Bosanku

Bangun tidur. Mandi. Pilih baju. Dandan. Sisiran. Telepon. Sms. Di dalam mobil. Parkiran kampus. Sarapan. Kuliah. Rokok. Kuliah. Rokok. Es teh manis. Sms. Kuliah. Makan siang. Rokok. Cappucino. Kuliah. Rokok. Jalan tol. Macet. Mandi. Sms. Telepon. Tugas. Teh hangat. Sms. Laptop. Sms. Radio. Televisi. Buku. Kasur. Sms. Tidur.

Terulang paling tidak lima hari dalam seminggu. Membosankan bukan? Itulah rutinitasku sehari-hari, tanpa ada variasi. Kalau toh ada pun hanya sekedar “pemindahan suasana minum cappucino” dari kampus ke kafe. Ya, paling tidak masih ada hiburan dengan adanya kafe-kafe yang menjamur di setiap sudut kota. Itu pun mulai membuatku bosan. Seakan-akan aku telah memasukkannya di dalam jadwal hidupku sehari-hari bersama-sama dengan rutinitas makan dan mandiku. Aku mulai bosan. Ada saat-saat di mana aku memilih untuk menghilang dari kehidupan dan menikmati sendiri dalam angan. Hanya saja hal ini bertahan tidak lebih lama dari 3 hari setelah dering telepon mengganggu beriringan dengan nada-nada protes dari smsku. Artinya, aku harus bangun dari khayalanku! Tak tahukah mereka bahwa aku sedang melintasi dimensi dunia di mana kutemukan bentangan luas padang bunga matahari dan akulah pemiliknya. Akulah putri kerajaan itu dan aku dapat menikmati nafasku, menghitung detak jantungku serta merasakan pijakan-pijakanku dengan tenang. Apakah ada yang mau mengerti dan membiarkanku berlarian di antara bunga matahari-bunga matahariku? Tidak nampaknya. Mereka lebih suka menyiksaku dengan segala rutinitas dan membuatku terikat dalam mesin-mesin waktu yang sangat menyeramkan. Aku dipaksa menghitung waktu yang sangat statis. Aku dipaksa menikmati tiap detik yang sangat menusuk kulitku. 1..kerjakan tugas rumah..2..jangan lupa latih permainan pianomu..3..ayo makan..4..kerjakan ujianmu sendiri..5..telpon aku sekarang..6..pulang setelah selesai kuliah..7..kirim tugasnya sebelum deadline..8..9..10…………………………………………………….Aku lelah.

Entah kapan aku mampu terlepas dari cengkraman roda-roda waktu yang semakin lama semakin erat memegangiku. Untuk bernafas saja ada hitungan waktunya, katanya biar ada keharmonisan di alam ini. Aku mencoba memberontak, aku melawan. Aku membuat ketidakteraturanku di antara keteraturan dunia. Aku berlari saat semua berjalan. Aku tidur saat semua terjaga. Aku menulis saat semua bicara. Aku berkhayal saat semua bekerja. Aku menangis saat semua tertawa. Aku akan tetap ada saat semua binasa…

Lalu tiba saatnya aku bosan akan keindahan hidup. Akan keteraturan nafas. Akan kedipan-kedipan mata. Akan keceriaan warna-warni yang menimpa mataku. Akan aroma yang memasukki lubang hidungku. Akan hamparan harapan yang selalu menantiku. Aku memutuskan untuk mengakhiri semua di saat yang paling kuanggap tepat. Saat aku masih mampu tertawa. Tanpa perencanaan, tanpa ucapan selamat tinggal, kutunggu saat semua terlelap sebelum aku mengakhiri aliran darah dalam nadiku. Tergores pelan. Perih. Tergores dalam. Pedih. Tersayat lebih. Sakit. Dan kau datang menghentikan inginku. Terbalut aku dalam putih, menangis aku bukan karena sakit tapi karena gagal. Kembalilah aku pada kehidupan. Kembalilah aku pada kebosanan. Aku memaki-makimu yang menganggap telah menyelamatkanku. Aku membencimu yang mengira aku begitu bodoh ingin pergi dari dunia. Tak adakah yang mengerti inginku?

