagi Virginia Woolf ruang pribadi itu merupakan suatu realitas dan juga sekalikus sebagai simbol. Ia mengatakan bahwa perempuan harus memiliki dirinya sendiri sebagai awal mula menulis. Tetapi pada kenyataannya perempuan ternyata tidak memiliki tubuhnya sendiri. Perempuan tidak independen karena ia telah dimiliki oleh masyarakat, oleh keluarganya (ayah), oleh suami dan anak-anaknya. Setiap saat ia diwajibkan memberikan dukungan dan bantuan bagi mereka-mereka yang ‘memilikinya’. Dalam keadaan semacam inilah membuat menulis menjadi hal yang sulit untuk dikerjakan, bahkan mustahil.

Virginia Woolf dan Simone de Beauvoir ternyata memiliki kesamaan dalam menggambarkan alasan mengapa sulit bagi perempuan untuk diakui sebagai seorang jenius. Mereka mencontohkan cerita yang memiliki inti yang sama, yakni semua orang ternama, para jenius yang telah dikenal dunia merupakan laki-laki yang telah diberi kesempatan untuk mengembangkan bakat mereka. Woolf memberikan contoh, seandainya Shakespeare memiliki adik perempuan bernama Judith yang sangat berbakat, tetapi pada kenyataannya justru menderita dan tidak mampu menunjukkan bakatnya. Sedangkan pada de Beauvoir, diibaratkan seandainya Van Gogh dilahirkan sebagai perempuan, maka ia tidak akan memiliki kesempatan yang sama dengan yang dialami Van Gogh sebagai laki-laki. Betapapun berbakat seseorang pada awalnya, jika bakat itu tidak dapat digali karena keadaan sosialnya, karena faktor lingkungannya, maka bakat-bakat ini akan ‘mati’.

Setiap jenius yang berjenis kelamin perempuan tidak akan pernah dianggap dalam masyarakat, hanya karena kesempatan yang tidak pernah diberikan pada perempuan. Akibat dari ketiadaan kesempatan ini, maka perempuan menjadi enggan untuk menjelajahi daerah yang sulit (seperti menulis). Alasan mereka antara lain karena mereka terikat oleh berbagai bentuk pekerjaan domestik (dalam keluarga), sehingga ketika mereka melibatkan diri juga dalam banyak hal di luar, seperti pekerjaannya, karirnya, mereka harus dapat membagi waktu antara kehidupan profesional dan kehidupan rumah tangga. Inilah yang membuat banyak perempuan tidak berani untuk memasuki hal yang lebih sulit. Perempuan kemudian, dalam usaha pencapaian sesuatu, tidak berbuat hal yang dengan keberanian yang sama dengan laki-laki. Mereka seperti telah menyadari bahwa mereka sudah ‘ditakdirkan sejak awal’ untuk tidak terlalu berusaha, karena mereka tahu bahwa masyarakat tidak akan memberikan kesempatan yang sama dengan laki-laki. Kalau pun toh mereka masuk dalam lingkungan pekerjaan maupun dalam penulisan, mereka tidak akan memiliki ambisi yang berhasil untuk sukses sehingga mereka seakan pasrah untuk menerima peran yang kecil.

Seorang laki-laki yang sukses justru akan membuat kehidupannya semakin menarik dan mengagumkan bagi istri dan keluarganya, sedangkan jika perempuan yang memiliki kesuksesan itu, ia akan dianggap sebagai sebuah ancaman bagi suaminya.Selain itu, ternyata masih ada alasan lain yang dikemukakan Woolf mengenai perempuan menulis. Perempuan yang banyak menulis adalah perempuan yang memiliki uang, sebagai modalnya. Kebanyakan penulis laki-laki adalah orang-orang yang memiliki banyak waktu untuk menulis tanpa harus memikirkan bagaimana menghidupi dirinya. Karena itu muncullah penulis-penulis perempuan yang berasal dari kalangan atas. Ia mengambil contoh Lady Wincheillsea yang lahir dan tinggal dalam lingkungan ningrat, ia mendapat kesempatan menulis syair karena ia memiliki kekayaan, dan ia tidak perlu peduli lagi akan anggapan luar. Kebanyakan karya dari kalangan ini berisikan kemarahan atas kedudukan perempuan

How are we fallen!

