Perempuan dan Budaya Pop

Budaya pop atau istilah asingnya pop culture disebut juga sebagai budaya massa atau mass culture. Budaya pop ini memiliki ciri-ciri khusus, yaitu bersifat langsung jadi (instant), memberikan penghiburan-penghiburan yang sifatnya sementara, pasif dan cenderung mudah diterima, tidak membutuhkan banyak usaha ataupun pengetahuan untuk memahaminya. Bentuk-bentuk yang paling konkrit dari budaya pop ini adalah produk-produk yang memiliki fungsi utama sebagai penghibur. Produk budaya pop selalu dihasilkan dari respon terhadap selera massa, yang “populer” pada saat itu, maka disebut juga sebagai budaya massa. Seniman-seniman budaya pop mencoba “memperbaharui” suatu produk populer di masyarakat, dengan menambahkan beberapa unsur baru untuk dijadikan sebuah karya seni. Sehingga tak jarang produk budaya pop diidentikkan dengan selera rendah. Budaya pop juga dapat menjadi bentuk ekspresi pada zaman itu. Seperti misalnya di Indonesia pada saat ini, yang lagi “booming”, yang “meledak” di pasaran adalah sinetron bertemakan kehidupan remaja. Sampai-sampai novel-novel baru yang diterbitkan pun bertemakan kehidupan saat remaja.

Unsur yang sangat mempengaruhi adanya budaya pop ini adalah karena adanya kapitalisme dan konsumerisme. Kapitalisme dan konsumerisme merupakan budaya yang melanda dunia. Prinsip utama dari kapitalisme adalah keuntungan yang mengandalkan perilaku konsumerisme, dan berbagai cara dilakukan dan dicari untuk mendorong terjadinya perilaku ini. Karena itulah kebudayaan pop mudah ditiru. Karena budaya konsumerisme sangatlah mempengaruhi keadaan massa. Sehingga produk-produk budaya pop semakin digemari. Salah satu diantaranya diwakili oleh MTV misalnya, yang merupakan produksi massa, yang dipengaruhi kapitalisme. Dari situlah dibuat sebuah kesan pada massa yang menikmatinya, bahwa modallah yang paling utama. Termasuk mempengaruhi dalam sifat konsumeris pada masyarakat Indonesia.

Itulah yang mengubah banyak cara pandang pada masyarakat kita. Sebagai contoh, hanya karena merasa memiliki modal lebih maka kaum elite di Indonesia merasa bahwa musik jazz merupakan musik untuk kalangan atas. Padahal musik jazz sendiri merupakan musik pemberontakan. Bagaimana orang-orang negro yang terlantar dan tertindas itu menciptakan musik sendiri diluar musiknya orang kulit putih, maka jazz itu adalah perlawanan terhadap kekuasaan, terhadap kemapanan. Pemberontakan pada musik jazz terlihat pada permainan yang penuh improvisasi dan tidak selalu mengikuti bentuk partitur seperti halnya pada musik klasik. Jadilah musik jazz itu sebagai bentuk perlawanan terhadap kemapanan dan hegemoni musik kulit putih. Tetapi yang terjadi di Indonesia adalah, kaum elite yang merasa berselera musik tinggi dengan menyukai musik jazz, sebetulnya tidak memiliki semangat asli dari kaum pemberontak yang mencetuskan musik jazz. Mereka hanya meniru-niru dan merupakan salah satu bentuk westernisasi (kebarat-baratan). Ini membuktikan bahwa kaum elite ataupun rakyat Indonesia hanyalah mengetahui kulit (bentuk luar) dari suatu kebudayaan. Terpengaruh budaya pop barat, lalu langsung membeo. Dan akibatnya, rakyat kita semakin tidak mampu untuk menyadari nasib yang dialami, tidak mampu melakukan sebuah pemberontakan, ataupun sebuah pencerahan.

Sebagai manusia, kita tentu memiliki banyak kebutuhan. Baik yang pokok dan mendasar maupun yang bersifat sekunder. Kebutuhan yang mendasar itu dapat berupa materi, seperti misalnya sandang, pangan dan papan. Dan dapat pula berupa non materi, seperti halnya kasih sayang, rasa ingin diakui keberadaannya. Tetapi ada pula kebutuhan-kebutuhan yang diciptakan. Terkadang kita membeli suatu barang yang sebetulnya bukan untuk memenuhi kebutuhan pokok, dan disebut kebutuhan sekunder. Kebutuhan-kebutuhan sekunder ini terjadi karena masalah gengsi yang timbul dalam masyarakat. Inginnya menunjukkan kekuasaan, ingin menunjukkan bahwa ia mampu (memiliki modal besar).

Dalam budaya pop, perempuan ditempatkan dalam dua posisi. Baik sebagai obyek dari budaya pop tersebut maupun sebagai konsumen, yang menentukan sebuah produk itu populer ataupun tidak. Perempuan sebagai obyek dalam budaya pop, ini pun berbeda-beda posisinya. Dalam sistem buruh ada sistem putting out system. Di mana produksi-produksi tertentu diserahkan pada ibu-ibu rumah tangga dan tidak terikat jam kerja. Sistem ini salah satu cara memaksimalkan tenaga kerja perempuan. Sistem lain dalam pabrik adalah mempekerjakan banyak tenaga kerja perempuan, tetapi tak jarang pula, bila produksi kerja menurun, justru perempuan yang lebih mudah diberhentikan.