Bangun tidur. Mandi. Pilih baju. Dandan. Sisiran. Telepon. Sms. Di dalam mobil. Parkiran kampus. Sarapan. Kuliah. Rokok. Kuliah. Rokok. Es teh manis. Sms. Kuliah. Makan siang. Rokok. Cappucino. Kuliah. Rokok. Jalan tol. Macet. Mandi. Sms. Telepon. Tugas. Teh hangat. Sms. Laptop. Sms. Radio. Televisi. Buku. Kasur. Sms. Tidur.

Terulang lagi dalam kebencian yang mendalam akan aliran darah. Akan detak jantung. Akan udara yang merasuki ronggaku. Aku tetap bosan akan kehidupan. Kembali aku coba membuka luka yang sempat ditutup. Kubiarkan indahnya merah mengalir menemani putih. Kurasakan perih yang memberi senyum dan kunanti gelap menyerang. Dalam sekejap aku menghilang. Aku bahagia.

Sadar!                                                             Sadar!                                                 Sadar!

Di manakah aku? Mana hamparan bunga matahariku? Kenapa justru putih yang menyelimutiku. Wajah-wajah itu! Masih wajah yang sama. Aku masih hidup. Sekali lagi aku menangis, bukan karena sakit yang membalutku, tetapi karena ledekan dewi kehidupan yang menertawakan kegagalanku lepas dari genggamannya. Semua terasa begitu menyakitkan. Aku geram pada yang menutup lukaku. Tidakkah ia membiarkan sungaiku mengalir dengan deras dan membiarkanku terhanyut di dalamnya? Sekali lagi aku lelah. Aku tetap bosan.

Bangun tidur. Mandi. Pilih baju. Dandan. Sisiran. Telepon. Sms. Di dalam mobil. Parkiran kampus. Sarapan. Kuliah. Rokok. Kuliah. Rokok. Es teh manis. Sms. Kuliah. Makan siang. Rokok. Cappucino. Kuliah. Rokok. Jalan tol. Macet. Mandi. Sms. Telepon. Tugas. Teh hangat. Sms. Laptop. Sms. Radio. Televisi. Buku. Kasur. Sms. Tidur.

Rutinitas yang sama dalam kebosanan yang tak kunjung reda. Aku berjalan dalam langkah yang sama. Tatapan mataku datar menatap harapan yang entah berada di mana. Detak jantungku tak lagi teratur, aku penuh akan gejolak. Aku tetap penasaran pada kegagalan-kegagalanku menuju kematian. Aku renungi layaknya seorang petapa bermeditasi, maka aku pun menyendiri dalam angan tanpa batas. Tekadku kembali bulat, senyumku kembali mengembang. Aku yakin tetap bosan akan kehidupan. Kuputuskan tetap membiarkan bekas lukaku tertutup. Kurasa aku pun sudah bosan menatap merah. Saat kurasa tepat. Selimutku dingin dan sepilah yang menemani, maka kuresapi pelan rasa-rasa tiap tablet yang konon mendorong kehidupan apabila dosisnya tepat tetapi akan mematikan saat kita memaksakan dosisnya lebih banyak. Kunantikan kematian dalam rasa pusing yang luar biasa. Efek yang begitu menggoda bagaikan kakiku melepaskan diri dari tapaknya. Aku mampu melihat sekelilingku dari atas. Aku tertawa. Mual. Perih. Nafasku terengah-engah. Keringatku dingin. Detak jantungku mulai mengencang. Mataku mulai menerawang. Ingatanku melampaui waktu. Aku kecil. Aku ditimang. Aku berjalan. Aku menangis. Aku sekolah. Aku jatuh. Aku tertawa. Aku marah. Aku kuliah. Aku bercinta…dan semua menjadi gelap. Hingga sekali lagi kau hadir dan mengeluarkan semua racun itu. Aku tersadar tetapi kali ini aku tidak lagi menangis. Aku bosan menangis. Aku tertawa puas, menertawakan kegagalanku menanti kematian. Sudahlah, aku pun tak mengerti apa mauku kini. Aku tetap bosan akan kehidupan, tetapi aku lebih bosan lagi menggapai kematian.

I rather die than being such an destroyer

uPie [15.06.2005]

Leave a comment

No comments yet.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s