Media Pembentuk Citra Perempuan

Dalam perkembangan teknologi pada masa sekarang, informasi yang dibutuhkan oleh masyarakat semakin mudah didapatkan terutama melalui media massa. Masyarakat dapat dengan mudah mendapatkan informasi ataupun mencari hiburan yang mereka inginkan melalui televisi, radio, majalah maupun media-media lain. Media massa mampu mengambil alih peran dalam kegiatan komunal seperti acara kesenian bersama ataupun ibadah bersama dan berperan dalam mengartikulasikan kreativitas manusia, rasa humor dalam masyarakat, serta memberikan kegembiraan[1]. Dan semua itu hanya dengan semudah membalikkan halaman, menekan tombol, atau membeli karcis untuk menikmati hal-hal tersebut.

Media juga bersifat mendidik. Salah satunya adalah, melalui pemberian informasi mengenai tata cara kehidupan yang berbeda dengan kehidupan masyarakat yang menggunakan media tersebut. Sehingga media juga dapat berperan meruntuhkan prasangka antara orang ke orang dan membangun opini dalam masyarakat. Namun, ironisnya justru melalui media juga semakin dipatok secara tegas perbedaan posisi antar gender dalam masyarakat. Terlihat antara lain dalam salah satu cerita sinetron di mana perempuan digambarkan sebagai makhluk yang lemah. Walaupun tokohnya digambarkan sebagai perempuan yang mandiri, kuat, tetapi tetap tergantung pada laki-laki dalam kehidupannya. Contoh lain dalam iklan, seringkali perempuan lebih ditonjolkan daya tarik seksnya untuk menarik minat pemirsa ketimbang menonjolkan produk itu sendiri. Dan masih banyak tindakan lain melalui media massa yang menimbulkan kekerasan media. Melalui media, masyarakat melihat dan terpengaruh oleh apa yang mereka lihat maupun dengar. Sehingga media seringkali menjadi pendorong terjadinya kekerasan dalam masyarakat, terjadinya tindakan kriminal maupun penyimpangan seksual. Misal, terjadinya perampokan yang terpicu akibat menonton film yang mencakup adegan perampokan. Lalu karena terdesak faktor ekonomi, dan merasa sepertinya merampok itu semudah di film, maka ditirulah perampokan itu. Contoh lain, anak kecil yang menonton film yang sebetulnya bukan jangkauan umurnya, sehingga dia terlanjur melihat hal yang belum saatnya dia lihat, dan tidak ada yang memberi tahu sehingga terjadilah penyimpangan seksual.

Dampak negatif lain dari adanya media adalah kekerasan media. Kekerasan sendiri merupakan salah satu cara paling nyata di mana kekuasaan patriarki diperlihatkan dan dipelihara. Menurut kalangan feminis, tindak kekerasan dapat berupa pukulan, perkosaan, pembunuhan dan termasuk prosedur-prosedur yang melembaga seperti proses sterilisasi paksa ataupun paksaan terhadap perempuan untuk membesarkan anaknya dari kehamilan yang tidak ia kehendaki. Bagi sebagian feminis, kekerasan merupakan bentuk hubungan kekuasaan yang paling ekstrim. Dan ada yang menganggap bahwa laki-laki identik dengan kekerasan, maka sistem patriarkilah yang menampilkan kekerasan ke permukaan[2]. Tulisan para feminis mengenai Dunia Ketiga menggambarkan bagaimana kekerasan digunakan untuk melawan perempuan yang tidak mentaati aturan sosial. Mereka menyatakan kekerasan laki-laki digunakan untuk mengontrol perempuan di dalam aturan dan perilaku yang diperuntukkan bagi mereka dan menyatakan bahwa kekerasan secara khusus digunakan untuk mengontrol seksualitas perempuan dan peran reproduksinya[3]. Media merupakan sebutan untuk sarana penyampaian komunikasi dari komunikator ke komunikan. Media terbagi dalam media umum seperti telepon, telegram, faks daln lain-lain, serta media massa yang lebih memiliki karakter yaitu pers, radio, film dan televisi. Visualisasi tayangan-tayangan di televisi lebih gamblang mengkukuhkan dominasi patriarki. Tanpa kita sadari hal ini adalah satu bentuk kekerasan media terhadap perempuan.

Bentuk-bentuk dari kekerasan media dapat kita temui dalam film-film, iklan, maupun berita dimana objek dalam hal tersebut dipojokkan ataupun tereksploitasi. Hal yang paling menonjol adalah melalui iklan-iklan, baik iklan televisi, radio maupun media cetak. Iklan merupakan alat promosi barang dan jasa untuk dijual melalui media massa. Melalui iklan, dibentuklah sebuah citra demi kepentingan produk tersebut. Banyak kita temui iklan yang tidak ramah terhadap perempuan. Perempuan hanya sebagai objek yang ditonjolkan daya tarik seksnya, daripada menonjolkan produk itu sendiri. Tak jarang iklan-iklan tersebut mengarah ke arah erotisme maupun pornografi. Iklan-iklan itu dibuat dengan anggapan bahwa dengan daya tarik perempuan itu, akan lebih menarik minat konsumen. Ini membuat anggapan bahwa konsumen yang mendengar atau melihat iklan tersebut hanya laki-laki. Dalam hal ini terlihat jelas bahwa dengan mengeksploitasi tubuh perempuan, laki-laki mengukukuhkan kekuasaannya terhadap perempuan. Walau terlihat tidak ada tindakan kekerasan secara fisik, tetapi secara tidak langsung, iklan tersebut telah menjadikan perempuan sebagai objek yang ditindas dan terjadi dalam tayangan media massa. Masyarakat dibodohi dengan citra yang dibentuk oleh iklan. Citra perempuan yang terbentuk melalui iklan merupakan bentuk keinginan laki-laki untuk menunjukkan kekuasaannya dan melalui iklan, laki-laki mencoba menonjolkan bahwa mereka yang lebih cerdas dari perempuan. Contohnya, iklan motor, di mana seorang perempuan yang mengenakan pakaian yang seki duduk di atas motor, lalu ada laki-laki yang melihat perempuan yang sedang duduk di atas motor tersebut dan dia mengatakan, betapa “wow” badannya. Ini dapat menimbulkan arti yang ambigu. Lain lagi dengan iklan minuman suplemen energi, di mana ditampilkan seorang laki-laki yang setelah meminum minuman suplemen tersebut, dapat membuat istrinya tidak marah-marah lagi. Iklan-iklan seperti ini yang membuat pandangan dalam masyarakat mengenai perempuan buruk.