Fallen by mistaken rules,

And Education’s more than Nature’s fools;

Debarred from all improvements of mind,

And to be dull, expected and designed;

And if someone would soar above the rest,

With warmer fancy, and ambition pressed,

So strong the opposing faction still appears,

The hopes to thrive can ne’er outweigh the fears

[Karya Lady Wincheillsea, diambil dari A Room of One’s Own-Virginia Woolf]

Motivasi kebanyakan penulis perempuan hanya sekedar sebagai hiburan, sebagai panggilan jiwa tetapi tidak mengganggu tanggungjawabnya. Padaha masih banyak hal yang dibutuhkan dalam menulis antara lain adanya ambisi dan dukungan dari seluruh bagian hidupnya. Seperti yang telah dijabarkan di bagian sebelumnya, bahwa justru ketika ada kesadaran akan bakatnya, akan ada perlakuan yang berbeda antara perempuan dengan laki-laki. Si anak laki-laki akan mendapat dukungan besar dari keluarganya, sedangkan si anak perempuan harus mengalami tekanan untuk melupakan bakatnya itu karena ia sudah memiliki tugas-tugas lain dalam keluarga dan dalam masyarakat. Karena kekurangan ambisi inilah maka banyak perempuan yang tidak berani untuk terjun menulis, untuk menuliskan apa yang menjadi buah pikirannya.

Menulis Khas Perempuan

Sebuah tulisan mampu untuk mengubah cara berpikir orang, sehingga bukan hal yang tidak wajar apabila cara pandang masyarakat pun dapat dibentuk dari tulisan-tulisan yang diedarkan. Sejak kecil kita telah disodorkan berbagai macam dongeng yang secara tidak langsung akan mempengaruhi bagaimana kita menempatkan ‘perempuan’ maupun ‘laki-laki’. Tokoh-tokoh jahat selalu disebut dengan nenek sihir atau identik dengan ibu tiri yang kejam. Belum lagi kalau mengisahkan tentang tokoh-tokoh gaib, selalu saja diceritakan tentang perempuan yang balas dendam setelah meninggal dan menjadi kuntilanak.

Tokoh-tokoh baik pun belum tentu menempatkan perempuan dalam posisi yang kuat. Mereka selalu dikisahkan hidup sengsara, dan baru akan hidup bahagia apabila diselamatkan seorang pangeran tampan. Jadi, semua anak kecil akan beranggapan bahwa anak perempuan itu pasti kalau sudah besar akan menikah dengan seorang pangeran tampan dan anak laki-laki kalau sudah besar harus bertubuh kuat dan dapat melindungi orang lain. Tak heran kalau kemudian muncul anggapan bahwa ibu tiri selalu jahat dan kejam sehingga banyak anak yang menjadi takut apabila ayahnya menikah lagi. Jarang sekali kita temui dalam dongeng-dongeng semasa kecil yang menggambarkan tokoh heroiknya adalah perempuan. Hal semacam ini yang merupakan wujud dari pembentukkan konvensi dan bahasa oleh budaya patriarki.Laki-laki membuat perempuan tidak memiliki posisi melainkan hanya sebagai objek semata. Pembentukan pemikiran ini telah mengakar dalam masyarakat sehingga sulit untuk mengubahnya dalam waktu yang singkat. Salah satu solusi yang mungkin dapat dilaksanakan adalah melalui karya tulisan terutama tulisan yang bercirikan perempuan.

Hélène Cixous-lah pelopor dari penulisan perempuan ini. Ia mencoba merombak bentuk penulisan yang sangat memojokkan perempuan. Perjuangannya adalah mencoba melawan bentuk bahasa yang telah diciptakan oleh laki-laki melalui tulisan-tulisan yang sangat bercirikan perempuan. Sayangnya banyak faktor yang menghalangi perempuan untuk menulis. Kebanyakan dari mereka menganggap bahwa menulis itu pekerjaan laki-laki, sehingga ketika mereka menulispun mereka melakukannya sebagai kesenangan pribadi atau hanya sekedar catatan-catatan harian yang tentunya akan mereka sembunyikan. Selain itu mereka tentunya telah disibukkan oleh pekerjaan-pekerjaan rumah tangga sehingga mereka tidak memiliki waktu untuk menulis. Lalu, apa yang seharusnya dilakukan? Menurut Cixous, seharusnya perempuan tetap harus menulis, karena melalui tulisan-tulisan perempuanlah maka dapat tersalurkan apa yang menjadi keinginan perempuan selama ini.