Tak jarang, dalam budaya pop, perempuan digunakan sebagai daya tarik. Hanya dibutuhkan hal-hal fisik yang menarik darinya, kecantikannya ataupun kebagusan tubuhnya. Inilah yang dieksploitasi secara menyeluruh dalam pemakaian perempuan sebagai obyek dari produk budaya pop. Sebagai contoh, ada penyanyi yang sebetulnya tidak memiliki suara yang cukup bagus, tetapi tetap diorbitkan karena yang ditonjolkan adalah bentuk badannya yang indah. Di sini perempuan hanya diambil penampilannya saja. Ini berkaitan erat dengan budaya instant.

Perempuan di sini sebagai “penarik”. Terutama dalam budaya pop yang merupakan bagian dari kapitalisme-konsumerisme, yang sangat menonjolkan seks sebagai cara memikat konsumennya. Ini memiliki hubungan, karena dalam konsumerisme, terlihat suatu penunjukkan kekuasaan. Bila kita mampu membeli barang, lalu rasa gengsi. Karena itu seks pun menjadi simbol dari kekuasaan. Kekuasaan di sini merupakan perwujudan kekuasaan laki-laki, sebagai bagian dari sistem pathiarki. Kita dapat menunjukkan bahwa kita mampu memiliki sesuatu, dan menambah kesenangan walaupun sifatnya hanya sementara saja. Konsumerisme dan seksualitas sangat berkaitan erat, terutama dalam imbasnya terhadap perempuan. Penggunaan pesan-pesan dan imej-imej seksual sekarang sering terlihat memadati iklan-iklan yang ada. Dan ini menjadi bagian dari budaya pop. Hal-hal yang populer di masyarakat diangkat. Media bagi budaya pop tentu saja melalui film-film, video, musik dan media massa. Hal tersebut juga mencakup media cetak, televisa, radio dan iklan tentu saja. Media massa merupakan bentuk dari komersialisme. Karena lewat media massalah banyak hal dapat diinformasikan.

Meskipun seksualitas pada media massa dapat menampilkan laki-laki, tetapi justru seksualitas perempuan lebih ditonjolkan sebagai daya tarik untuk menjual sebuah produk. Banyak iklan yang menonjolkan tubuh perempuan berbalut pakaian ketat, yang sebetulnya produk yang diiklankan tidak berkaitan dengan tubuh perempuan, misal iklan motor. Banyak iklan yang menimbulkan kesan porno, padahal hanya lewat perkataan. Dan biasanya yang menjadi obyek adalah perempuan.

Tak hanya melalui iklan,  dalam dunia perfilman, video klip musik, bahkan panggung komedi banyak menonjolkan perempuan sebagai daya tarik melalui seksualitasnya. Ada artis yang tidak memiliki akting yang berkualitas tetapi karena bentuk fisiknya yang menarik, maka yang ditonjolkan adalah bentuk tubuh dan wajahnya. Terkadang ada artis yang sebetulnya memiliki bakat yang bagus, tetapi memilih memainkan peran yang dangkal. Dalam dunia musik pun berlaku hal yang sama. Ada penyanyi yang diorbitkan, hanya karena memiliki daya tari seksual yang tinggi. Padahal suara yang dimilikinya sangatlah pas-pasan. Dan herannya, tetap ada yang berminat, dan bukan karena suaranya, tetapi karena terpikat oleh bentuk tubuhnya yang cukup menggoda. Oleh para produser dan penjual iklan, mereka mengetahui bahwa bila pesan-pesan yang disampaikan bersifat seksual, maka akan lebih merangsang konsumen untuk membeli produk atau menikmati suatu komoditi.

Perempuan juga merupakan konsumen terbesar dalam budaya pop ini. Perempuan menjadi konsumen dan pembeli terbesar karena keputusan pembelian ada di tangan perempuan. Kita ketahui bahwa kehidupan sehari-hari tentu dikendalikan oleh perempuan. Sehingga bila produk-produk budaya pop ingin laku, harus mempertimbangkan selera perempuan dan kebiasaan-kebiasaan perempuan. Dalam bidang musik, remaja perempuan memiliki andil yang cukup besar untuk menentukan jenis musik budaya pop yang akan populer di masyarakat. Terlihat, ada jenis-jenis band yang sebetulnya tidak memiliki kualitas bagus, tetapi karena ditunjang tampang yang cukup menarik, banyak remaja perempuan yang “tergila-gila”. Sehingga itulah yang kemudian dipopulerkan dalam masyarakat.

Selera perempuan dan produk memang tidak dapat dipisahkan. Selera diperhitungkan dalam pembuatan produk. Tetapi bila produk yang ada tidak sesuai keadaan keuangan seseorang, maka selera pun disesuaikan. Dalam hal ini terlihat jelas peran kapitalisme, di mana orang yang memiliki modal lebih, lebih memiliki kuasa. Walaupun selera diperhatikan, tetapi gaya hidup pun harus diperhatikan. Perempuan sangat diperhatikan selera dan gaya hidupnya, karena perempuanlah yang menentukan suatu produk dapat menjadi populer ataupun tidak. Tetapi ironinya, di satu sisi perempuan juga yang menjadi obyek dalam budaya pop. Terutama dalam masyarakat Indonesia, yang sangat mudah terpengaruh budaya barat, sehingga perempuan lebih terekploitasi dalam mempopulerkan suatu budaya, suatu produk. Inilah yang harus kita perhatikan. Dengan cara memulai cara yang lebih ramah dalam mengkomersialkan suatu produk, tidak mengeksploitasi perempuan.

Leave a comment

No comments yet.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s