( )

Pertemuan kata, persoalan makna.

Katamu, maknaku. Kataku, maknamu.

diselingi jeda dalam irama adante bernada dasar D,

tanpa kata, penuh makna.

(Jatibarang.23052011)

Masochistic Happiness on Young Women and Girls in Media

“Strictly speaking,“women” cannot be said to exist.” (Julia Kristeva)

 

The statement from Julia Kristeva (1941— ), a linguist and feminist born in Bulgaria, opens a question related to the theme: “How do we identify women as herself? As a whole human being?” Women already become a social property since she was born. She could not understand herself besides from the others understanding. This formation begins from the family level, friends, schools, and also influenced by the media. In this modern time, media have expanded their scope into the social networks via internet, and making much easier for the spread of information. The implication of this modern technology is more affected on women. The stigma on women’s image was build since childhood to create a false consciousness—accepting the masochistic happiness. Continue reading

Mempertanyakan Kepemilikan Tubuh Perempuan

Tulisan ini merupakan tulisan saya yang telah diposting di web Jurnal Perempuan pada tanggal 30 November 2010.

http://www.jurnalperempuan.com/index.php/jpo/comments/mempertanyakan_kepemilikan_tubuh_perempuan/

Indonesia dirundung duka. Tidak hanya duka masyarakat atas kejadian alam yang baru saja terjadi, tetapi juga duka terhadap “malapetaka” atas matinya logika berpikir dalam masyarakat. Pernyataan demi pernyataan dari pemerintah sebagai reaksi atas isu perempuan ibarat letupan lahar “moral” yang membakar “hak warga negara” perempuan. Dimulai dari usulan tes keperawanan untuk siswa sekolah di Jambi hingga hasil survei keperawanan terhadap remaja di Jakarta. Beberapa isu yang justru keluar dari “mulut” instansi pemerintah tersebut mengalami penjelasan sebab-akibat yang tidak logis. Pada akhirnya bukan data yang dihadirkan melainkan asumsi sebagai pembenaran sepihak. Continue reading

Catatan 4 Tahun Komunitas Ungu

Selamat Ulang Tahun Komunitas Ungu

25 November yang lalu Komunitas Ungu merayakan ulang tahunnya yang ke-4. Bila disamakan dengan usia manusia, maka usia 4 tahun ini adalah fase balita yang masih membutuhkan peranan orang tua dalam membantu proses belajarnya. Jacques Lacan, seorang filsuf psikoanalisa dari Prancis bahkan mengkategorikan usia 4 tahun dalam fase cermin yang masih menirukan gerakan idola—dalam hal ini ibunya. Berangkat dari pemahaman sederhana semacam ini maka dapat dimaklumi apabila Komunitas Ungu masih dalam tahapan pencarian untuk menguatkan pondasi dalam lingkungan kampus. Continue reading

Terjebak di “Akademi Goa” Plato

Plato nampaknya sedang mempermainkanku. Ia membiarkan para pemujanya menculik dan merantaiku kembali dalam goa hipokrit yang mereka bangun untuknya. Mereka adalah sekelompok orang pemuja api. Padahal aku telah berhasil melarikan diri keluar dari goa tersebut. Aku sudah sempat terbebas dari rasa takut terhadap gelap di dalam goa. Lucunya, dulu Platolah yang mendorongku untuk membebaskan diri, tetapi kenapa sekarang ia yang membuatku terjebak dalam situasi ini lagi? Keisengan Plato sudah keterlaluan. Ia harus bertanggungjawab atas hal ini. Continue reading

Semiotika Melankolia Marja

Novel karya Ayu Utami yang berjudul Manjali dan Cakrabirawa (2010) merupakan roman misteri dalam seri novel Bilangan Fu. Kompleksitas kisah dalam Bilangan Fu melibatkan kisah Marja Manjali bersama kedua pemuda yang saling bersahabat, Sandi Yuda dan Parang Jati. Sejarah kelam Indonesia, unsur spiritualitas, dan rasionalitas melebur dalam romantisme penuh misteri. Kisah pada Bilangan Fu (2008) menyisakan tanya atas relasi makna ketiganya dan berlanjut lewat kesederhanaan kisah Manjali dan Cakrabirawa. Namun, kesederhanaan tersebut justru menciptakan multi-makna, yang muncul dari balik bayang-bayang kisah berupa kumpulan kebetulan. Kisah Manjali dan Cakrabirawa menunjukkan bahwa setiap kebetulan adalah garis interpretasi bagi penanda-penanda dalam ruang kata Ayu Utami. Continue reading

Catatan 21 April 2010

Indonesia dan 21 April, menjadi tanda atas memori perayaan Hari Kartini. Sebenarnya apa yang diinginkan melalui perayaan ini? Apakah ini menandai sebuah penghargaan terhadap perjuangan perempuan Indonesia? Ataukah justru sebagai penyempitan “pesta sehari” bagi perempuan? Ada yang beramai-ramai merayakan dengan pesta baju adat dan perlombaan-perlombaan “khas” perempuan. Sejak April datang, mal-mal berlomba-lomba mempromosikan potongan harga khusus untuk item-item perempuan. Berbagai talkshow bertemakan “perempuan” dihadirkan. Namun, ada pula yang mempertanyakan, kenapa harus Kartini? Bagi mereka Kartini adalah simbol dari Jawaisme pada era orde baru. Lalu dimana ruang perayaan bagi pahlawan perempuan lainnya?