Pengungkapan mengenai hal-hal yang berkaitan mengenai perempuan dan tubuhnya dapat lebih terungkap dibandingkan saat tulisan didominasi oleh laki-laki. Saat perempuan menulis, maka ialah pemilik tubuh dan pemikirannya sehingga tidak ada seorang pun yang dapat mendominasinya termasuk laki-laki. Pada saat ia tidak menulis, maka laki-lakipun akan dengan leluasa menguasai hidupnya dan menjadikannya objek semata. Perempuan yang telah mampu menghasilkan sebuah tulisan dan juga membaca tulisan-tulisan akan mampu menempatkan dirinya sebagai subjek penentu dalam tulisannya itu sendiri sehingga dapat mengidentifikasikan dirinya sendiri. Sayangnya banyak sekali tulisan yang jatuh pada tahap dimana perempuan digambarkan sebagai figur di bawah laki-laki.

Perubahan sosial kultural dijadikan alasan sehingga penulisan semacam ini selalu dianggap ‘di atas’ perempuan[i]. Predikat perempuan yang selalu digambarkan ‘pasif’ merupakan salah satu bentuk stereotipe kultural yang harusnya dapat dirombak melalui penulisan perempuan yang tentunya memiliki sudut pandang perempuan. Penulisan yang disebut sebagai penulisan feminin ini akan membawa kita kepada sebuah cara pandang baru terutama dalam menghadirkan perempuan secara bebas pada lingkungan sosial. Seksualitas perempuan yang selama ini juga merupakan hal yang dianggap asing juga akan dengan bebas terungkap tanpa ada embel-embel dari laki-laki, melainkan merupakan pemikiran orisinil dari perempuan yang menulis itu.

Cixous sebagai seorang novelis telah membandingkan antara gaya penulisan perempuan dengan gaya penulisan laki-laki. Pada saat laki-laki menulis, mereka sangat terpengaruh akan kekuatan libidonya sehingga disebut juga sebagai ‘phallogocentric writing’[ii]. Penulisan semacam ini mengakibatkan muncul penulisan-penulisan laki-laki yang sarat dengan misogini. Misogini merupakan bentuk kebencian terhadap perempuan Hal ini telah berakar dari kemarahan anak terhadap ibunya karena masyarakat membebankan pemeliharaan anak pada perempuan. Misogini juga merupakan wujud kekerasan dan serangan terhadap perempuan yang telah dianggap sebagai hal yang normal, institusional dan terorganisir[iii]. Cixous melihat bahwa penulisan bergaya maskulin sangatlah berpikir dengan cara oposisi biner. Itulah sebabnya mengapa mereka hanya melihat sebuah sifat dan lawan dari sifat itu, tanpa melihat adanya kemungkinan-kemungkinan lain.

Cixous dalam esainya “Sorties” mencontohkan pasangan-pasangan dikotomik dalam penulisan bergaya maskulin:

Aktif – Pasif.

Matahari – Bulan.

Budaya – Alam.

Siang – Malam.

Lisan – Tulisan.

Tinggi – Rendah[iv].

Pendikotomian ini telah membuat anggapan dalam masyarakat bahwa laki-laki selalu diidentikkan dengan yang aktif, berbudaya, matahari, tinggi, terang sedangkan perempuan selalu diidentikkan dengan yang pasif, alami, bulan, hal-hal yang rendah, kegelapan dan banyak hal negatif lainnya. Lebih lanjut lagi, teks semakin membuat laki-laki sebagai dirinya sendiri sedangkan perempuan semakin dipojokkan sebagai ‘yang lain’ (the others). Perempuan akan eksis dalam dunia laki-laki tetapi sebagai wujud keinginan laki-laki itu. Perempuan dapat menjadi yang lain bahkan dapat pula tidak dipikirkan sama sekali. Setelah laki-laki selesai memikirkan tentang perempuan, maka perempuan hanyalah hal yang tidak mungkin dipikirkan lagi. Pemikiran semacam inilah yang harus dirubah.

Perempuan harus mendapatkan kembali kebebasannya melalui bahasa. Melalui dekonstruksi teks maka perempuan akan kembali menempatkan dirinya sebagai subjek yang memiliki hak atas tubuhnya, sehingga laki-laki pun tidak dapat menempatkan perempuan sebagai hal yang tidak mungkin terpikirkan lagi. Ketika pemikiran perempuan telah terombak, maka perempuan akan dapat lebih berani untuk tampil sebagai dirinya sendiri dalam memamerkan hasil tulisannya, dan tidak lagi bersembunyi dibalik laki-laki manapun.Penulisan khas perempuan (penulisan feminin) merupakan solusi yang ditawarkan oleh Cixous. Ia mengatakan bahwa dengan penulisan feminin ini, maka perempuan dapat lebih mengeksplorasi seksualitas, erotisme dan feminitas[v].