Tak hanya melalui iklan, dalam cerita-cerita film maupun sinetron, seringkali citra perempuan dibentuk sesuai keinginan laki-laki. Lagi-lagi sebagai bentuk pengukuhan akan kekuasaan mereka. Perempuan dalam film seringkali digambarkan lemah, sangat tergantung pada laki-laki. Walaupun tokoh perempuan dalam film digambarkan sebagai tokoh jagoan, yang mandiri, kuat tetapi tetap ditunjukkan bahwa mereka tetap sangat tergantung pada laki-laki. Sehingga tanpa kita sadari maupun tidak, timbul anggapan dalam masyarakat bahwa perempuan adalah makhluk yang lemah dan tergantung pada laki-laki.

Banyak kasus lain yang menggambarkan kekerasan media. Dan tak hanya menimpa perempuan. Anak-anak bahkan laki-laki pun dapat menjadi korban dari kekerasan media. Hal tersebut dapat dilihat terutama dengan semakin banyaknya acara yang menginformasikan mengenai kejadian-kejadian kriminal yang terjadi. Pelaku yang disorot tanpa menyamarkan wajah, membuat masyarakat mengetahui wajah pelaku dan mungkin menimbulkan rasa khawatir dalam masyarakat. Bisa saja pelaku merupakan orang terdekat ataupun tetangga dari pemirsa. Tak jarang keluarga tersangka ikut disorot. Mereka seakan-akan dipojokkan, padahal mereka bukan orang yang bersalah. Tampak di layar kaca bagaimana histerisnya keluarga tersangka, padahal kejadian tersebut seharusnya bukanlah hal yang patut dipertontonkan. Ada sebuah kejadian di mana seorang anak yang menjadi malu untuk sekolah maupun bermain bersama teman-temannya karena dalam sebuah berita televisi diberitakan bahwa ayahnya menjadi tersangka perampokan. Ini juga merupakan kekerasan media, di mana si anak menjadi objek yang terpojokkan. Sering pula tersangka, baik perempuan maupun laki-laki, dipukul atau disakiti secara fisik oleh polisi, yang kebanyakkan laki-laki,  dan diperlihatkan secara gamblang di televisi. Ini juga menunjukkan superioritas laki-laki, di mana dia merasa berkuasa terhadap yang lemah, walaupun objek yang lemah itu laki-laki.

Tak hanya tersangka ataupun keluarga korban, korban kejahatan itu sendiripun seringkali menjadi korban kekerasan media. Mereka diberi pertanyaan yang terlalu mendetail sehingga tak jarang memojokkan mereka. Sering pula perempuan yang menjadi korban tindak kejahatan malah semakin diperlihatkan sebagai makhluk yang lemah yang mudah menjadi sasaran kejahatan. Lebih dari itu, perempuan yang menjadi korban pelecehan seksual maupun perkosaan, juga seringkali malah dipojokkan dan terkesan mereka ikut punya andil dalam terjadinya tindak kejahatan tersebut.

Seharusnya media massa terutama dalam penyampaian informasi lebih dapat memandang dari seluruh sisi. Tidak memojokkan salah satu pihak, dan tidak menonjolkan pihak yang lain. Media massa lebih berperan sebagai penyampai informasi kepada masyarakat tanpa harus mengatur pandangan masyarakat terhadap sebuah informasi. Salah satunya dengan adanya media massa berperspektif gender. Perempuan tidak lagi sebagai objek yang dieksploitasi. Hal yang sama dapat dilakukan dalam pembuatan iklan. Apakah harus selalu menonjolkan tubuh perempuan untuk memasarkan sebuah produk? Seharusnya iklan pun lebih ramah gender, produklah yang diunggulkan, bukan model (dalam hal ini perempuan) yang menjadi daya tarik konsumen. Sehingga iklan yang dihasilkan akan lebih bermutu dan lebih cerdas. Dengan pemberitaan yang berimbang dan jurnalisme yang sensitif gender, kekerasan media akan lebih mudah untuk dihindari.


[1] Debra H. Yatim, Media dan Perempuan, Jurnal Perempuan edisi-6.

[2] Kata dan Makna. Jurnal Perempuan edisi-26.

[3] Maggie Humm, Ensiklopedia Feminisme.

(Tulisan ini pernah dimuat di Buletin Devian tahun 2004)

Leave a comment

No comments yet.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s