Saya adalah perempuan yang menolak seluruh anggapan tersebut. Bagi saya, baik yang pro maupun kontra jelas terjebak pada atribut semata. Yakni ‘Hari Kartini’-nya saja. Perjuangan perempuan dapat dilakukan setiap hari. Sesekali ada hari peringatan tidak masalah, sebagai upaya untuk mengingatkan kembali sejarah kelam penindasan perempuan, sehingga semangat terus dikobarkan. Pesta bagi perjuangan perempuan bukanlah pesta hura-hura yang tetap terjebak pada “kenyamanan” patriarkal. Pesta bagi perjuangan perempuan adalah penciptaan teror! Teror untuk tidak terjebak pada titik nyaman yang disuguhkan patriarki.

Jebakan atributif pada hari perayaan telah mengikis makna perjuangan yang disampaikan. Kartini adalah perempuan kritis pada masanya yang telah menuliskan berbagai pemikiran revolusioner untuk kemajuan perempuan Indonesia. Seharusnya kita mengambil pengetahuan yang ia bagi. Kita harus mengingat bahwa kematiannya menjadi horor bagi kehidupan perempuan Indonesia. Kematian saat melahirkan adalah realitas yang masih dialami oleh banyak perempuan Indonesia di beberapa daerah. Lalu apakah kita mau melupakan tragedi ini dengan segala hura-hura berpakaian adat?

Kartini tidak menginginkan kain kebaya yang menghambat geraknya. Kartini menginginkan kemerdekaan bagi perempuan. Pemikirannya pada masa itu adalah teror bagi kehidupan nyaman. Ia menginginkan ketidaknyamanan yang membebaskan dirinya. Itulah yang seharusnya kita lanjutkan, sebagai perempuan Indonesia. Kritis adalah syarat utama untuk lepas dari belenggu kain patriarkal. Kritis akan membuka ribuan pertanyaan atas kenyamanan hidup, dan kemudian menghasilkan berbagai olahan ide untuk menggugah perubahan. Itulah teror pemikiran yang akan mengganggu patriarki.

Apabila Kartini melihat kondisi perempuan Indonesia pada masa kini, tentu ia tetap akan merasa miris. Kemajuan pesat yang telah diraih perempuan Indonesia, tidak diiringi dengan kemajuan pemikiran. Masih banyak jebakan stereotipe pada peranan perempuan di masyarakat. Masih banyak perempuan yang membenarkan anggapan “setinggi-tingginya kuliah, akhirnya di rumah juga”, sebagai cita-cita mulia, tanpa mau mengkritisi pilihan hidupnya. Masih tingginya angka kematian ibu saat melahirkan. Masih banyak perempuan yang dipoligami. Masih banyak aturan negara yang justru diskriminatif terhadap perempuan. Masih banyak KEGELAPAN!

Terang yang diinginkan Kartini bukanlah terang atribut yang menunjukkan “perempuan Indonesia sudah maju lho.” Terang yang diinginkan Kartini adalah kesetaraan perempuan untuk terlibat bersama laki-laki dalam kehidupan. Kesetaraan ini adalah kesetaraan peranan dalam keluarga dan juga kesetaraan hidup sebagai warga negara. Terang ini adalah keberanian perempuan untuk menggunakan rasionya secara kritis dan menyadari penuh pilihan hidup perempuan. Bukan untuk diatur dan dikondisikan dalam titik nyaman.

Semoga peringatan atas hari Kartini ini tidak menjadi euforia semata dan amnesia sesudahnya. Inilah penyakit yang harus kita lawan bersama. Baik perempuan maupun laki-laki Indonesia harus menyadari bahwa segala pesta atibutif adalah korupsi terbesar terhadap kritisisme manusia. Memaknai terang Kartini ibarat melanjutkan teror pemikiran Kartini yang melawan segala bentuk diskriminasi terhadap perempuan. Dimulai dari melawan rasa nyaman yang diberikan pada kita secara individual, maka kita akan memiliki pondasi kuat untuk melawan aturan-aturan patriarkal yang mengatur kehidupan perempuan dalam masyarakat.

Kritislah Perempuan Indonesia! Robeklah “kain patriarkal” yang membelenggu kalian. Berlarilah terus membawa terang perjuangan demi perubahan!

Salam,

Ikhaputri Widiantini

http://komunitasungu.weebly.com/1/post/2010/04/catatan-21-april-2010.html