Selama ini tema-tema seksualitas selalu dianggap sebagai hal yang tidak pantas untuk dibicarakan, apalagi oleh perempuan. Kebanyakan penulis yang mengangkat topik mengenai seksualitas adalah laki-laki, sehingga seksualitas perempuan akhirnya cenderung ‘diciptakan’ oleh laki-laki. Perempuan diarahkan untuk menjadi objek seksual yang diharapkan oleh laki-laki dan kemudian hal ini dianggap sebagai hal yang benar. Seksualitas laki-laki menjadi ukuran dalam memahami seksualitas perempuan. Sekali lagi perempuan hanya sebagai hal yang tak mungkin dipikirkan, sampai-sampai seksualitasnya pun tidak dapat memiliki kekhasannya sendiri.

Seksualitas manusia merupakan hal yang muncul dan bekerja secara alami dan berkaitan dengan fungsi reproduksi. Fungsi reproduksi dari perempuan pun hanya dianggap sebagai tempat untuk melakukan kegiatan bereproduksi dan hal ini telah berlaku umum. Padahal sebenarnya seksualitas manusia juga berkaitan dengan masyarakat sosial. Konstruksi sosial dalam masyarakat akan terwujud dari apresiasi mereka terhadap seksualitas. Peran psikologi juga berpengaruh selain peran biologi. Kebanyakan orang menganggap bahwa laki-lakilah yang memiliki hasrat seksual, karena sangat wajar apabila laki-laki bertindak secara aktif. Perempuan dianggap tidak memiliki hasrat, karena sudah sewajarnya apabila perempuan lebih bersifat pasif dan hanya menerima tekanan dari pihak laki-laki.

Permainan oposisi biner terlihat kembali dalam masalah ini. Laki-laki aktif – perempuan pasif. Cixous mengatakan bahwa dengan mengungkapkan seksualitas melalui sudut pandang perempuan, maka kita dapat merombak apa yang yang telah mengakar dalam pola pikir masyarakat. Perempuan dapat lebih bebas mengeksplorasi tubuh mereka dalam wacana-wacana, sehingga tidak lagi menjadi apa yang diharuskan oleh budaya patriarki. Ketika perempuan bebas menulis, ia pun bebas akan tubuhnya.Cixous menantang para perempuan untuk menuliskan diri mereka sendiri. Ia menginginkan para perempuan mampu untuk keluar dari dunia yang diciptakan oleh laki-laki. Hal-hal yang tidak mungkin dipikirkan saat masih memakai gaya penulisan yang maskulin, harus dapat diungkapkan oleh para perempuan dengan memakai penulisan perempuan ini. Ada hal-hal yang dianggap sebagai kekhasan dari perempuan yakni perubahan-perubahan yang memberikan pemaknaan baru.

Penulisan bergaya maskulin bagi Cixous sangat sulit membuka peluang bagi perubahan, karena adanya aturan-aturan biner yang berlaku, Sedangkan dalam penulisan bergaya feminin, penulis dapat bergerak dengan bebas tanpa ada aturan yang mengikat, sehingga hal-hal baru dapat masuk dan semakin memperkaya pengetahuan yang dimiliki penulis dan pembacanya. Penulisan feminin bukanlah sesuatu yang baru, karena hal ini merupakan sebuah kemungkinan untuk berubah, baik dari segi sosial maupun budaya. Melalui penulisan gaya feminin inilah perempuan mampu mengubah cara pandang masyarakat, cara bicara maupun sikap yang telah terbentuk dalam masyarakat itu. Ini bukanlah hal yang mudah, karena mencoba eksis setelah tidak dianggap eksis akan menjadi tantangan berat bagi perempuan untuk terus menulis.

Sebuah tulisan dalam sudut pandang perempuan ini akan dianggap memiliki kualitas apabila ia memiliki desire (hasrat), bukan karena rasio semata.Cixous membedakan antara penulisan yang dibuat oleh perempuan dengan yang ditulis oleh laki-laki. Ia kemudian menggambarkan berbagai macam hubungan antara seksualitas laki-laki dengan penulisan maskulin, dan juga antara seksualitas perempuan dengan penulisan feminin. Seksualitas laki-laki digambarkan Cixous sebagai hal yang sangat membosankan. Mereka sangat terpusat pada phallus mereka sehingga terkesan hanya merujuk pada satu hal dan singular[vi]. Ternyata seksualitas laki-laki ini sangat berpengaruh pada bagaimana mereka menulis.

Penulisan maskulin yang juga disebut sebagai penulisan phallogosentris, juga memiliki sifat yang membosankan. Mereka menggunakan perangkat yang saling identik yakni phallus dengan pena. Karena itulah tulisan-tulisan mereka cenderung tidak memiliki variasi-variasi. Mereka berusaha menghindari kekacauan dan keberagaman karena hal itu akan sangat bertentangan dengan simbol-simbol yang telah mereka ciptakan, sehingga pena yang mereka gunakan adalah ‘pena hitam’. Mereka sangat berhati-hati dalam setiap penulisannya, karena itu mereka sangat menggunakan rasio mereka dalam menuangkan pemikiran-pemikiran mereka.Kebalikan dari seksualitas laki-laki, maka perempuan memiliki seksualitas yang sangat beragam. Setiap cerita mengenai kefemininan mereka, mengenai seksualitas mereka akan selalu menghasilkan cerita yang berbeda-beda sehingga tidaklah membosankan.

Seksualitas perempuan lebih dapat memasuki seluk-beluk yang seakan-akan sulit dicapai, karena perempuan lebih paham akan keerotisan mereka. Sangatlah mungkin bagi perempuan untuk tiba-tiba memiliki hasrat seksual hanya sekedar menyentuh bagian-bagian tertentu dari tubuh mereka. Perempuan sangat penuh dengan petualangan, perjalanan serta penemuan-penemuan baru di setiap waktu. Sehingga sama halnya dengan seksualitas mereka, bentuk penulisan feminin pun memiliki alur yang begitu bervariasi dan tidak membosankan. Penulisan feminin sangatlah terbuka dalam menampung berbagai macam kemungkinan. Saat perempuan menulis, ia menggunakan tinta putih. Ia akan membiarkan kata demi kata mengalun dengan bebas sesuai keinginannya.

Tulisan-tulisan perempuan akan mengalir begitu saja tanpa ada penjelasan-penjelasan khusus. Perempuan akan membiarkan berbagai macam ‘bahasa’ masuk dalam tulisannya sehingga banyak ruang yang tersentuh. Bahasa dari perempuan ini akan menciptakan berbagai macam kemungkinan dan tidak menahan ataupun memberikan aturan khusus. Bagi Cixous, feminin dapat dibaca sebagai kehidupan, sebagai sesuatu yang dapat menghilangkan segala batas-batas yang ada. Feminitas tidak dapat diatur-atur maupun dikonsepkan. Cixous melihat bahwa hasrat penulisan feminin dapat saja muncul dalam segala macam kondisi kehidupan dan mereka itu akan saling berkaitan dengan setiap kejadian dalam hidup.Cixous yang cukup terpengaruh dengan psikoanalisa Lacan juga menganggap bahwa pemakaian bahasa ayah yang telah mengakar dalam masyarakat juga membentuk pola pikir yang sangat merendahkan perempuan.

Penulis perempuan karenanya harus mampu menggiring pola pikir masyarakat agar keluar dari konsep dikotomik yang selama ini digunakan oleh para penulis laki-laki. Dengan demikian maka anggapan bahwa ada yang dominan maupun yang minoritas akan mampu dihilangkan.Perempuan akan mampu berbicara dengan berbagai macam ‘bahasa’ apabila ia juga mampu mengeksplorasi tubuhnya dengan bebas. Yang dibutuhkan dalam penulisan feminin adalah hasrat, bukan sekedar alasan dari rasio. Hasratlah yang mampu membebaskan kita dari segala keterbatasan yang diciptakan oleh pola pikir patriarki.Hasrat pulalah yang membantu perempuan membebaskan kata-katanya mengalir dalam teks.Yang menjadi tujuan dari penulisan perempuan ini sebenarnya lebih pada pemberdayaan perempuan terhadap berbagai macam bidang, baik politik, sosial, ekonomi maupun hanya sekedar minat-minat pribadi. Feminin di sini berbeda dengan arti feminin pada berbagai macam majalah fashion.

Feminin pada majalah-majalah fashion itu lebih cenderung membuat bahwa perempuan harusnya bersikap ‘manis’ dan lembut. Mereka mendesainkan berbagai macam pakaian dan aksesoris yang menggambarkan sisi feminin perempuan. Padahal hal tersebut masih juga terpaku pada budaya partriarki, karena yang mereka gambarkan adalah perempuan yang diinginkan oleh laki-laki, bukannya perempuan sebagaimana diinginkan oleh perempuan itu sendiri. Namun, masih banyak perempuan yang menganggap bahwa feminin adalah yang lembut, ‘berwarna pink atau pastel’ dan cantik dengan berbagai macam aksesoris.

Feminin bagi Cixous lebih pada sifat perempuan yang tidak perlu adanya aturan yang mengikat tubuhnya sendiri, bagaimana perempuan itu mampu menjelajahi sendiri tubuhnya dan mengikuti hasratnya. Cixous sendiri lebih menyukai penulisan feminin yang dibahas pada karya sastra karena lebih mudah dalam membebaskan kata-kata mengalir dalam sebuah tulisan. Ia menekankan pada pentingnya sisi feminin yang positif. Dengan memakai sudut pandang feminin, maka karya sastra yang dihasilkan pun akan lebih toleransi dan bebas dalam menghasilkan teks-teks tanpa berbagai macam batasan.

The Genius Judith[vii]

Kisah tragis Judith akibat stigma patriarki yang telah mengakar pada keluarganya akan dapat kita singkirkan apabila perempuan memiliki ‘ruangnya’ sendiri terutama dalam menulis. Pada masa ini sebenarnya sudah banyak bermunculan penulis-penulis perempuan yang berani mengekspresikan karyanya. Mereka tak sekedar lagi menulis cerita-cerita novel yang sarat dengan angan-angan kehidupan cinta bahagia bersama ‘pangeran’ impian. Mereka telah lebih berani mengungkapan rasa cinta mereka akan tubuh, rasa benci mereka akan tradisi yang memojokkan mereka bahkan rasa penasaran akan kematian. Tetapi apakah semua karya perempuan itu telah mendapatkan tempat di masyarakat? Mungkin pada kebanyakan pembaca, tulisan mereka akan sangat memberikan ‘pencerahan’ baru. Hanya saja kebanyakan masyarakat masih menganggap bahwa karya-karya semacam itu tidak pantas ditulis oleh perempuan, bahkan sampai ada negara yang menghukum penulis perempuan itu dan mencapnya sebagai seorang pemberontak.

Seperti misal Taslima Nasrin yang besar di Bangladesh sebagai seoarang dokter dan tokoh feminis. Taslima telah banyak menulis prosa dan puisi, bahkan novelnya yang berjudul Lajja membuatnya dikenakan hukuman mati oleh para ulama di Bangladesh, tetapi akhirnya ia diizinkan pergi ke luar negeri[viii]. Banyak juga perempuan-perempuan yang pada akhirnya dianggap sebagai perempuan ‘nakal’ karena keberaniannya untuk mengeksplorasi seksualitas dengan lugas dalam karyanya. Hanya saja perempuan-perempuan penulis itu kebanyakan tidak ambil pusing dengan stigma yang menempel pada mereka, karena mereka yakin dengan apa yang mereka tulis. Mereka telah berusaha mengangkat yang dikubur oleh masyarakat dalam rangkaian kata sehingga menjadikannya sesuatu yang baru dan hidup.

Seperti pada karya Nawal El Saadawi, seorang tokoh feminisme radikal dari Mesir yang menulis “Perempuan di Titik Nol”. Novel ini telah memperlihatkan adanya nafas dari penulisan perempuan, karena dengan berani mengalirkan kata-kata tanpa takut akan tembok-tembok sebagai batasan. Novel ini juga telah menggambarkan dengan jelas pertentangan kelas antara perempuan dan laki-laki dalam budaya patriarki yang melahirkan relasi gender yang timpang melalui penokohan tokoh utamanya (Firdaus). Novel ini sendiri telah dilarang terbit di negara Mesir karena dianggap telah menodai wilayah agama. Saadawi telah menggunakan bahasa sebagai senjata untuk melawan bias gender yang ada dalam sastra selama ini. Ia menyindir tatanan pemerintah Mesir, hubungan antar manusia dan kehidupan masyarakat. Baginya masalah perempuan telah menggambarkan masalah kemanusiaan seluruhnya. Dalam penggambarannya, Saadawi telah berhasil menghidupkan simbol-simbol sehingga membebaskan pembacanya memaknai novelnya dengan beragam. Ini memperlihatkan bahwa Saadawi telah menulis dengan tinta putih, yang membebaskannya menulis sesuai hasratnya.

Patriarki ditempatkan sebagai akar penindasan perempuan dalam novel “Perempuan di Titik Nol”. Perbedaan gender telah mengubur peran perempuan yang menghasilkan ketidakadilan dan kekerasan bagi perempuan. Permasalahan-permasalahan inilah yang mendorong tokoh utama novel ini untuk berjuang menyuarakan pembebasan dari semua kungkungan aturan yang tradisional dan konservatif. Ia berusaha lepas dari pandangan yang menganggap perempuan hanya sebagai objek seks dan dikontrol tubuhnya lewat seksualitas. Salah satu ketidakadilan yang disadari Firdaus adalah ketidaksederajatan perempuan dan laki-laki dibidang politik, karena perempuan haram untuk menjadi pemimpin. Pemberontakan Firdaus ini ditunjukkan dengan bergabung dengan demonstran ketika ia masih sekolah. Ia sebenarnya ingin sekali menjadi dokter, pengacara bahkan berangan-angan menjadi kepala negara. Sikap sadar politisnya ini pun ditunjukkan ketika ia menjadi pelacur, ia menolak para politikus yang ingin membeli tubuhnya itu. Saadawi telah menggambarkan bahwa perempuan punya kesadaran atas tubuhnya, sehingga berani mengambil keputusan akan tubuhnya, tanpa ada paksaan dari pihak lain. Tak hanya itu, bidang domestik dan perkawinan pun menjadi topik yang diangkat oleh sang tokoh. Baginya keluarga dan perkawinan hanya bentuk penguasaan laki-laki terhadap perempuan yang dilegitimasi baik oleh kultural maupun agama. Firdaus jelas-jelas menolak perkawinan, karena baginya hanya sebagai bentuk halus dari perbudakan terhadap perempuan. Dengan berani mengangkat yang tabu bagi perempuan, justru Firdaus telah membebaskan dirinya dari ikatan-ikatan tak terlihat dalam masyarakat. Ia bahkan lebih memilih kematian ketimbang merendahkan dirinya dengan meminta grasi.

Nawal El Saadawi telah berhasil menempatkan novel ini sebagai media alternatif perjuangan feminisme dan memunculkan keberanian untuk melihat perempuan, permasalahan dan dunianya melalui perspektif mereka secara otonom.“Perempuan di Titik Nol” hanya satu dari banyak novel yang dihasilkan oleh “Judith-Judith” di dunia. Masih banyak karya hebat lain yang telah mengangkat permasalahan perempuan, walau tak sedikit juga ejekan yang menimpa mereka. Seperti juga muncul di Indonesia, pada novel-novel karya Ayu Utami dan Djenar Maesa Ayu. Mereka dengan gamblang melukiskan dengan kata-kata mengenai seksualitas perempuan. Mereka mengenalkan pada pambaca mengenai tubuh perempuan, bukan sekedar sebagai alat biologis, melainkan juga sebagai alat politis. Karena itu mereka menunjukkan bahwa perempuan haruslah berani mengenal diri mereka sendiri. Karya-karya mereka dapat dikatakan sebagai tamparan bagi dunia sastra Indonesia, yang saat ini terlalu mengekspos karya-karya penulis tetapi melihat dari segi konsumerisnya. Seakan-akan ada tren tetapi melupakan isi dari karya. Karena itu dengan adanya karya-karya semacam Saman maupun Nayla, nafas sastra di Indonesia akan semakin beragam, bahkan akan memberi ruang bagi penulisan perempuan.

[- – -]

Untuk berani menciptakan sebuah karya, maka kita harus berani untuk mengungkapkan dunia pada orang lain, sehingga kita harus dapat masuk dalam dunia itu dan melihatnya. Sebaliknya jika kita asing terhadap dunia itu, maka kita akan mengalami kesulitan untuk dapat menggambarkan keadaan yang ingin kita sampaikan. Maka begitu pula dengan keadaan perempuan yang hidup dalam dunia laki-laki. Perempuan menjadi asing dalam dunia yang ia hidupi karena faktor-faktor dalam kehidupannya seakan membuat jarak dengannya. Ia dapat berhubungan dengan dunia melalui laki-laki, harus melalui perantara dan bukannya langsung mengenal dunia itu. Sehingga ketika perempuan menulis dengan sudut pandang itu, akan menjadi sulit untuk mengenal dirinya sendiri. Dengan demikian, seharusnya perempuan mengambil kesempatan dari waktu luang yang ia miliki untuk berani menuliskan keperempuanannya, mengkritik dan menikmati hasil tulisannya terutama melalui penulisan feminin.Penulisan feminin juga dapat menyentuh berbagai macam aspek yang bebas dengan bahasa yang membebaskan pula. Kata-kata akan mampu mengalir dengan sendirinya  tanpa beban.

Hal ini juga akan menjadi sebuah tantangan bagi penulis perempuan dengan gaya perempuan, karena banyak orang dalam masyarakat yang tentunya tidak mau lepas dari aturan yang telah menguntungkan hidup mereka. Mereka yang telah terbiasa dengan bahasa ayah akan menganggap usaha dari penulis perempuan adalah sia-sia dan seharusnya segera dihentikan. Para penulis tentunya menyadari bahwa pembebasan dalam bidang-bidang seperti politik maupun ekonomi haruslah diikuti dengan pembebasan dan bidang bahasa. Kita tentu menggunakan bahasa dalam kehidupan sehari-hari, sehingga dapat kita lihat betapa pentingnya perombakan ‘bahasa’ agar tujuan pembebasan perempuan dapat tercapai. Pada saat kita masih terikat oleh aturan maskulin, banyak ruang lingkup yang tidak mungkin tersentuh oleh perempuan. Oleh karena itu dengan menulis secara perempuan, kita akan mampu menyentuh berbagai hal yang tadinya dikatakan sebagai yang tidak mungkin.


[i] Verena Andermatt Conley dalam buku Hélène Cixous: Writing The Feminine. Halaman 9.

[ii] Gadis Arivia dalam buku Filsafat Berperspektif Feminis. Halaman 129.

[iii] Maggie Humm dalam buku  Ensiklopedia Feminisme, halaman 289-290.

[iv] Rosemarie Putnam Tong dalam buku Feminist Thought. Halaman 199.

[v] Gadis Arivia, Ibid. Halaman 130.

[vi] Rosemarie Putnam Tong, Ibid. Halaman 200.

[vii] Nama adik fiktif Shakespear yang dikisahkan oleh Woolf dalam A Room of One’s Own.

[viii] Biografi ini diambil dari Antologi Cerpen Perempuan, yang disusun oleh Anton Kurnia, pada halaman 101.

Sumber Bacaan:

Arivia, Gadis. 2003. Filsafat Berperspektif Feminis. Jakarta: Yayasan Jurnal Perempuan.

Conley, Verena Andermatt. 1991. Hélène Cixous: Writing The Feminine, Expanded Edition. University Of Nebraska Press.

De Beauvoir, Simone. The Second Sex.Humm, Maggie. 2002. Ensiklopedia Feminisme. Yogyakarta: Fajar Pustaka Baru.

Jurnal Perempuan edisi 30. 2003. Jakarta: Yayasan Jurnal Perempuan.

Kurnia, Anton (ed.). 2003. Seorang Perempuan yang Jatuh Cinta Pada Laut (Antologi Cerpen Perempuan). Yogyakarta: Jalasutra.

Lie, Shirley. 2005. Pembebasan Tubuh Perempuan. Jakarta: PT Grasindo.

Tong, Rosemarie Putnam. 1998. Feminist Thought. Australia: Allen&Unwin.

Saadawi, Nawal el. 2002. Perempuan di Titik Nol. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia.

Scholz, Sally J. 2000. On de Beauvoir. USA: Wadsworth.

Whelehan, Imelda. 1995. Modern Feminist Thought. Edinburgh University Press Ltd.

Woolf, Virginia.2004. A Room of One’s Own. Penguin books

5 Comments

  1. gilaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa………… KEREN BGT tulisanmu!!
    Salam kenal..(^-^)/

  2. makasih.. salam kenal juga…

  3. Aku sepakat bgt nih!!!! Aku mo ngerjain seminar soal novel NAYLA-nya Djenar Maesa Ayu, bisa bantu gak????

  4. wa…..mau banget…bisa kontak aku ke emailku aja… aku seneng banget kalo bisa bantu…

  5. salam kenal yach….wah tulisan yang baguz!!!!, ngerubah sedikit pandanganku tentang hidup, coz aku perempuan…jadi otakku dipaksa untuk sedikit berfikir, he he…eh aku juga lagi ngutik2 feminisme neh tapi fokus ke france..punya gak???? bagi2 dunk klo ada…


Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s